Gorengan mungkin tampak sepele, tak jarang menjadi santapan saat senja ketika buka puasa Ramadhan. Namun di balik ”popularitasnya”, tersimpan persoalan kesehatan dan metabolik yang kompleks.
Di antara beraneka ragam makanan yang tersaji, gorengan menjadi salah satu makanan atau camilan favorit saat “war takjil” di bulan Ramadhan. Aromanya yang menggoda serta rasanya yang gurih dan renyah, mengundang selera untuk tidak melewatkannya sebagai camilan berbuka.
Setelah berjam-jam berpuasa, tubuh cenderung menginginkan makanan tinggi energi dan lemak. Gorengan memenuhi dua kebutuhan sekaligus, yaitu cepat mengenyangkan dan mudah diakses.
Harganya yang cenderung murah membuat orang merasa tak terbebani ketika menghabiskan banyak gorengan. Namun, di balik kenikmatan itu, tersimpan persoalan kesehatan masyarakat yang sering luput dari perhatian.
Banyak orang merasa hanya “makan ringan” saat berbuka, padahal satu potong gorengan bisa mengandung 100–200 kalori.
Banyak orang merasa hanya “makan ringan” saat berbuka, padahal satu potong gorengan bisa mengandung 100–200 kalori. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan, kebutuhan lemak total untuk orang dewasa maksimal 30 persen dari total asupan energi harian, lemak jenuh < 10 persen, dan lemak trans < 1 persen dari total energi harian.
Jika satu potong gorengan (bakwan, tahu isi, tempe goreng tepung) rata-rata mengandung 100–200 kkal atau 6–15 gram lemak, artinya, jika memakan 2–3 potong gorengan saja sudah bisa menyumbang 20–40 persen batas lemak harian. Jika dikonsumsi bersamaan dengan makanan berlemak lain, batas WHO bisa terlampaui.
Tanpa disadari, asupan energi harian melonjak tajam. Apalagi gorengan tidak hanya disantap sebagai makanan pembuka tetapi juga menjadi pelengkap makan utama.
Gambaran masyarakat Indonesia yang tak bisa lepas dari gorengan terbaca dari hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) yang dilakukan Kementerian Kesehatan tahun 2023.
Temuannya, dari penduduk yang berusia 3 tahun ke atas, sebanyak 37,4 persen mengonsumsi makanan berlemak atau berkolesterol. Singkatnya, gorengan satu kali per hari atau lebih. Artinya, sekitar dua dari lima penduduk setiap hari mengonsumsi minimal sepotong gorengan.
Selain itu terdapat 51,7 persen yang mengonsumsi makanan berlemak atau berkolesterol atau gorengan tersebut 1 sampai 6 kali per minggu. Sementara yang kategori jarang mengonsumsi, yaitu 3 kali per bulan atau kurang, sebanyak 11 persen.
Jika ditelisik karakteristik penduduk yang masuk kelompok 37,4 persen, terpotret makanan berlemak atau gorengan ini digemari merata di semua kelompok usia di rentang 30 hingga 39,8 persen.
Bahkan, kelompok lanjut usia (60 tahun ke atas) juga masih sering makan gorengan. Terbesar di kelompok usia remaja (10-14 tahun), (15-19 tahun), dan (35-39 tahun) yang melebihi 39 persen.
Kondisi ini perlu mendapat perhatian karena temuan WHO, angka obesitas pada orang dewasa di Indonesia melonjak dari 15,4 persen menjadi 23,4 persen hanya dalam sepuluh tahun. Sementara hampir satu dari lima remaja kini mengalami kelebihan berat badan.
Hasil survei juga mendapati, makanan berlemak atau gorengan ini menjadi menu primadona semua profesi. Jika dilihat dari status ekonomi, terlihat kelompok masyarakat ekonomi menengah, menengah bawah, dan menengah atas yang tinggi proporsinya. Juga terpotret masyarakat perkotaan lebih sering mengonsumsi gorengan dibanding perdesaan.
Fenomena ini terlihat makin kuat di wilayah padat penduduk. Data provinsi menunjukkan variasi yang mencolok. Jawa Tengah (54,2 persen) dan Jawa Barat (51,1 persen) menjadi daerah dengan proporsi tertinggi penduduk yang mengonsumsi gorengan ≥ 1 kali per hari.
Kemudian disusul DI Yogyakarta (46,4 persen) dan Jawa Timur (42,6 persen). Sebaliknya, beberapa wilayah timur relatif lebih rendah, seperti Nusa Tenggara Timur (12,2 persen) dan Papua Pegunungan (14,2 persen).
Distribusi ini mengindikasikan bahwa konsumsi gorengan bukan sekadar preferensi individu, melainkan bagian dari kultur pangan perkotaan dan wilayah dengan aktivitas ekonomi tinggi, tempat pedagang gorengan tumbuh subur terutama selama Ramadhan.
Angka tersebut juga menjadi alarm serius, terutama ketika Ramadhan di mana pola makan berubah drastis yang berpotensi memperburuk kebiasaan tersebut.
Dalam SKI, makanan berlemak/kolesterol/gorengan digolongkan ke dalam kelompok makanan berisiko pada penduduk umur 3 tahun ke atas yang meliputi konsumsi makanan/minuman manis, makanan asin, makanan yang dibakar, makanan daging/ayam/ikan olahan dengan pengawet, bumbu penyedap, soft drink atau minuman berkarbonasi, minuman berenergi, mi instan/makanan instan lainnya.
Jenis-jenis makanan tersebut digolongkan berisiko karena dapat memicu terjadinya penyakit degeneratif seperti jantung koroner, hipertensi, diabetes mellitus, dan kanker. Selain itu juga dapat menyebabkan obesitas.
Begitu bahayanya mengonsumsi gorengan, penelitian menunjukkan, konsumsi gorengan, makanan berlemak, atau yang mengandung kolesterol tinggi dalam jumlah kecil (sekitar 114 gram) dapat meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke sebesar 3 persen, risiko penyakit jantung sebesar 2 persen, dan risiko gagal jantung sebesar 12 persen.
Apalagi dari proporsi yang paling sering mengonsumsi yaitu ≥ 1 kali per hari, konsumsi gorengan berada di urutan kedua setelah konsumsi bumbu penyedap (73,8 persen) kemudian diikuti konsumsi makanan/minuman manis (33,7 persen).
Selain itu yang perlu digaris bawahi dari temuan survei adalah sebanyak 43,3 persen masyarakat mengonsumsi makanan berisiko tersebut tanpa tahu bahaya dan risikonya.
Hal inilah yang menjadi perhatian pemerintah karena Indonesia menghadapi krisis kesehatan yang semakin meningkat. Pangan olahan yang mengandung lemak jenuh, lemak trans, kini mendominasi persediaan pangan nasional. Produk pangan tersebut terjangkau, mudah diperoleh, dan banyak dipasarkan kepada konsumen.
Proses penggorengan, terutama dengan minyak berulang dapat menghasilkan lemak trans yang berbahaya bagi pembuluh darah. Tentu risiko bagi kesehatan akan meningkat jika dikonsumsi rutin saat berbuka dan sahur.
Dampak kesehatannya sangat serius. Lebih dari separuh kematian akibat penyakit jantung, hampir sepertiga kematian akibat stroke dan hampir seperlima kematian akibat diabetes, dapat dikaitkan dengan kebiasaan makan yang tidak sehat.
Salah satu aspek yang kurang mendapat perhatian adalah akumulasi pola makan saat Ramadhan. Banyak orang mengira konsumsi gorengan selama satu bulan tidak berdampak besar.
Padahal, perubahan ritme makan selama Ramadhan menciptakan efek metabolik berantai. Apalagi aktivitas fisik menurun setelah berbuka. Pembakaran kalori menjadi minim, sehingga lemak dari gorengan lebih mudah tersimpan.
Tingginya konsumsi gorengan juga mencerminkan literasi gizi yang belum merata. Banyak masyarakat memahami gorengan “kurang sehat”, tetapi tidak mengetahui batas aman konsumsi.
Tradisi makan gorengan tidak harus dihapus, apalagi sudah menjadi bagian dari budaya kuliner Indonesia. Namun, yang perlu dibangun adalah kesadaran mengukur proporsi dan frekuensi (LITBANG KOMPAS).
Serial Artikel
Gorengan untuk Menu Buka Puasa dan Sahur? Maksimal Dua Selama Ramadhan
Kebiasaan buruk mengonsumsi gorengan saat buka puasa bisa mempercepat risiko radang tenggorokan dan batuk.





