Tan Shot Yen, dokter dan ahli gizi masyarakat menegaskan konsumsi karbohidrat berlebihan saat sahur bukan cara efektif untuk menahan lapar selama berpuasa. Pola makan yang terlalu banyak mengandalkan nasi atau makanan manis justru berisiko membuat tubuh lebih cepat merasa lapar.
Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu meluruskan anggapan bahwa menambah porsi karbohidrat saat sahur akan memperkuat daya tahan tubuh sepanjang hari. Menurut dia, karbohidrat dalam jumlah besar—terutama yang bersifat sederhana—cepat diubah menjadi gula darah sehingga memicu fluktuasi energi.
“Yang pasti jadi gampang lapar karena cepat dicerna jadi gula darah. Tergantung juga dengan jenis karbonya,” ujar Tan seperti dilaporkan Antara, Jumat (20/2/2026).
Karbohidrat sederhana seperti gula pasir dan sirup diketahui cepat meningkatkan kadar glukosa. Kondisi tersebut mendorong tubuh memproduksi insulin untuk menurunkannya. Ketika kadar gula darah kembali turun dalam waktu singkat, rasa lapar pun muncul lebih cepat. Jika pola ini berlangsung terus-menerus, risiko gangguan metabolik seperti diabetes dapat meningkat.
“Jika sering terjadi dan rutin maka risiko diabetes muncul,” katanya.
Sebagai alternatif, ia menganjurkan konsumsi karbohidrat kompleks seperti nasi merah, ubi, atau jagung. Jenis ini lebih lambat dicerna sehingga membantu menjaga kestabilan gula darah dan memberikan rasa kenyang lebih lama.
“Jika karbo kompleks seperti nasi merah, ubi, jagung, biasanya kita tidak mungkin makan banyak-banyak,” ujarnya.
Selain jenis karbohidrat, Tan menekankan pentingnya asupan serat saat sahur. Serat berperan memperlambat penyerapan gula sekaligus membantu mempertahankan rasa kenyang sepanjang hari. Ia mengingatkan agar menu sahur tetap mengikuti prinsip gizi seimbang, bukan sekadar menambah satu jenis zat gizi tertentu.
Dengan komposisi yang tepat, energi tubuh dapat terjaga stabil selama puasa tanpa lonjakan gula darah berulang yang membebani metabolisme.(ant/iss)




