FAJAR, JAKARTA – Teknologi VAR mendadak hilang di laga Persija vs PSM. Insiden teknis ini memicu protes keras dari Tomas Trucha dan Mauricio Souza. Laga di Jakarta International Stadium (JIS), Jumat (20/2/2026) tersebut menimbulkan tanda tanya.
Pelatih PSM Makassar, Tomas Trucha, tidak dapat menyembunyikan keheranannya. Baginya, ketiadaan VAR di laga sekasta Super League adalah sebuah anomali yang buruk bagi citra sepak bola nasional.
“Satu hal yang aneh bagi saya, dan sangat tidak baik untuk sepak bola Indonesia. Pertandingan ini tidak menggunakan VAR,” ujar Trucha dengan nada kecewa.
Ia menekankan bahwa laga ini melibatkan dua dari lima klub pendiri Liga Indonesia. Dengan sejarah yang begitu besar, Trucha menilai penonton di stadion maupun di rumah berhak mendapatkan standar pertandingan yang profesional.
Absennya VAR dianggap Tomas Trucha sebagai penurunan pelayanan terhadap kualitas kompetisi dan publik.
Senada dengan rivalnya, nakhoda Persija Jakarta, Mauricio Souza, juga menyesalkan kejadian tersebut. Menurutnya, VAR adalah alat krusial untuk meminimalisasi keraguan wasit dalam mengambil keputusan penting di lapangan.
“Saya rasa sangat disayangkan tidak ada VAR. Jika ada keraguan dalam permainan, VAR bisa mengklarifikasinya, terutama melalui intervensi yang tepat,” ungkap Souza.
Meski merasa dirugikan secara sistem, Souza menyadari bahwa masalah ini berada di luar kendali tim pelatih. Ia menyebut bahwa pihak I.League selaku operator telah memberikan peringatan sebelum laga dimulai mengenai kegagalan sistem tersebut.
Jalannya Laga
Meski dibayangi isu teknis, atmosfer di lapangan tetap membara. Laga pembuka Super League di bulan Ramadhan ini mempertemukan dua kekuatan besar sepak bola Indonesia, Persija Jakarta dan PSM Makassar. Tuan rumah berhasil mengamankan poin penuh dengan skor tipis 2-1.
Gol kemenangan Macan Kemayoran disumbangkan oleh Alaeddine Ajaraie pada menit ke-30 dan digandakan oleh Maxwell Souza di menit ke-67.
Sementara itu, Juku Eja hanya mampu membalas satu gol melalui aksi Sheriddin Boboev di menit ke-37.
Sayangnya, performa impresif kedua tim justru ternoda oleh absennya teknologi Video Assistant Referee (VAR) yang sejak awal musim menjadi standar kompetisi.
Mengapa VAR Menjadi Isu Serius?
Hilangnya VAR di tengah musim yang sedang berjalan menciptakan tanda tanya besar.
Keberadaan VAR di laga-laga sebelumnya namun absen di laga krusial seperti Persija vs PSM menciptakan ketidaksetaraan (unfairness). Keputusan manual wasit tanpa bantuan teknologi berisiko menimbulkan polemik hasil pertandingan.
Kesalahan teknis pada infrastruktur sekelas JIS menunjukkan adanya celah dalam pemeliharaan atau koordinasi antara operator liga dan penyedia teknologi. Ini bisa menurunkan kepercayaan sponsor dan pemegang hak siar.
Tanpa VAR, beban keputusan sepenuhnya kembali ke pundak wasit utama. Di liga dengan tensi tinggi seperti Super League, hal ini meningkatkan risiko protes berlebihan dari pemain dan ofisial.
Label “Super League” seharusnya merepresentasikan kasta tertinggi dengan standar teknologi terbaik. Kejadian “mendadak lenyap” ini memberi kesan amatir pada pengelolaan liga profesional. (*)





