TABLOIDBINTANG.COM - Penampilan resmi pertama G-Dragon di Timur Tengah pada 17 Februari lalu berakhir dengan kekecewaan.
Konser Krazy Super Concert di Dubai yang berlangsung di Dubai Media City Amphitheater, Uni Emirat Arab, sejatinya menjadi momen simbolis bagi ikon K-pop tersebut. Namun, promosi yang dinilai terburu-buru serta perencanaan yang kurang matang dari penyelenggara Pu1se Events disebut mengurangi makna acara tersebut.
Seorang promotor lokal yang enggan disebutkan namanya menilai jadwal persiapan yang singkat menjadi akar berbagai persoalan. Pengumuman konser disebut dilakukan kurang dari satu bulan sebelum hari pelaksanaan dan bertepatan dengan hari pertama Ramadan.
“Susunan artis terasa acak. Venue itu lebih cocok untuk band rock seperti The Rose atau Day6, bukan untuk pertunjukan K-pop berskala besar. Selain itu, konser digelar pada hari kerja, Selasa, bukan akhir pekan,” ujarnya.
Berbeda dari konser K-pop pada umumnya yang menampilkan banyak grup idola, acara di Dubai ini lebih berpusat pada G-Dragon dan Jay Park. Artis Tionngkok Kun hadir sebagai tamu spesial, sementara Kim Jong-kook—yang berada di bawah naungan agensi yang sama dengan G-Dragon—serta mantan anggota girl group Yerin dan Yein juga tercantum dalam daftar penampil.
Kekecewaan juga datang dari sejumlah penonton. Di media sosial resmi acara, beberapa pemegang tiket VIP mengeluhkan tidak mendapatkan akses masuk lebih awal sesuai janji. Mereka mengaku baru diizinkan masuk sekitar 10 menit sebelum konser dimulai, sehingga keuntungan utama yang dijanjikan tidak terpenuhi.
Konser ini menyusul acara K-pop lain yang juga menuai kritik di UEA pada November 2025, yakni Dream Concert Abu Dhabi. Acara tersebut, yang dipromotori Theory Eleven Entertainment bersama Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Abu Dhabi serta Miral, dikritik akibat perubahan mendadak dalam susunan artis dan fasilitas VIP yang tidak terpenuhi.
Seorang pejabat industri menilai insiden-insiden ini mencerminkan kurangnya pemahaman terhadap budaya fandom K-pop dan lemahnya koordinasi antarpihak penyelenggara. “Mereka gagal memahami ekspektasi penggemar K-pop. Terjadi miskomunikasi dengan perantara yang membuat janji berlebihan soal line-up. Beberapa grup tidak hadir secara lengkap, bahkan sesi soundcheck pun ditangani dengan buruk,” ujarnya.
Menurutnya, meski Pu1se Events pernah menggelar pertunjukan di China, Asia Tenggara, dan Amerika Serikat, konser G-Dragon ini merupakan acara K-pop pertama mereka di Timur Tengah. Tanpa dukungan promotor lokal yang memadai, penyelenggara dinilai salah memperhitungkan waktu dan susunan artis.
“Siapa yang menjadwalkan konser outdoor besar di Dubai pada hari pertama Ramadan?” pungkasnya.




