Tiga ekor unta berjalan bersantai didampingi para keeper atau penjaga satwa di Pantai Kelan, Kabupaten Badung, Bali menarik perhatian wisatawan, Jumat (20/2) sore. Para wisatawan dibuat penasaran alasan di balik kehadiran unta di pantai.
"Awalnya aku lagi jalan-jalan di Pantai Kelan terus liat unta lewat di pinggir pantai terus aku penasaran. Kok bisa ada unta di pantai itu. Sangat jarang ada unta di Bali apalagi di pantai," kata salah satu wisatawan bernama Karin (25 tahun) sembari mengambil video unta-unta itu di Pantai Kelan.
Unta dari AustraliaSalah satu keeper bernama Ivan Prihardika (laki-laki, 30 tahun) mengatakan, kehadiran unta-unta ini untuk mendukung pariwisata di wilayah pantai Kelan. Wisata menaiki unta sudah ada sejak tahun 2017.
Dia mengatakan, kini, Pantai Kelan tak hanya dikenal dengan pemandangan matahari terbenam dan kedekatannya dengan bandara, tetapi juga sebagai destinasi wisata unik yang menawarkan pengalaman menunggangi unta di sepanjang pesisir pantai.
"Kami memang menyediakan wahana naik unta di sekitar Pantai Kelan sejak tahun 2017," lalu katanya kepada wartawan.
Ivan mengatakan, unta-unta ini jenis punuk satu yang didatangkan dari Australia, bukan kawasan Arab atau Timur Tengah. Menurutnya, populasi unta saat ini bahkan paling banyak ditemukan di Australia.
"Jadi di sana unta pada diburu dan termasuk hewan liar. Kalau pemerintah Australia itu setahu saya sebenarnya ingin mengurangi populasi unta," sambungnya.
Pengelola memilih unta karakternya masih sesuai dengan habitat asli, yaitu hidup di daerah gersang, berpasir dan daerah panas.
"Kalau hujan biasanya istirahat dulu (tak ada atraksi unta) soalnya kalau unta kena hujan kan riskan, bisa sakit," katanya.
Ivan baru dua bulan bekerja sebagai keeper unta, namun dia sudah bertahun-tahun bekerja di sebuah kebun binatang sebagai mahout gajah. Menurutnya, karakter unta ini mirip sapi, yaitu penurut sehingga mudah jinak.
"Biar gak ngamuk itu kita itu pendekatan dulu sering ngasih makan, terus diajak interaksi kayak gitu lalu membangun rasa saling percaya antara kita sama hewannya," katanya.
Jenis makannya juga mirip dengan memelihara sapi, yaitu mengkonsumsi tanaman berupa rumput sebanyak tiga kali sehari dan diberikan tambahan dedak atau polar sebagai konsentrat nutrisi.
Menurutnya, sebagian besar wisatawan yang tahu ada wahana unta di Pantai Kelan berasal dari Taiwan, Jepang dan Australia.
Dia berharap semakin banyak wisatawan yang mengetahui keberadaan wahana ini di Pantai Kelan. Apabila di masa liburan rata-rata jumlah pengunjung sekitar 20 orang, sedangkan pada hari biasa sekitar 5 orang.
Tarif naik unta bagi wisatawan domestik selama 15 menit sekitar Rp 150 ribu dan Rp 200 ribu untuk 30 menit. Sedangkan, bagi wisatawan asing Rp 400 ribu untuk 15 menit dan Rp 550 ribu untuk 30 menit.





