LOS ANGELES (Realita) - Dunia perfilman Hollywood lagi panas dingin. Sutradara legendaris di balik mahakarya Titanic dan Avatar, James Cameron, baru saja melempar "bom" ke arah raksasa streaming Netflix.
Isunya nggak main-main: Netflix dikabarkan sedang mengincar Warner Bros. Discovery (WBD) dalam kesepakatan gila-gilaan senilai $83 miliar (sekitar Rp1.300 triliun).
Baca juga: Digeruduk Kompetitor, Netflix Turun Harga
Bukannya senang, James Cameron justru melihat ini sebagai awal dari "kiamat" bagi industri bioskop. Dia bahkan sampai mengirim surat terbuka yang sangat pedas ke Senat Amerika Serikat untuk menjegal langkah ini.
Cameron, yang dikenal sebagai pembela garis keras layar lebar, merasa kalau Warner Bros jatuh ke tangan Netflix, maka nilai artistik dari sebuah film akan hilang dan cuma jadi "konten" belaka.
Dalam salah satu pernyataannya, Cameron menekankan:
"Saya sangat yakin kalau rencana penjualan Warner Brothers Discovery ke Netflix bakal jadi bencana buat bisnis film bioskop, dunia yang sudah saya dedikasikan seluruh hidup saya di sana. Tentu, film-film saya juga tayang di platform digital nantinya, tapi cinta pertama saya tetaplah bioskop," ucapnya dilansir dari MovieWeb (21/2).
Cameron mengingatkan pemerintah kalau dia bukan cuma bikin film buat cari untung, tapi dia pionir yang memajukan teknologi biar pengalaman nonton di bioskop makin mind-blowing.
Lewat sistem produksi 3D digital, VFX canggih, sampai high frame rate, semua itu dia bikin khusus buat layar raksasa, bukan buat ditonton di HP atau laptop sambil rebahan.
Menurut Cameron, model bisnis Netflix yang fokus pada streaming bakal membunuh ekosistem bioskop. Dia khawatir film-film besar dari Warner Bros nantinya cuma bakal mampir sebentar di bioskop sebelum akhirnya terkubur di dalam algoritma aplikasi.
"Menampilkan film di bioskop adalah bagian krusial dari visi kreatif saya. Saya sangat percaya pada layar lebar," tegas Cameron dalam pernyataannya.
Sutradara kondang ini nggak cuma asal bicara. Dia memprediksi kalau merger ini terjadi, dampaknya bakal domino.
"Ini bukan cuma soal uang, ini soal ribuan lapangan kerja. Jika Warner Bros berubah menjadi pabrik konten streaming, ribuan pekerja teknis di bioskop dan distribusi film akan kehilangan tempat. Kita sedang melihat potensi bencana besar yang akan mengubah wajah Hollywood selamanya," tegas Cameron dalam suratnya.
Baca juga:
Revolusi Visual Avatar 4 & 5: Lebih Photorealistic
Dia merasa Netflix terlalu rakus akan kekuasaan politik dan ekonomi di industri hiburan. Baginya, membiarkan satu perusahaan mengontrol distribusi digital sekaligus perpustakaan film legendaris seperti milik Warner Bros adalah kesalahan fatal.
Bos Netflix, Ted Sarandos, sebenarnya sudah mencoba mendinginkan suasana. Dia berjanji akan tetap menayangkan film-film Warner Bros di bioskop selama minimal 45 hari sebelum masuk ke aplikasi. Namun, bagi Cameron, itu cuma janji manis di atas kertas.
Menariknya, di tengah perlawanannya terhadap Netflix, Cameron justru terlihat lebih "adem" saat membahas potensi akuisisi oleh Paramount Skydance.
Dia merasa Paramount masih punya "darah" bioskop yang kental dan lebih mengerti bagaimana cara menghargai sebuah film sebagai karya seni, bukan sekadar komoditas digital.
Sekarang, bola panas ada di tangan regulator pemerintah Amerika Serikat. Apakah mereka akan mendengarkan peringatan keras dari sang "Raja Box Office", atau justru membiarkan Netflix makin berkuasa dan mengubah cara kita menonton film selamanya?
Satu yang pasti, James Cameron nggak akan tinggal diam melihat "anak kesayangannya", yaitu layar lebartenggelam begitu saja.ik
Editor : Redaksi





