Diancam Trump, Iran Optimistis Capai Kesepakatan Damai dengan AS

bisnis.com
5 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan pihaknya siap berdamai dan membuka ruang diplomasi dengan Amerika Serikat (AS), menandakan peluang tercapainya kesepakatan di antara kedua negara masih terbuka meski tekanan dari Washington terus meningkat.

Dalam wawancara dengan jaringan televisi AS, MS NOW, pada Jumat (20/2/2026) waktu setempat, Araghchi menegaskan program nuklir Iran tidak memiliki solusi militer.

“Solusi diplomatik ada dalam jangkauan; kita dapat dengan mudah mencapainya,” ujarnya dikutip dari Al Jazeera, Sabtu (21/2/2026).

Araghchi juga mengkritik peningkatan besar-besaran kehadiran militer AS di Timur Tengah, termasuk pengerahan dua kapal induk dan puluhan jet tempur, yang dinilainya “idak perlu dan tidak membantu.

“Saya sudah 20 tahun berkecimpung dalam diplomasi dan bernegosiasi dengan berbagai pihak. Saya tahu kesepakatan bisa dicapai, tetapi harus adil dan berbasis solusi saling menguntungkan,” kata diplomat senior Iran tersebut.

Dia memperingatkan bahwa opsi militer hanya akan memperumit situasi dan berpotensi menimbulkan konsekuensi “bencana”, bukan hanya bagi Iran, tetapi juga kawasan dan komunitas internasional.

Baca Juga

  • Ketegangan AS-Iran Memuncak, Trump Beri Tenggat 15 Hari untuk Negosiasi
  • Harga Minyak Global Memanas Dipicu Ultimatum Trump ke Iran
  • DED KRL SURABAYA MULAI DIRANCANG

Beberapa jam setelah wawancara itu, Presiden AS Donald Trump ditanya mengenai kemungkinan serangan terbatas terhadap Iran untuk memperkuat posisi negosiasi Washington.

“Saya kira bisa saya katakan bahwa saya sedang mempertimbangkan itu,” ujar Trump kepada wartawan.

Araghchi sebelumnya menegaskan bahwa rakyat Iran adalah bangsa yang besar dan hanya merespons pada sikap saling menghormati.

“Pemerintahan AS sebelumnya, bahkan pemerintahan saat ini, telah mencoba hampir segala cara terhadap kami — perang, sanksi, dan lainnya — tetapi tidak ada yang berhasil,” tegasnya.

AS dan Iran telah menggelar dua putaran perundingan dalam sebulan terakhir, dan pejabat dari kedua negara menyebut pembicaraan berlangsung positif. Namun, pemerintahan Trump tetap memperkuat aset militernya di sekitar Iran.

Sejumlah situs pelacak kapal pada Jumat melaporkan kapal induk terbesar di dunia, USS Gerald R. Ford, memasuki Laut Mediterania melalui Selat Gibraltar dalam perjalanan menuju kawasan Teluk.

Sehari sebelumnya, Trump menyatakan Teheran memiliki waktu 10 hari untuk mencapai kesepakatan dengan Washington, sebelum kemudian memperpanjang tenggat menjadi hingga 15 hari. Pekan lalu, dia menyebut kesepakatan seharusnya dapat dirampungkan dalam satu bulan.

Trump juga berulang kali melontarkan ancaman terhadap Iran, termasuk peringatan akan konsekuensi sangat keras dan traumatis.

AS sebelumnya bergabung dengan Israel dalam serangan terhadap Iran pada Juni tahun lalu dan mengebom tiga fasilitas nuklir utama negara tersebut. Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengklaim serangan itu melumpuhkan program nuklir Iran.

Ketegangan kembali meningkat pada akhir tahun lalu ketika Trump mengancam akan melancarkan kembali serangan jika Iran membangun ulang program nuklir atau arsenal misilnya.

Status terkini program nuklir Iran belum dikonfirmasi oleh pemantau internasional, dan keberadaan uranium yang diperkaya tingkat tinggi belum diketahui publik.

Teheran menegaskan haknya untuk melakukan pengayaan uranium dan menyatakan langkah itu tidak melanggar komitmen dalam Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT).

Namun, Trump dan para pembantunya sebelumnya menyatakan menginginkan Iran membongkar sepenuhnya program nuklirnya.

Pengayaan merupakan proses pemisahan isotop langka uranium yang dapat menghasilkan fisi nuklir. Pada tingkat rendah, uranium diperkaya digunakan untuk pembangkit listrik. Jika diperkaya hingga sekitar 90%, bahan tersebut dapat digunakan untuk senjata nuklir.

Iran, yang membantah tengah mengembangkan bom nuklir, menyatakan siap menerima pengawasan ketat dan pembatasan atas aktivitas pengayaan, tetapi tidak akan menghentikan program tersebut sepenuhnya.

Pada Jumat, Araghchi menyebut pihak AS tidak meminta nol pengayaan, pernyataan yang tampak bertentangan dengan sikap publik pemerintahan Trump sebelumnya.

Dia menambahkan, langkah selanjutnya dalam perundingan adalah Iran akan menyerahkan proposal tertulis kepada negosiator AS yang dipimpin utusan khusus Trump, Steve Witkoff. Setelah itu, kedua pihak akan merampungkan teks kesepakatan.

“Kami kemudian diminta menyiapkan draf kesepakatan. Pada pertemuan berikutnya, kami dapat membahas draf tersebut dan mulai menegosiasikan bahasanya, serta berharap mencapai kesimpulan.”


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ajukan Amicus Curiae untuk Terdakwa Kasus Minyak Mentah, Mantan Jamintel Soroti Tuntutan JPU
• 3 jam lalukompas.tv
thumb
Surya Paloh Tanggapi Usulan Prabowo Dua Periode: Nanti Kita Pikirkan
• 1 jam laluliputan6.com
thumb
Sholawat sebagai Support Energi
• 46 menit laluterkini.id
thumb
Rekomendasi Kegiatan Ngabuburit Jadi Lebih Berkah
• 5 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Dony Oskaria-Andre Rosiade Sebut Sepablock Standar Hunian Tetap Pascabencana
• 16 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.