Tips Menurunkan Berat Badan Konsisten dan Sehat Saat Ramadan

metrotvnews.com
9 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Saat Ramadan, manajemen pola makan yang tepat menjadi tantangan. Sementara, momentum puasa juga jadi peluang bagi masyarakat untuk mencapai berat badan ideal secara konsisten.

Salah satunya keberhasilan peserta LIGHTweight Challenge (LWC) 2025 dalam menurunkan berat badan hingga 19 kilogram. Keberhasilan ini butuh pendampingan ahli dan pemahaman nutrisi yang menjadi kunci utama diet sehat.

"Mengikuti coaching dari ahli gizi memberikan saya pemahaman baik terkait nutrisi. Ini bekal penting karena sudah menjelang Ramadan. Dulu saya bisa kalap saat buka puasa, tapi sekarang sudah paham makanan mana yang lebih baik dikonsumsi," ujar salah satu pemenang LWC 2025, Herfiena Oshita, 37, di Jakarta, dikutip dari Media Indonesia, Sabtu, 21 Februari 2026.
 

Baca Juga :

Konsumsi Nasi atau Minuman Manis Berlebih Saat Sahur Tak Menjamin Kuat Puasa

Herfiena yang berhasil menurunkan bobot lebih dari 19 kilogram menekankan bahwa perubahan gaya hidup dan pola pikir jauh lebih penting daripada sekadar angka di timbangan. Senada dengan hal itu, pihak LIGHThouse Clinic menegaskan bahwa penurunan berat badan bukan terjadi secara instan akibat puasa satu hari, melainkan hasil dari komitmen jangka panjang.

"Berat badan turun bukan karena puasa satu hari, tetapi defisit kalori yang konsisten. Ramadan adalah momen membangun pola makan lebih terkontrol," kata Nutrition Program Manager LIGHThouse Clinic, Veronica.

Untuk menjaga hasil penurunan berat badan tetap optimal selama bulan suci, dia membagikan tiga panduan sederhana. Pertama, saat sahur konsumsi makanan tinggi protein dan berkuah untuk hidrasi. 

Kedua, hindari gorengan dan makanan berlemak saat berbuka. Ketiga, bagi penderita GERD, hindari makanan pedas, asam, serta pemicu gas.


Ilustrasi. Foto: Freepik.com.

Chief Marketing Officer LIGHT Group, Anna Yesito Wibowo, menambahkan bahwa tantangan pejuang diet kini semakin variatif, baik dari faktor internal maupun eksternal. Pendampingan dokter, ahli gizi, dan psikolog selama 12 minggu dalam program bertujuan agar pasien mampu membentuk pola pikir baru yang berkelanjutan.

"Kami selalu siap memberikan pendampingan agar pasien mampu membentuk pola pikir baru dan kebiasaan sehat jangka panjang, terutama dalam menghadapi tantangan lingkungan di sekitar kita," ucap Anna.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Gagal Rampok Bank, Pria Bangladesh Terkunci 9 Jam dalam Brankas
• 43 menit laluokezone.com
thumb
BMKG NTB Imbau Masyarakat Lombok Barat Waspadai Hujan Lebat hingga 28 Februari
• 20 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Borok Suami Dwi Sasetyaningtyas Dikuliti Netizen: Arya Iwantoro Diduga Pengemplang LPDP, Lulusan ITB yang Nyaman di Inggris!
• 10 jam laluharianfajar
thumb
Malut United Curi Satu Poin di kandang Semen Padang, Hendri Susilo:Hasil yang Patut Disyukuri
• 13 jam lalukompas.tv
thumb
Kata Hamas soal ISF yang Indonesia Jadi Wakil Komandannya
• 9 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.