Malang: Tabuhan kentongan bersahut-sahutan memecah sunyi dini hari di Kampung Budaya Polowijen, Kota Malang, Jawa Timur. Di sela ritme kayu yang dipukul berulang, penari Topeng Malangan melangkah menyusuri gang sempit, membangunkan warga untuk sahur dengan cara yang tak biasa.
Inilah wajah unik Sahur On The Road (SOTR) yang digelar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) pada Jumat, 20 Februari 2026. Alih-alih konvoi kendaraan atau pengeras suara, mahasiswa memilih menghidupkan tradisi lokal sebagai medium membangunkan sahur.
Sahur On The Road (SOTR) unik di di Kampung Budaya Polowijen, Kota Malang/Dok. Mahasiswa KKN UMM.
Kentongan dijadikan instrumen utama yang mengikat suasana kampung. Sementara penari Topeng Malangan hadir sebagai simbol identitas budaya yang selama ini melekat di Polowijen.
“Kegiatan ini menjadi pengalaman baru bagi warga. Selama ini belum pernah ada keliling kampung membangunkan sahur dengan iringan penari topeng seperti ini. Ini pertama kalinya terjadi di sini,” ujar penggagas Kampung Budaya Polowijen, yang akrab disapa Ki Demang, Sabtu 21 Februari 2026.
Baca Juga :
Masjid Zayed Solo Bagikan 7.000 Takjil Selama RamadanSetelah patroli keliling kampung, kegiatan berlanjut dengan pertunjukan Tari Topeng Malangan di titik yang dikenal warga sebagai Pawon. Gerak khas dengan karakter topeng yang kuat menjadi puncak suasana sahur yang sarat nuansa budaya.
“Tari Topeng Malangan bukan hanya tontonan, tetapi warisan leluhur yang menyimpan nilai karakter dan jati diri masyarakat Malang. Begitu juga kentongan, bukan sekadar dipukul untuk membangunkan sahur, tetapi alat komunikasi warga yang memiliki makna sosial. Ketika keduanya dipadukan dalam patroli sahur, ini menjadi sumbangsih yang besar,” tambah Ki Demang.
Sahur On The Road (SOTR) unik di di Kampung Budaya Polowijen, Kota Malang/Dok. Mahasiswa KKN UMM.
Kepala Humas UMM, Maharina Novia Zahro, menjelaskan konsep SOTR tahun ini memang dirancang sebagai kolaborasi sosial dan budaya. Mahasiswa KKN didorong membangun kedekatan dengan masyarakat berbasis kearifan lokal, bukan sekadar menjalankan agenda berbagi.
“Mengangkat Tari Topeng dalam momentum sahur bukan sekadar memperkuat identitas budaya, tetapi juga menghadirkan pengalaman spiritual yang menyatu. Kentongan menjadi simbol solidaritas, sementara tari topeng merepresentasikan warisan budaya yang tetap hidup di tengah masyarakat,” ujar Maharina.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan santap sahur bersama yang didukung Hotel Kapal Garden dan Sengkaling Kuliner. Mahasiswa dan warga duduk berdampingan menikmati hidangan selepas patroli dan pertunjukan usai.
Suasana hangat itu menegaskan Ramadan bukan hanya tentang ibadah personal, tetapi juga ruang mempererat relasi sosial. Di Polowijen, Sahur On The Road tak sekadar membangunkan warga, melainkan menghidupkan kembali denyut budaya lokal di tengah Kota Malang.




