BANDUNG, DISWAY.ID -- Peran Muhtadin Yanto (33) sebagai wali asrama di Asrama Putra Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 9 Kota Bandung, Jawa Barat, jarang tersorot kamera.
Dari tangan dinginnya, karakter siswa terbentuk positif.
"Kita beban moralnya itu, harus mendampingi anak selama di asrama, karena memang di asrama itu ya bisa dibilang tiga kali jam (pelajaran) sekolah," kata Muhtadin saat ditemui beberapa waktu lalu.
BACA JUGA:Eks Wakil Ketua KPK Sentil Kasus Korupsi Minyak Mentah Sarat Kriminalisasi dan Konflik Kepentingan
BACA JUGA:Bahlil: Impor Energi US$15 Miliar dari AS Tak Tambah Volume, Hanya Alihkan Sumber
SRMP 9 Kota Bandung saat ini mengampu 47 siswa, terdapat dua gedung asrama untuk siswa putra dan putri dan masing-masing asrama diampu oleh satu orang wali asrama.
Seorang wali asrama, bukan hanya bertugas menjaga dan memastikan kebutuhan siswa di asrama terpenuhi.
Ia juga memastikan para siswa bisa bangun pagi, mengikuti kegiatan sesuai jadwal, hingga tidur tepat waktu.
Mendidik anak-anak dengan latar belakang berbeda bukanlah perkara mudah. Perlu pendekatan khusus dan ketegasan dalam membangun kedisiplinan di asrama.
"Ya memang buat pengondisian, tiga bulan awal lumayan repot ya pembiasaannya," ujar Muhtadin.
BACA JUGA:Indonesia Resmi Kuasai 63 Persen Freeport, Tambahan 12 Persen Saham Gratis
BACA JUGA:Praktisi Kritisi Pasal yang Kerap Seret Pebisnis Terjebak dalam Korupsi
Selain mengajarkan kedisiplinan dan kemandirian, Muhtadin berupaya mengubah perilaku kurang baik pada siswa.
Tidak jarang ia menemukan beberapa kenakalan yang dilakukan siswa di asrama, seperti berbicara kasar dan bertengkar sesama siswa.
- 1
- 2
- »





