Kebiasaan Ngopi Bisa Bikin Gen Z Sulit Punya Rumah?

kompas.com
4 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com – Meminum kopi bukan hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tapi juga kerap menunjukkan status sosial seseorang.

Sebagian orang akan merasa bangga bisa membeli dan meminum kopi mahal yang dijual di tempat ternama.

Namun, ada pula orang yang memilih untuk minum kopi di mana saja, dengan harga terjangkau asalkan bisa menikmatinya setiap hari, karena sudah menjadi kebutuhan.

Kini kopi bukan hanya digandrungi oleh orang tua, kaum muda seperti Generasi Z (Gen Z) juga banyak yang menggilai minuman yang satu itu.

Salah satunya Gen Z asal Jakarta Selatan bernama Dhanty (26), yang harus minum kopi setidaknya dua gelas per hari.

Baca juga: Kopi Jadi Andalan Gen Z Saat Bekerja, Efektif atau Sekadar Sugesti?

Bagi dia, kopi sudah menjadi kebutuhannya sehari-hari agar tidak mudah mengantuk dan terus fokus dalam bekerja.

Oleh karena itu, per hari ia menyediakan budget khusus sekitar Rp 40.000 untuk membeli satu hingga dua gelas kopi susu kesukannya.

“Jadi, aku misalkan beli Fore itu kan around Rp. 30.000 berarti aku enggak bisa beli kopi lagi karena budget aku cuma Rp 40.000 per hari,” kata Dhanty ketika diwawancarai Kompas.com di kawasan Jakarta Selatan, Kamis.

Artinya dalam satu bulan, Dhanty harus menyediakan dana sekitar Rp 1,2 juta untuk meminum kopi.

Bagi dia, uang Rp 1,2 juta yang dikeluarkan untuk membeli kopi per bulan masih sangat wajar, karena memang dianggap sudah menjadi kebutuhan.

Sementara Gen Z lain bernama Rali (24), mengaku menyediakan dana sekitar Rp 300.000 hingga 500.000 per bulannya.

Budget kopinya cenderung lebih murah, karena lebih sering membelinya di warung kopi (warkop).

"Saya mah ngopi bisa di mana aja, di rumah nyeduh sendiri juga enggak apa-apa, cuma kalau lagi enggak ada uang paling di warkop kopi sachetan paling Rp 3.000 – 5.000 per gelas," tutur dia ketika diwawancarai Kompas.com di kawasan Jakarta Selatan, Kamis.

Rali mengatakan, rasa kopi di coffee shop dengan sachet tentu saja berbeda karena mengandung lebih banyak gula.

Meski begitu, ia tetap mengandalkan kopi sachet untuk sekedar menghilangkan kantuk saat bekerja, dibandingkan harus keluar banyak uang untuk pergi ke coffee shop.

Baca juga: Hidup Berdampingan dengan Asam Lambung, Gen Z Mengaku Sulit Tinggalkan Kopi

Antara kebutuhan dan gaya hidup

Perencana Keuangan dari Finante.ic Rista Zwestika CFP, WMI, WPS, QFC, mengatakan untuk menentukan apakah kebiasaan minum kopi benar gaya hidup atau kebutuhan maka harus dilihat dulu konteksnya.

Jika hanya menyeduh kopi sachet di rumah untuk menghilangkan kantuk kerja, maka bisa dibilang sebagai kebutuhan fungsional.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

"Kalau kopi Rp 40.000 di coffee shop tiap hari itu lifestyle expense," kata Rista ketika dihubungi Kompas.com, Kamis (19/2/2026).


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Liga Inggris Beri Jeda Ramadan, Pemain Muslim Bisa Buka Puasa Dulu
• 14 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
6 Fakta Pernikahan Ayushita dan Gerald Situmorang: Menikah Tanpa MUA, Diwarnai Isu Beda Agama
• 6 jam laluharianfajar
thumb
Pramono Pastikan Tak Ada Perubahan Nama di Taman Semanggi Meski Direvitalisasi Pihak Ketiga
• 22 jam laluidxchannel.com
thumb
5 Maps di Roblox yang Ramai dan Jadi Favorit Banyak orang
• 19 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Tarif Dagang Dianulir MA, Trump Serang Hakim Agung AS
• 41 menit lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.