Tabligh Akbar di Polres Siak, UAS Bicara Dosa Ekologi hingga Green Policing

detik.com
6 jam lalu
Cover Berita
Siak -

Polres Siak menggelar tabligh akbar dengan menghadirkan penceramah kondang Ustaz Abdul Somad (UAS). Dalam ceramahnya itu, UAS menyinggung soal 'dosa' ekologi hingga Green Policing.

Tabligh akbar mengusung tema 'Ramadhan Memperkuat Sinergi Polri dan Masyarakat Dalam Menjaga Kamtibmas' di Polres Siak ini digelar pada Jumat (20/2/2026) malam. Kegiatan ini turut dihadiri oleh Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan, Wakapolda Brigjen Hengki Haryadi, Kapolres Siak AKBP Sepuh Ade Irsyam Siregar berserta pejabat utama (PJU) Polda Riau dan Polres Siak.

Mengawali ceramahnya, Ustaz Abdul Somad menyapa Kapolda dan Wakapolda Riau dengan inisial 'HH'.

"Ini orang sibuk-sibuk semua. Bapak Irjen Polisi Herry Heryawan, Kapolda Riau 'HH'. Sebelah beliau 'HH' juga, Wakapolda Brigjen Polisi Hengki Haryadi," sapa UAS.

Mengawali ceramahnya, UAS kemudian bicara soal kekuatan polisi. Menurutnya, kekuatan polisi bukan pada senjatanya atau pasukannya, tetapi ada pada simpati masyarakat.

"Di mana letak kekuatan polisi ini? Apakah pada seragamnya, apakah pada pistolnya, apakah pada pasukannya? Bukan. Kekuatan polisi ada pada simpati masyarakat," ujar UAS.

Baca juga: Kapolda Riau Hadiri Tabligh Akbar UAS di Siak, Perkuat Sinergi saat Ramadan

"Itu Ustaz Somad tahu itu dari mana, ada tulisannya itu di situ (spanduk-red) 'kekuatan polisi adalah simpati masyarakat', saya bukan mengada-ada. Itulah enaknya ceramah di Polres Siak ini, bahannya sudah disiapkan semua," kata UAS disambut tawa hadirin.

UAS kemudian bicara soal Green Policing, program yang diinisiasi Kapolda Riau. Menurutnya, polisi tidah hanya bertugas menjaga keamanan masyarakat, tetapi juga menjaga alam dan ekosistem di dalamnya.

Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan dan Wakapolda Brigjen Hengki Haryadi menghadiri tabligh akbar UAS di Polres Siak, Jumat (20/2/2026). Foto: dok. Polda Riau

"Bapak polisi menanam pohon, bapak polisi menanam kayu mengintegrasikan, menyatukan tugas polisi dengan menjaga alam. Kira-kira bapak ibu semua siap menjaga alam ini?" kata UAS.

Ustaz Somad mengatakan bulan Ramadan adalah bulannya 'perang'. Beberapa peristiwa besar terjadi pada bulan Ramadan.

"Kita di Siak mau perang melawan apa Pak Ustaz? Melawan orang-orang yang motong pohon pakai kayu, dengan apa, dengan Green Policing," kata UAS.

Baca juga: Respons Cepat Laporan Warga, Polisi Musnahkan 5 Rakit Peti di Kuansing

Dosa Ekologi

UAS kemudian menyinggung soal dosa-dosa di bulan puasa. Selain makan dan minum yang membatalkan puasa, menurutnya ada dosa yang lebih dahsyat yakni dosa ekologi.

"Minum khamr dosa apa nggak dosa? Dosa. Berjudi dosa apa nggak dosa? Dosa. Tapi ada dosa yang lebih hebat, apa dia? Dosa ekologi, dosa merusak alam, dosa memotong pokok kayu," kata UAS.

UAS lantas menyinggung bencana banjir di Aceh yang menurutnya adalah sebuah 'dosa ekologi'.

"Itu banjir yang ada di Aceh, turun air dari laut membawa batu-batu kayu-kayu gelondongan ke bawah," katanya.

"Bukan (kayu) dicabut gajah. Kalau gajah cabut kayu cuma lima kayu yg bisa dicabut. Kalau manusia mencabut satu tanda tangan tumbangkan (pohon) 1 hektare," lanjutnya.

Sama halnya dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kerap terjadi di Riau, menurut UAS kejadian tersebut adalah dosa yang dibuat manusia.

"Makanya saya belum pernah mau diundang salat istisqo minta hujan. Kenapa ustaz tak mau, karena yang memotong hutan itu ikut berdoa di situ. Pas giliran hujan nggak turun Ustaz Somad yang disalahkan," katanya.

Baca juga: Kapolda Riau Cek Jembatan Gantung di Kuansing: Demi Keselamatan Anak Sekolah

Green Policing

Ia lantas memuji program Green Policing yang diinisiasi oleh Kapolda Riau. Menurutnya, gagasan menanam pohon yang digaungkan oleh Kapolda Riau akan memberikan manfaat untuk jangka panjang.

"Alhamdulillah Green Policing menanam pokok bersama. Ustaz Somad, Pak Kapolda, rocky gerung menanam pohon, insyaallah anak-anak sudah besar itu pohon sudah besar. Nanti insyaallah kami akan bernaung di pohon yang kami tanam itu di tahun 2055, 30 tahun yang akan datang," jelasnya.

Mengutip sebuah hadits, menanam pohon juga sudah diajarkan sejak zaman Nabi. UAS menyebut menanam pohon juga merupakan ibadah.

"Jadi yang namanya ibadah bukan cuma zikir, baca Yasin, baca Qur'an, puasa, tapi menanam tanaman adalah ibadah dan memotong tanaman adalah dosa. Merusak alam adalah dosa yang lebih dahsyat. Berapa rumah yang hilang di Aceh? 140 ribu rumah hancur, yang ngomong Pak Wakil Gubernur. Mudah-mudahan Riau aman, damai, adem, ayem, tentram baldatun thoyibatun warobbun ghofur," tutupnya.




(mea/dhn)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sidak Pasar, Pemprov Sulsel Sebut Harga Sembako Masih Stabil meski Ada Kenaikan
• 10 jam lalubisnis.com
thumb
Beraksi di 10 Lokasi, Begal Motor di Makassar Akhirnya Ditangkap Polisi | KOMPAS MALAM
• 20 jam lalukompas.tv
thumb
Shin Hye-sun ungkap tantangan berperan dalam "The Art of Sarah"
• 8 jam laluantaranews.com
thumb
Gunung Sampah Meledak, Longsor Bak Tsunami Gulung Manusia: 157 Tewas
• 2 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Prabowo Bertemu Trump, Seskab Teddy Sebut Tarif Resiprokal 19 Persen Berpeluang Turun Lagi
• 10 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.