Tahun 2026 ini, ruang publik Indonesia ditandai oleh sebuah peristiwa yang jarang terjadi: masa Prapaskah dalam tradisi Kristiani dan bulan Ramadan dalam tradisi Islam berjalan hampir bersamaan.
Di satu sisi, umat Katolik dan sebagian besar umat Kristiani memasuki masa tobat, masa puasa dan pantang, yang diawali dengan Rabu Abu pada 18 Februari yang lalu.
Di sisi lain, umat Islam menyambut bulan suci Ramadan dengan ibadah puasa, tarawih, dan penguatan spiritualitas. Dua tradisi berbeda, dua sistem kalender berbeda—solar dan lunar—tetapi bertemu dalam satu momentum rohani yang sama: pengendalian diri dan pembaruan hidup.
Dalam konteks Indonesia yang majemuk, kebersamaan waktu ini bukan sekadar kebetulan astronomis. Hal ini menghadirkan sebuah pesan simbolik dan sekaligus pedagogis bagi bangsa: bahwa jalan menuju kedewasaan spiritual selalu melewati disiplin diri, keheningan batin, dan solidaritas sosial.
Dua Tradisi, Satu Semangat PertobatanDalam tradisi Katolik, Prapaskah adalah masa 40 hari persiapan menyongsong Paskah—perayaan sengsara, wafat, dan kebangkitan Kristus. Angka 40 mengingatkan pada 40 hari Yesus berpuasa di padang gurun.
Inti Prapaskah dirumuskan dalam tiga praktik klasik: doa, puasa, dan amal kasih. Puasa bukan dimaksudkan sebagai hukuman diri, melainkan sebagai sarana penyadaran bahwa manusia rapuh, terbatas, dan membutuhkan rahmat Allah. Abu yang diterakan di dahi pada Rabu Abu menjadi simbol kefanaan sekaligus panggilan pertobatan.
Sementara itu, Ramadan adalah bulan suci dalam Islam, bulan diturunkannya Al-Qur’an. Puasa Ramadan merupakan salah satu rukun Islam. Sejak fajar hingga matahari terbenam, umat Muslim menahan diri dari makan, minum, dan berbagai bentuk hawa nafsu.
Namun hakikatnya lebih dalam: membentuk takwa, kesadaran akan kehadiran Allah dalam setiap tindakan. Ramadan juga identik dengan sedekah, zakat, dan solidaritas kepada fakir miskin.
Jika ditelaah secara teologis, terdapat perbedaan mendasar dalam landasan iman masing-masing tradisi. Namun pada tataran praksis spiritual, terdapat irisan nilai yang kuat: pengendalian diri, pertobatan, pembaruan moral, dan kepedulian sosial. Keduanya mengajarkan bahwa kebebasan sejati justru lahir dari kemampuan menahan diri.
Puasa sebagai Kritik terhadap Budaya KonsumtifPertemuan Prapaskah dan Ramadan di tengah masyarakat modern menghadirkan kontras yang menarik. Kita hidup dalam budaya yang menuhankan kecepatan, konsumsi, dan kepuasan instan. Media sosial memicu kompetisi gaya hidup, pasar menawarkan kenikmatan tanpa jeda, ruang publik sering kali diwarnai ujaran kebencian dan polarisasi.
Dalam situasi seperti itu, puasa menjadi tindakan profetis. Puasa adalah kritik sunyi terhadap budaya berlebihan. Puasa mengatakan bahwa manusia tidak hidup dari roti saja—atau dalam bahasa bangsa kita, manusia tidak hidup hanya dari materi dan ambisi.
Pemikiran Soekarno tentang nation and character building menekankan pentingnya pembentukan watak sebagai fondasi bangsa. Bangsa tidak hanya dibangun oleh infrastruktur, tetapi olehjuga integritas moral warganya. Puasa, dalam perspektif ini, adalah latihan karakter. Puasa membentuk disiplin, empati, dan kepekaan sosial—nilai-nilai yang menjadi fondasi kebangsaan.
Demikian pula Ki Hajar Dewantara menekankan bahwa pendidikan sejati menumbuhkan budi pekerti. Dalam puasa, seseorang belajar menguasai diri sebelum ingin menguasai dunia.
Ia belajar mendahulukan yang hakiki daripada yang remeh. Maka dari itu, Prapaskah dan Ramadan dapat dibaca sebagai “kurikulum spiritual kebangsaan” yang berlangsung serentak di ruang publik.
Moderasi dan Persaudaraan di Ruang PublikIndonesia berdiri di atas fondasi keberagaman. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar hiasan lambang negara, melainkan juga prinsip hidup bersama. Dalam konteks ini, kebersamaan Prapaskah dan Ramadan menjadi momentum konkret untuk memperdalam moderasi beragama.
KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) berulang kali menegaskan bahwa agama harus menjadi sumber kemanusiaan, bukan alat eksklusi. Baginya, keimanan yang matang justru membuat seseorang semakin terbuka dan menghormati perbedaan.
Jika Ramadan membentuk takwa dan Prapaskah membentuk pertobatan, keduanya seharusnya berbuah pada kerendahan hati, bukan superioritas moral.
Puasa yang sejati tidak melahirkan sikap merasa lebih suci daripada yang lain. Sebaliknya, puasa mengantar pada kesadaran bahwa setiap orang sedang berproses. Dalam ruang publik Indonesia, kesadaran ini amat penting di tengah godaan politisasi agama dan polarisasi identitas.
Ketika umat Islam menahan diri dari makan dan minum, serta umat Katolik menjalani pantang serta puasa, sebenarnya keduanya sedang mengirim pesan yang sama: bahwa iman tidak boleh berhenti pada simbol, tetapi harus menembus tindakan sosial. Solidaritas kepada yang miskin, kepedulian kepada yang menderita, serta pengendalian diri dalam berbicara dan bertindak adalah wujud nyata dari puasa yang otentik.
Dimensi Sosial: dari Ritual ke TransformasiBaik Prapaskah maupun Ramadan memiliki dimensi sosial yang kuat. Dalam tradisi Katolik, Prapaskah identik dengan aksi puasa pembangunan dan karya amal. Dalam Islam, Ramadan berpuncak pada zakat fitrah dan berbagai bentuk sedekah. Spiritualitas tidak berhenti di altar atau sajadah; ia bergerak ke jalan-jalan kehidupan.
Bagi bangsa Indonesia yang masih bergumul dengan kemiskinan struktural, ketimpangan sosial, dan krisis integritas, nilai ini amat relevan. Puasa dapat menjadi motor transformasi sosial jika diterjemahkan ke dalam kebijakan yang berkeadilan dan tindakan nyata yang membela kaum lemah.
Lebih jauh lagi, kebersamaan waktu ini membuka ruang dialog lintas iman. Buka puasa bersama lintas agama, diskusi publik tentang makna pertobatan, atau kerja bakti sosial bersama dapat menjadi praktik konkret membangun kohesi sosial. Bukan dalam semangat mencampuradukkan ajaran, melainkan dalam sikap saling menghormati dan bekerja sama demi kebaikan bersama.
Momentum KebangsaanDalam perspektif kebangsaan, perjumpaan Prapaskah dan Ramadan mengingatkan bahwa Indonesia memiliki kekayaan spiritual yang luar biasa. Di saat banyak bangsa terbelah oleh konflik identitas, Indonesia justru diberi kesempatan untuk menunjukkan bahwa perbedaan dapat berjalan seiring.
Puasa mengajarkan kesabaran. Pertobatan mengajarkan kerendahan hati. Takwa mengajarkan kesadaran akan pengawasan Ilahi. Semua ini adalah modal sosial yang tak ternilai bagi pembangunan bangsa. Tanpa karakter yang kuat, visi Indonesia Emas 2045 hanya akan menjadi slogan.
Maka, ketika lonceng gereja berbunyi pada Rabu Abu dan azan Magrib berkumandang menandai berbuka puasa, sesungguhnya kita sedang menyaksikan simfoni spiritual kebangsaan. Dua tradisi berjalan berdampingan: masing-masing setia pada imannya, tetapi sama-sama mengarah pada kebaikan.
Pertanyaannya bukan lagi "Apakah Prapaskah dan Ramadan berbeda?"—jelas berbeda dalam teologi dan praktik. Pertanyaannya: Apakah kita mampu menangkap pesan kebersamaan moral yang ditawarkan oleh momentum ini?
Jika puasa hanya menjadi rutinitas tahunan tanpa perubahan karakter, kita kehilangan maknanya. Namun jika puasa sungguh membentuk pribadi yang lebih jujur, lebih adil, dan lebih peduli, bangsa ini sedang menuai buah dari kedalaman spiritual warganya.
Di tengah dunia yang gaduh, Prapaskah dan Ramadan mengajarkan satu hal sederhana, tapi revolusioner: berhenti sejenak, melihat ke dalam, dan memperbaiki diri. Dari sanalah perubahan bangsa dimulai.





