Aceh Besar: Bencana banjir bandang yang sempat menerjang rumahnya masih membekas dalam ingatan Khadijah, 61, warga Kecamatan Tringgadeng, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Setiap teringat derasnya arus dan lumpur yang memenuhi rumah, jantungnya masih berdebar ketakutan.
Namun ramadan tahun ini, ia memilih menepi sejenak dari bayang-bayang trauma dengan menjalani suluk di Dayah Darul Aman, Desa Lampuuk Tungkop, Kecamatan Darussalam, Kabupaten Aceh Besar, sebagai ikhtiar menenangkan hati dan memulihkan batin.
Di ruang sederhana dayah tersebut, Khadijah duduk bersila dengan kepala tertutup kain. Bibirnya melafalkan zikir, pelan namun teratur.
“Perasaannya enak. Senang. Lebih tenang. Pikirannya tenang, nggak kacau,” ujar Khadijah saat ditemui Metrotvnews.com, Sabtu, 21 Februari 2026.
Khadijah, 61, warga Kecamatan Tringgadeng, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, melaksanakan suluk di Dayah Darul Aman. Foto: Metrotvnes.com/Fajri Fatmawati
Ia masih mengingat jelas peristiwa banjir yang melanda kampungnya. Rumahnya terendam air bercampur lumpur, memaksa keluarga bertahan di tengah genangan. “Takut. Lihat airnya takut. Jantung berdebar,” kenangnya. Meski kini rumah telah dibersihkan, rasa cemas datang tanpa diundang. Apalagi wilayah Pidie Jaya hingga saat ini kerap dilanda banjir susulan.
Baca Juga :
Unik! Ramadan di Polowijen, Tari Topeng Malangan Keliling Bangunkan Sahur“Nggak ingat apa-apa. Nggak terbayang kampung. Kami di sana nggak tenang. Kalau sudah pergi suluk ya tenang,” tuturnya.
Selain mencari ketenteraman jiwa, perempuan lanjut usia itu juga memohon kesehatan. Ia berharap doa-doa yang dipanjatkan bersama para guru membawa kebaikan bagi fisik dan batinnya. “Lebih nyaman. Mudah-mudahan dengan doa-doa dari guru di sini lebih sehat,” kata Khadijah penuh harap.
Suluk di Dayah Darul Aman. Foto: Metrotvnes.com/Fajri Fatmawati
Bagi Khadijah, suluk bukan sekadar ritual ibadah. Ia menjadi tempat berlindung dari kecemasan, ruang sunyi untuk berdamai dengan kenangan banjir, sekaligus pijakan untuk melangkah ke depan dengan hati yang lebih tenang.
Wakil Ketua Yayasan Dayah Darul Aman, Tengku Saifullah, menjelaskan suluk merupakan jalan mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui zikir yang dilakukan terus-menerus, terutama pada bulan Ramadan. Tradisi ini telah berlangsung turun-temurun di Aceh sebagai bagian dari pendalaman spiritual.
Menurut Saifullah, bagi masyarakat yang baru dilanda musibah, suluk juga dapat menjadi trauma healing atau sebagai ruang pemulihan batin.
“Tujuan zikir itu untuk menyucikan jiwa dan menenteramkan batin. Bagi mereka yang terdampak musibah, ini sangat cocok untuk memulihkan ketenangan,” ujar Saifullah.
Wakil Ketua Yayasan Dayah Darul Aman, Tengku Saifullah. (Metrotvnews.com/Fajri Fatmawati)
Saifullah menjelaskan bahwa suluk merupakan tradisi turun-temurun yang dijalankan dengan berzikir secara terus-menerus untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Para jemaah mengenakan penutup kepala sebagai simbol memutuskan diri dari godaan duniawi.
“Menutup kepala ini diibaratkan seperti berada di alam kubur, sehingga jemaah fokus mengingat Allah,” ucap Saifullah.
Baca Juga :
Selama suluk, jemaah memiliki pantangan ketat, seperti tidak mengonsumsi daging dan makanan berlemak. Selain salat malam dan membaca Al-Qur’an, mereka diwajibkan mengamalkan zikir ismu zat hingga 50 ribu sampai 100 ribu kali setiap malam.
Menurut Saifullah, suluk bukan sekadar ritual, melainkan perjalanan spiritual untuk meraih ketenangan jiwa dan meningkatkan ketakwaan, sekaligus menjadi bukti masyarakat Aceh tetap menjaga tradisi dan kearifan lokal di tengah modernisasi.




