Setahun Pimpin Jawa Barat, Dedi Mulyadi Akui Tekanan Anggaran Jadi Kendala dalam Perbaikan Jalan dan Pelayanan Publik

grid.id
3 jam lalu
Cover Berita

Grid.IDDedi Mulyadi kini sudah setahun pimpin Jawa Barat. Gubernur Jabar akui tekanan anggaran jadi kendala dalam perbaikan jalan dan pelayanan publik.

Tepat pada Jumat, 20 Februari 2026, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi genap satu tahun memimpin Tanah Pasundan sejak dilantik pada 2025 lalu. Meski mengantongi angka kepuasan publik yang fantastis, Dedi memilih tetap membumi dan mengakui masih banyak "pekerjaan rumah" (PR) yang belum tuntas.

Sudah setahun pimpin Jawa Barat, Dedi Mulyadi akui tekanan anggaran jadi kendala dalam perbaikan jalan dan pelayanan publik. Begini pengakuannya.

Berdasarkan survei yang dirilis Indikator Politik Indonesia, tingkat kepuasan masyarakat terhadap kepemimpinan Dedi Mulyadi mencapai 95,5 persen. Meski demikian, pria yang akrab disapa Kang Dedi itu menilai capaian tersebut bukan ukuran keberhasilan yang mutlak.

Menurut Dedi, angka survei yang tinggi lebih menggambarkan ikatan emosional antara dirinya dan warga Jawa Barat, bukan semata-mata keberhasilan pembangunan fisik.

"Dalam pandangan saya, itu bukanlah angka keberhasilan pembangunan semata, tetapi angka kecintaan warga Jawa Barat terhadap perjalanan yang sedang kita jalani bersama," ujar Dedi di Bandung, dikutip dari TribunJabar.id.

Dedi secara terbuka mengakui bahwa program yang dijalankannya bersama Wakil Gubernur Erwan Setiawan belum sepenuhnya memberi dampak merata bagi seluruh masyarakat. Ia menyebut keterbatasan anggaran atau tekanan fiskal sebagai hambatan terbesar selama satu tahun terakhir.

"Tekanan fiskal merupakan kendala utama dalam mengoptimalisasi seluruh layanan. Akibatnya, kepuasan yang tinggi itu belum sepenuhnya terwujud dalam layanan nyata yang dirasakan merata oleh seluruh warga," jelasnya.

Dedi juga menegaskan bahwa masih banyak persoalan yang harus segera dibenahi. Beberapa di antaranya adalah:

- Infrastruktur: Banyak jalan desa yang masih rusak dan membutuhkan perbaikan.

- Pendidikan dan Kesehatan: Pemerataan akses pendidikan serta peningkatan kualitas layanan kesehatan.

 

- Ekonomi: Upaya menurunkan angka pengangguran yang masih relatif tinggi.

Selama menjabat, Dedi mengaku kerap menghadapi demonstrasi dari masyarakat. Namun, ia menegaskan tidak anti terhadap kritik. Menurutnya, protes merupakan bagian dari demokrasi sekaligus bahan evaluasi agar pemerintah tetap berjalan sesuai harapan masyarakat.

"Kritik dan protes adalah bagian dari demokrasi. Terima kasih kepada warga yang belum puas, itu adalah pengingat bahwa masih ada masyarakat yang belum terlayani dengan baik," tandasnya.

Di akhir pernyataannya, Dedi menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran pemerintah daerah, mulai dari kepala desa hingga wali kota, serta mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa kepada masyarakat Jawa Barat.

Di sisi lain, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyebut perubahan paling signifikan selama hampir setahun kepemimpinannya adalah membaiknya perilaku masyarakat serta semakin sigapnya aparat dalam menangani tindak kriminal. Hal itu ia sampaikan saat menghadiri pemusnahan barang bukti narkoba, knalpot tidak standar, dan penyerahan barang bukti kendaraan bermotor di Mapolda Jabar, Rabu (18/2/2026).

"Atas nama masyarakat Provinsi Jawa Barat, saya mengucapkan terima kasih karena selama ini, selama hampir saya setahun memimpin, nanti tanggal 20 hari Jumat setahun, terjadi perubahan besar dalam perilaku publik di Jawa Barat," ucap Dedi, dikutip dari Kompas.com.

Ia juga menilai pola penindakan terhadap pelanggaran hukum kini jauh lebih cepat dan tegas. Sejumlah kasus pembunuhan, menurutnya, dapat diungkap dalam waktu singkat.

Penanganan premanisme dan geng motor pun dinilai semakin responsif. Dalam kesempatan itu, Dedi turut menyampaikan apresiasi kepada Ketua DPRD Jawa Barat atas dukungan terhadap kebijakan pemerintah provinsi, termasuk langkah-langkah yang memicu perdebatan.

Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Barat, terutama terkait rencana pembangunan rumah sakit Kejaksaan Agung RI di Bandung Barat yang dinilai bermanfaat bagi masyarakat.

"Dan ini bermanfaat, Pak. Warga saya lebih baik diperiksa di rumah sakit oleh dokter daripada diperiksa oleh jaksa, Pak. Terima kasih," katanya.

Meski berbagai capaian diraih, Dedi menegaskan bahwa membangun infrastruktur seperti jalan, sekolah, maupun irigasi bukanlah tantangan utama. Menurutnya, pembangunan fisik relatif mudah selama anggaran tersedia.

 

Sebaliknya, tantangan terbesar adalah mengubah pola perilaku masyarakat. Ia menggambarkan karakter warga Jawa Barat yang terbuka dan mudah menerima informasi, namun juga cepat bereaksi terhadap berbagai isu.

Sikap tersebut, ditambah budaya yang menjunjung popularitas seperti prinsip “kajeun teuing tekor asal kasohor” dinilai berpengaruh terhadap perilaku sosial. Dedi mengingatkan, tanpa ketegasan pemimpin dalam membatasi perilaku sosial yang merugikan, Jawa Barat bisa menghadapi persoalan serius di masa mendatang.

Ia bahkan memperingatkan risiko masyarakat kehilangan tanah, rumah, peluang kerja, serta terjerat utang jika kondisi itu dibiarkan. Karena itu, ia menekankan pentingnya sinergi seluruh unsur pemerintahan dan aparat penegak hukum untuk menjaga stabilitas sosial sekaligus membangun budaya tertib dan disiplin di tengah masyarakat. (*)

 

Artikel Asli


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Indef Soroti Sertifikasi Halal AS dalam Kesepakatan Dagang Indonesia-AS
• 1 jam lalurepublika.co.id
thumb
SAM Air Beli Tiga Armada Baru, Perkuat Misi Kemanusiaan dan Penerbangan Perintis
• 23 jam lalurepublika.co.id
thumb
Balenciaga Perkenalkan Aktris Korea Roh Yoon Seo sebagai Brand Ambassador
• 7 jam lalubeautynesia.id
thumb
Turun Tangan! Hotman Paris Minta Bantuan Prabowo soal Kasus Fandi ABK yang Dituntut Hukuman Mati
• 2 jam lalukompas.tv
thumb
Media Vietnam Ikut Komentari Kerusuhan di Laga Persib vs Ratchaburi FC
• 17 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.