RUPIAH berada di bawah tekanan seiring kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun yang menembus level 6,45% pada perdagangan Jumat, (20/2).
Berdasarkan data Bank Indonesia, pada akhir perdagangan Kamis, (19/2), mata uang Garuda melemah di posisi Rp16.870 per dolar AS. Kemudian, rupiah melanjutkan pelemahan pada pembukaan perdagangan Jumat (20/2), di level Rp16.880 per dolar AS.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) menguat ke level 97,93 dan yield US Treasury Note tenor 10 tahun juga naik ke 4,06%.
Baca juga : BI: Modal Asing Keluar Bersih dari Tanah Air Sentuh Rp5,13 triliun
ada saat yang sama, yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun tercatat meningkat dari 6,44% pada Kamis (19/2), menjadi 6,45% pada perdagangan kemarin.
Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso menuturkan, pihaknya terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah serta otoritas terkait dan mengoptimalkan strategi bauran kebijakan.
"Ini untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia," ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu (21/2).
Denny juga menambahkan, dalam rangka meningkatkan akuntabilitas dan reliabilitas data, informasi mengenai perkembangan aliran modal asing pada instrumen saham dan SBN dapat diakses melalui situs Bursa Efek Indonesia serta Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan.
Lebih lanjut, ia menyampaikan mulai minggu pertama Maret 2026, siaran pers Perkembangan Indikator Stabilitas Rupiah tidak lagi diterbitkan. Sebagai gantinya, data perkembangan transaksi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mingguan dapat diakses melalui laman resmi Bank Indonesia pada menu statistik. (H-3)




