Sejumlah ahli geologi meragukan teori itu dan menawarkan penjelasan yang lebih kompleks. Kisah ini bermula pada 6 Oktober 1970, ketika kapal pengeboran laut dalam Glomar Challenger berlabuh di Lisbon, Portugal, membawa temuan yang kemudian mengubah pemahaman geologi.
Selama 54 hari pelayaran, kapal tersebut mengebor 28 titik di dasar Laut Mediterania dan menemukan bukti mengejutkan bahwa sekitar 6 juta tahun lalu laut ini sempat berubah menjadi gurun garam yang luas dan hampir mengering, dengan cekungan sedalam lebih dari dua kilometer. Sekitar setengah juta tahun kemudian, Samudra Atlantik diduga menerobos wilayah yang kini dikenal sebagai Selat Gibraltar, memicu banjir terbesar dalam sejarah Bumi yang dikenal sebagai Zanclean megaflood.
Teori ini sempat menjadi kesepakatan umum di kalangan ahli geologi selama puluhan tahun. Namun, keraguan baru muncul belakangan ini tentang setiap bagian dari kisah ini, mulai dari gurun raksasa hingga air terjun Niagara raksasa.
Banyak ahli geologi berpendapat bahwa pengeringan yang terjadi jauh lebih singkat diikuti oleh pengisian kembali Laut Mediterania secara bertahap. Beberapa orang berpendapat bahwa Laut Mediterania tidak pernah sepenuhnya terputus dari Samudra Atlantik sama sekali.
"Gagasan tentang banjir besar, dan data yang mendukungnya sebagian besar salah," kata Ahli Geologi dari University of Granada, Guillermo Booth Rea, dikutip dari laman Live Science, Sabtu, 21 Februari 2026.
Gagasan tentang satu peristiwa penguapan tunggal juga menghadapi persoalan matematis. Endapan garam yang ditemukan terlalu besar untuk dapat dijelaskan oleh satu kali penguapan saja.
Endapan ini mewakili sekitar 5 persen dari total garam di lautan dunia, dan diperkirakan awalnya bahkan bisa mencapai 7 hingga 10 persen. Untuk mengumpulkan garam sebanyak itu, Laut Mediterania harus mengosongkan dan terisi kembali sekitar 10 kali.
Faktanya, bukti dari endapan garam di Sisilia menunjukkan bahwa hal seperti itu memang pernah terjadi. Pola ini menandakan siklus berulang antara periode kering dan basah yang berlangsung ribuan tahun.
Artinya, perubahan Mediterania tampaknya lebih merupakan rangkaian proses bertahap daripada satu peristiwa ekstrem tunggal. Lebih mengejutkan lagi, penelitian terbaru menunjukkan bahwa jalur banjir yang selama ini dicari mungkin bukan berada di dekat Selat Gibraltar sama sekali.
Selama 50 tahun, para ilmuwan mungkin telah mencari bukti di tempat yang salah. Ekspedisi pengeboran laut dalam terbaru pada Desember 2023 di Laut Alboran, tepat di sebelah timur Selat Gibraltar, justru tidak menemukan jejak banjir apapun.
Pemimpin ekspedisi sekaligus Profesor Paleoklimatologi dari University of Bristol, Rachel Flecker, mencatat bahwa sampel inti yang mereka ambil menunjukkan lapisan yang sangat halus dan teratur, sebuah kondisi yang hanya bisa terbentuk dalam lingkungan yang sangat tenang, bukan dalam banjir dahsyat. Ia pun menyimpulkan bahwa jalur air antara Atlantik dan Mediterania sebelum dan selama krisis salinitas kemungkinan besar bukan melalui Gibraltar.
Lantas dari mana air yang mengisi kembali Mediterania itu berasal? Simak selengkapnya.
Sebuah makalah tahun 2025 karya Daniel García-Castellanos dari Dewan Riset Nasional Spanyol membantu memecahkan teka-teki tersebut. Menggunakan simulasi komputer pemodelan erosi, ia berargumen bahwa Mediterania perlahan terisi ulang melalui sambungan dengan danau air tawar raksasa bernama Paratethys, yang kini menjadi kawasan Laut Hitam dan Laut Kaspia.
Sambungan ini membawa air dari sungai-sungai besar seperti Volga, Don, dan Danube yang sebelumnya tidak mengalir ke Mediterania, dan secara bertahap menaikkan permukaan airnya hingga dalam sekitar 300 meter dari posisinya saat ini. Bagi para ilmuwan, perdebatan ini menyimpan pelajaran penting tentang cara Bumi bekerja.
Menurut Ahli Sedimentologi dari University of Parma, Vinicio Manzi, mengingatkan bahwa perubahan ekstrem di planet ini tidak selalu dipicu oleh peristiwa dramatis dan tunggal. Menurutnya, terlepas dari bagaimana proses itu terjadi, pandangan modern tentang kisah ini terdapat pelajaran penting.
Pendekatan ini menekankan bahwa perubahan besar tidak selalu dipicu oleh peristiwa dramatis, melainkan dapat muncul dari rangkaian perubahan kecil. "Kamu dapat mencapai kondisi ekstrem tanpa peristiwa ekstrem," kata Manzi.
Baca Juga :
Peneliti Temukan Cara Baru Pelajari Penyakit Saraf Lewat Mini Otak BuatanCek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(CEU)





