Jakarta, VIVA – Perak kembali menjadi sorotan investor setelah mencatat lonjakan harga signifikan dalam dua tahun terakhir. Sepanjang 2025 hingga awal 2026, harga logam mulia ini melesat tajam bahkan menembus rekor baru.
Pada Januari 2026, harga perak sempat melampaui US$100 per ounce atau setara Rp1,68 juta per ons dengan asumsi kurs Rp16.800 per dolar AS.
Namun, setelah menyentuh level tersebut, harga perak terkoreksi ke kisaran US$85 per ounce atau sekitar Rp1,42 juta per ons. Pergerakan yang sangat fluktuatif ini memunculkan pertanyaan, apakah investasi perak masih layak untuk masa depan?
Para ahli menilai tidak ada jawaban hitam putih mengenai kelayakan investasi perak. Namun, risiko tetap harus diperhitungkan sebelum memasukkan logam mulia ini ke dalam portofolio.
Matthew Argyle, pendiri Encore Retirement Planning, menegaskan bahwa perak bukanlah aset yang menghasilkan pendapatan rutin. “Perak adalah aset yang tidak menghasilkan pendapatan,” ujarnya sebagaimana dikutip dari CBS News, Sabtu, 21 Februari 2026.
“Tidak seperti saham dan obligasi, perak tidak menghasilkan laba, dividen, atau bunga. Perak tidak menghasilkan arus kas,” jelasnya.
Artinya, keuntungan dari perak sepenuhnya bergantung pada kenaikan harga. Sementara itu, Evan Mills, analis penasihat keuangan di Scholar Advising, menyebut, berinvestasi pada perak lebih merupakan diversifikasi yang bersifat spekulatif daripada investasi yang benar-benar menghasilkan.
“Banyak orang mencari arus kas yang konsisten dan dapat diprediksi, dan perak tidak menyediakannya,” ungkapnya.
Selain itu, volatilitas harga menjadi tantangan besar. Hiren Chandaria, Managing Director di Monetary Metals, menjelaskan, perak dapat membawa risiko yang signifikan karena volatilitasnya dan kecenderungannya bergerak seiring pasar yang lebih luas selama periode tekanan.
“Perak telah mengalami koreksi tajam dalam periode singkat, termasuk penurunan dua digit dalam waktu yang relatif singkat.”
Sebagai gambaran, pada pertengahan 2024 harga perak rata-rata masih di bawah US$30 per ounce atau sekitar Rp504.000 per ons. Kurang dari dua tahun kemudian, harga menembus US$100 atau Rp1.680.000 per ons sebelum kembali turun.
“Logam bisa sangat volatil,” kata Chris Berkel, penasihat investasi dan Presiden AXIS Financial. “Pada awal 1980-an, perak mencapai puncak di US$50 sebelum turun menjadi di bawah US$5. Itu adalah penurunan 90 persen.”





