Peran Sekolah dalam Membentuk Cara Berpikir

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan sosial yang masif, kemampuan berpikir kritis menjadi kebutuhan mendesak. Sekolah tidak lagi cukup dipahami sebagai tempat mentransfer materi pelajaran. Ia adalah ruang pembentukan cara berpikir. Di ruang kelas, siswa belajar bukan hanya tentang apa yang harus diketahui, tetapi bagaimana memahami, menguji, dan menilai pengetahuan itu sendiri.

Di era disrupsi kecerdasan buatan (AI) dan polarisasi opini di ruang digital, kemampuan memilah informasi menjadi semakin krusial. Tanpa daya kritis, siswa berisiko menjadi konsumen pasif dalam sistem algoritma yang sering kali memperkuat bias dan mempercepat penyebaran informasi yang belum terverifikasi.

Cara berpikir yang terbentuk di sekolah akan memengaruhi cara seseorang membaca isu sosial, menyikapi perbedaan, bahkan mengambil keputusan sebagai warga negara. Karena itu, peran sekolah tidak bisa dibatasi pada kurikulum dan nilai akademik, melainkan harus menyentuh proses kognitif dan kesadaran kritis yang dibangun di dalamnya.

Kritik terhadap Banking Model of Education

Gagasan Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed memberi lensa penting untuk membaca persoalan ini. Freire mengkritik banking model of education, model pendidikan yang memosisikan siswa sebagai wadah kosong yang diisi pengetahuan oleh guru.

Dalam model ini, pembelajaran berjalan satu arah. Pengetahuan dianggap final dan tidak perlu dipertanyakan. Siswa dinilai berdasarkan kemampuan mereproduksi informasi.

Masalahnya bukan sekadar metode penyampaian, melainkan relasi pengetahuan yang terbentuk. Ketika siswa dibiasakan menerima tanpa dialog, sekolah berpotensi membentuk pola pikir pasif dan reproduktif. Pendidikan berubah menjadi proses administratif, bukan proses pembentukan kesadaran.

Data Literasi dan Tantangan Nalar Kritis

Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan skor literasi membaca Indonesia berada di angka 359, masih di bawah rata-rata OECD sekitar 476. Angka ini bukan sekadar peringkat, melainkan indikator kemampuan memahami, menganalisis, dan mengevaluasi informasi.

Karena PISA dirancang untuk mengukur penerapan pengetahuan dalam konteks nyata, capaian tersebut menggambarkan kualitas nalar yang terbentuk dalam sistem pembelajaran. Persoalannya bukan hanya akses pendidikan, tetapi kualitas proses berpikir di ruang kelas.

Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) memang telah menekankan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Namun dalam praktik, orientasi pada nilai dan target kurikulum sering kali masih mendominasi. Di sinilah muncul ketegangan antara tujuan kebijakan dan realitas pedagogi.

Dimensi Struktural: Mengapa Dialog Sulit Tumbuh

Persoalan daya kritis tidak dapat direduksi menjadi metode mengajar semata. Ada faktor struktural yang memengaruhi praktik pendidikan. Sistem evaluasi berbasis jawaban tunggal cenderung membentuk budaya belajar instan, bukan budaya argumentasi. Kurikulum yang padat menyisakan sedikit ruang eksplorasi. Relasi kelas yang hierarkis juga dapat membuat siswa enggan menyampaikan perspektif alternatif.

Kritik terhadap kondisi ini bukan upaya menyalahkan satu pihak, melainkan membaca bagaimana sistem membentuk praktik pedagogi sehari-hari.

Guru Sudah Bergerak, tetapi Belum Optimal

Banyak guru telah berupaya mendorong daya kritis siswa melalui pembelajaran berbasis proyek, diskusi kelompok, studi kasus, hingga soal berbasis HOTS. Upaya tersebut menunjukkan kesadaran pedagogis yang berkembang.

Namun hasilnya belum merata. Budaya sekolah masih sangat berorientasi pada angka. Nilai ujian dan target kurikulum menjadi indikator dominan keberhasilan. Dalam situasi seperti ini, guru terdorong menuntaskan materi secara efisien, sementara berpikir kritis membutuhkan waktu, dialog, dan refleksi.

Di sisi lain, beban administratif guru juga menyita energi yang seharusnya dapat digunakan untuk merancang pembelajaran kreatif. Inovasi membutuhkan ruang, dan ruang itu tidak selalu tersedia.

Era Digital: Informasi Melimpah, Analisis Terbatas

Kemajuan teknologi sering dianggap sebagai peluang membentuk generasi kritis. Siswa hari ini hidup dalam arus informasi yang cepat. Namun akses informasi tidak otomatis menghasilkan kemampuan analisis.

Paparan konten singkat dan budaya konsumsi instan dapat membuat proses berpikir menjadi dangkal. Literasi digital bukan hanya kemampuan menggunakan perangkat, tetapi kemampuan membaca bias, memverifikasi sumber, dan mengevaluasi klaim.

Tanpa pembimbingan sistematis, teknologi hanya menjadi alat distribusi informasi, bukan medium pembentukan nalar. Di tengah berkembangnya AI generatif, tantangan ini semakin nyata: kemampuan menggunakan teknologi harus diiringi kemampuan mempertanyakan dan menilai hasilnya.

Membangun Ekosistem yang Mendukung Nalar Kritis

Jika sekolah ingin membentuk cara berpikir, pendekatan sistemik diperlukan.

Pertama, sistem penilaian perlu lebih menghargai proses argumentasi dan refleksi, bukan sekadar jawaban benar.

Kedua, literasi digital kritis harus diintegrasikan secara substantif dalam kurikulum.

Ketiga, budaya dialog perlu ditumbuhkan agar siswa merasa aman untuk berbeda pendapat.

Dalam kerangka pendidikan kritis Freire, pembelajaran adalah ruang dialog setara di mana guru dan siswa sama-sama belajar membaca realitas. Sekolah bukan hanya institusi akademik, melainkan ruang pembentukan kesadaran sosial.

Peran Peserta Didik: Dari Objek Menjadi Subjek

Pembentukan cara berpikir kritis tidak hanya ditentukan oleh guru dan sistem, tetapi juga oleh bagaimana siswa merespons pembelajaran. Siswa bukan sekadar penerima materi, melainkan subjek aktif yang membangun pemahaman melalui dialog dan refleksi.

Daya kritis tumbuh ketika siswa berani bertanya, menguji argumen, dan tidak hanya berorientasi pada nilai. Metode pembelajaran yang baik tidak akan berdampak maksimal jika peserta didik tetap pasif.

Refleksi: Pendidikan sebagai Pembentukan Nalar

Menyederhanakan persoalan daya kritis menjadi kegagalan individu tidak akan menyelesaikan masalah. Realitasnya lebih kompleks. Guru telah berupaya. Inovasi telah dicoba. Adaptasi teknologi sudah dilakukan. Namun selama sistem masih lebih menghargai angka daripada proses berpikir, pembentukan nalar kritis akan berjalan lambat.

Sekolah memiliki potensi besar membentuk cara berpikir generasi muda. Tetapi potensi itu hanya akan maksimal jika ekosistemnya mendukung. Karena pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar tentang apa yang diketahui siswa, melainkan bagaimana mereka belajar berpikir.

Di era AI dan polarisasi digital, kemampuan tersebut bukan lagi nilai tambah, melainkan kebutuhan dasar. Sekolah memegang peran kunci dalam memastikan generasi muda tidak hanya cakap mengakses informasi, tetapi juga mampu memahami, menguji, dan menggunakannya secara bertanggung jawab.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ancaman Banjir di Jalur KA Jateng saat Mudik, Kemenhub Siagakan Patroli 24 Jam
• 2 jam lalukompas.tv
thumb
Minta Maaf Malah Dihujat! Netizen Ungkap Sosok Ayah Dwi Sasetyaningtyas Eks LPDP: Katanya Sederhana, Ternyata Financial Manager
• 8 jam laluharianfajar
thumb
Pertamina Beli Minyak-LPG dari Perusahaan AS Hartree dan Phillips 66
• 6 jam lalubisnis.com
thumb
Ramadan Jadi Momentum Kedekatan PSI Sulsel dan Masyarakat
• 22 jam laluharianfajar
thumb
Dua Sepeda Motor 'Adu Banteng', Pengendaranya Sama-sama Tewas
• 5 jam lalurealita.co
Berhasil disimpan.