Penulis: Alfin
TVRINews, Makassar
Tim dosen dan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (FH-Unhas) kembali meraih prestasi di ajang internasional, kali ini pada The 6th International Conference on Islamic and Muhammadiyah Studies 2026. Konferensi yang berlangsung pada 10-11 Februari 2026 di Surakarta mengusung tema “Religious Ethics in Times of Artificial Intelligence.” Konferensi ini diikuti oleh peserta dari 10 negara dan menghadirkan akademisi ternama seperti Prof. Abdelkader Beckhouche, dan Dr. Romo H.R. Muhammad Syafi’I.
Artikel berjudul “Reorienting Islamic Education: Southeast Asia Comparative Study of Maqāṣid al-Sharī‘ah and Artificial Intelligence” berhasil masuk dalam kategori Best 10 Papers dari total 223 artikel yang diterima. Artikel tersebut dipresentasikan oleh Muh. Rezky Zulkarnain pada subtema Pendidikan.
Tim penulis yang terdiri atas Muh. Rezky Zulkarnain, Muhammad Fikri, Winanda Fajri Al Hakim, Abd. Rahman, Sardil Mutaallif, Eka Merdekawati Djafar, Haura Mudya Maysha, dan Wiranti, semua berafiliasi pada Fakultas Hukum Unhas, menjadi satu-satunya delegasi yang mewakili Universitas Hasanuddin dalam konferensi ini.
Dekan Fakultas Hukum Unhas, Prof. Hamzah Halim, memberikan apresiasi atas capaian ini dan menegaskan pentingnya penguatan riset internasional bagi fakultas.
“Prestasi ini menunjukkan komitmen kami dalam memperkuat riset dan publikasi bereputasi global,” kata Prof. Hamzah Halim, dalam keterangan yang diterima redaksi, Sabtu, 21 Februari 2026.
Prof. Maskun, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, turut menekankan bahwa capaian ini menunjukkan kualitas riset Fakultas Hukum Unhas yang mampu bersaing di forum internasional.
Fajlurrahman Jurdi, Pembina Pusaka HTN FH-Unhas, juga menyatakan bahwa kajian hukum tata negara dan pendidikan Islam dengan perspektif Maqāṣid al-Sharī‘ah relevan dengan perkembangan teknologi global. “Diskursus tentang kecerdasan buatan harus memperhatikan etika dan prinsip keadilan,” ujarnya.
Eka Merdekawati Djafar, salah satu penulis, menjelaskan bahwa penelitian ini membandingkan Indonesia dan Malaysia, dengan fokus pada reorientasi pendidikan Islam yang adaptif terhadap perkembangan digital tanpa mengabaikan nilai-nilai dasar keislaman.
Muhammad Fikri, kontributor utama, menambahkan bahwa artikel ini menekankan peran kecerdasan buatan sebagai alat (wasīlah), bukan otoritas epistemik. “Pendidikan Islam harus tetap menjaga nilai agama sambil mengembangkan nalar kritis dan kesiapan menghadapi era digital,” ujarnya.
Sebagai bagian dari konferensi, semua artikel yang diterima memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendampingan publikasi, baik pada jurnal terindeks Scopus maupun jurnal nasional terindeks SINTA. Program pendampingan ini diharapkan semakin memperkuat kontribusi ilmiah Fakultas Hukum Unhas dalam kancah publikasi internasional.
Capaian ini semakin mempertegas komitmen sivitas akademika Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin untuk menghadirkan kajian yang responsif dan adaptif terhadap perkembangan kecerdasan buatan, dengan tetap mengedepankan nilai etika dalam pendidikan Islam.
Editor: Redaktur TVRINews





