Silang Pendapat Bos Agrinas dan Menperin Soal Impor 105.000 Pikap India

bisnis.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA – Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara Joao Angelo De Sousa Mota secara terang-terangan mengakui berseberangan dengan Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita soal pengadaan 105.000 unit pikap impor dari India.

Dia menjelaskan, kebijakan impor tersebut atas dasar kebutuhan perseroan terhadap kendaraan niaga berpenggerak empat roda (4x4) guna menunjang distribusi pangan dan hasil pertanian hingga ke wilayah pelosok desa-desa dalam program Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih.

Menurutnya, hingga saat ini belum ada pabrikan otomotif di dalam negeri yang memproduksi kendaraan 4x4 secara lokal. Seluruh model yang beredar masih didatangkan secara utuh atau completely built up (CBU) dari luar negeri, sehingga opsi pengadaan domestik dinilai belum tersedia.

Joao pun mengakui telah melakukan pertemuan dengan Menperin Agus Gumiwang di Jakarta pada Jumat (20/2/2026) untuk membahas perihal impor pikap asal India tersebut.

“Saya sudah bertemu, dan saya akui bahwa saya berseberangan dengan Menteri Perindustrian karena berbeda keberpihakan. Saya mempertanyakan, apakah Anda berpihak kepada rakyat atau kepada produsen otomotif?," ujar Joao saat dihubungi Bisnis, dikutip Sabtu (21/2/2026).

Dia menegaskan, Agrinas Pangan berkomitmen menyediakan kendaraan niaga yang andal dengan harga terjangkau bagi masyarakat dalam ekosistem Kopdes Merah Putih.

Baca Juga

  • Dirut Agrinas Blak-blakan Alasan Impor Pikap Rp24,66 Triliun dari India
  • Agrinas Borong 105.000 Pikap dari India, Apa Kabar Mobnas Prabowo?
  • GIAMM Kritik Agrinas Soal Impor 105.000 Pikap India: Industri Komponen Babak Belur

Dengan demikian, kekhawatiran produsen otomotif domestik disebut bukan menjadi pertimbangan utama perseroan dalam menentukan kebijakan tersebut.

“Kami tidak memiliki pertimbangan apa pun selain memberikan pilihan kendaraan lebih banyak kepada rakyat dengan harga yang lebih murah,” katanya.

Harga Lebih Murah

Aspek harga menjadi faktor krusial selain ketersediaan unit. Joao menyampaikan, perseroan menerima penawaran dari India dengan banderol yang jauh lebih rendah dibandingkan produk sejenis di pasar domestik. Transaksi tersebut juga berada dalam kerangka perdagangan bebas Asean–India Free Trade Area (AIFTA).

“Kami memesan dengan harga yang sangat kompetitif atau hampir 50% lebih murah dari kompetitornya. Dari sisi durability, power, dan fuel consumption, kendaraan ini sangat andal dan sangat bagus,” tuturnya.

Dengan nilai belanja kendaraan dari India yang ditaksir mencapai sekitar Rp24,66 triliun, dia mengatakan pengadaan tersebut dirancang dengan pendekatan value for money, sehingga biaya yang dikeluarkan dinilai sepadan dengan manfaat operasional yang diperoleh.

“Mengapa merek-merek tertentu yang selama ini menguasai pasar tidak mau memberikan harga yang kompetitif? Kami sudah melakukan penjajakan dengan mereka, tetapi selisih harganya antara Rp120 juta sampai Rp150 juta per unit,” katanya.

Di luar pengadaan kendaraan pikap, Agrinas Pangan sejatinya juga telah memesan truk roda enam dari pabrikan domestik seperti Mitsubishi Fuso dan Hino. Namun, keterbatasan ketersediaan unit dalam jumlah besar membuat perseroan turut mendatangkan truk ringan merek Tata Motors dari India.

Secara rinci, sebanyak 35.000 unit pikap Scorpio dipasok Mahindra. Sementara itu, 70.000 unit lainnya berasal dari Tata Motors India yang terdiri atas Yodha Pick Up dan truk Ultra T.7, masing-masing sebanyak 35.000 unit.

Ke depan, setiap Kopdes akan memperoleh satu unit truk roda enam, dengan distribusi yang telah dimulai Rabu (18/2/2026) di Jawa Timur dan dilanjutkan bertahap ke berbagai daerah. Saat ini 1.207 Kopdes telah rampung dan mulai menerima distribusi, 30.507 lainnya masih dibangun, sementara kendaraan segera dikirim ke Kodim untuk selanjutnya dimobilisasi ke koperasi terkait.

Kemenperin Fokus Perkuat Produk Lokal

Di lain sisi, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang mengakui Indonesia belum memproduksi kendaraan pikap berpenggerak empat roda (4x4) dengan spesifikasi khusus untuk medan sangat berat, terutama di sektor pertambangan dan perkebunan.

Meski demikian, Agus menegaskan bahwa kendaraan pikap 4x2 produksi dalam negeri juga memiliki standar dan kualitas yang kompetitif dibandingkan produk impor.

Produk lokal tersebut dinilai telah mampu memenuhi kebutuhan operasional di berbagai wilayah dengan kondisi infrastruktur jalan yang beragam.

Dia menambahkan, penguatan produksi kendaraan pikap nasional memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Sebagai ilustrasi, apabila pengadaan 70.000 unit pikap 4x2 dipenuhi dari dalam negeri, potensi dampak ekonomi berupa backward linkage diperkirakan mencapai sekitar Rp27 triliun.

"Apabila seluruh kebutuhan kendaraan pikap dipenuhi melalui impor, maka nilai tambah ekonomi dan penyerapan tenaga kerja akan dinikmati oleh industri di luar negeri," tegas Agus dalam keterangannya.

Saat ini, industri otomotif nasional memiliki kapasitas produksi kendaraan pikap sekitar 1 juta unit per tahun. Sejumlah produsen yang memproduksi kendaraan pikap di dalam negeri antara lain PT Astra Daihatsu Motor, PT Isuzu Astra Motor Indonesia, PT Mitsubishi Motor Krama Yudha Indonesia, PT Suzuki Indomobil Motor, PT SGMW Motor Indonesia, dan PT Sokonindo Automobile.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kapolda Sumsel Hadiri Pengajian Ramadan di DPRD, Perkuat Sinergi Kamtibmas
• 35 menit laludetik.com
thumb
Tarif Trump Dibatalkan, Importir AS Kejar Kepastian Refund US$175 Miliar
• 6 jam lalubisnis.com
thumb
Pemprov DKI dan Baznas Salurkan Rp30 Juta untuk Masjid Lautze
• 2 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Tanah Bergerak Hantam Desa Tandihat Tapsel, 186 KK Direlokasi
• 23 jam laludetik.com
thumb
Nusron Wahid Percepat Sertifikasi 900 Ribu Tanah Wakaf untuk Cegah Konflik Keluarga dan Sengketa Hukum
• 18 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.