Purbaya Paksa Sapu Bersih Saham Gorengan, Pernah Bikin Bangkrut Massal

cnbcindonesia.com
6 jam lalu
Cover Berita
Foto: Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa saat menyampaikan paparan dalam Indonesia Economic Outlook 2026 di Gedung Danantara, Jakarta, Jumat (13/2/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Akhir bulan lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami trading halt dua hari beruntun akibat pengumuman MSCI. Akibatnya, indeks turun tajam hingga lebih dari 8%

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons dengan menegaskan, tekanan indeks hanya bersifat sementara karena fundamental perekonomian Indonesia kuat.
Namun, ia juga mengingatkan, untuk memperkuat pasar saham, otoritas bursa sudah sepatutnya segera membersihkan pasar dari saham-saham gorengan.

"Ini jelas shock sementara, karena fundamental kita enggak masalah. Kalau yang jatuh saham-saham gorengan kan sudah saya ingatkan dari dulu, bersihkan bursa dari saham gorengan tapi kan yang besar-besar, masih ada saham-saham yang bluechip itu kan naiknya belum terlalu tinggi," tuturnya, dikutip Sabtu (21/2/2026).


Praktik mendorong harga saham naik tanpa ditopang dasar bisnis yang kuat sejatinya bukan fenomena baru. Bahkan, sejarah mencatat dampak aksi goreng menggoreng saham menyebabkan banyak orang mengalami kerugian besar.

Ribuan Orang Bangkrut Dalam Semalam, Isaac Newton Jadi Korban

Jauh sebelum istilah pom-pom saham, pump and dump, atau saham gorengan dikenal luas, sejarah mencatat peristiwa serupa sudah terjadi lebih dari tiga abad lalu. Pelakunya pun bukan influencer atau bandar ritel, melainkan sebuah perusahaan yang mendapat dukungan penuh dari negara, yaitu South Sea Company.

Peristiwa tersebut terjadi pada 1720, ketika Inggris berada dalam kondisi keuangan yang rapuh setelah melalui perang panjang dan mahal melawan sejumlah kekuatan Eropa. Utang negara menumpuk, sementara penerimaan negara terbatas. Dalam situasi inilah pemerintah mendirikan South Sea Company.

Baca: Terungkap! Ini Modus Influencer BVN Goreng Saham

Mengacu pada Britannica, perusahaan ini diberi kewenangan khusus untuk mengambil alih dan mengelola utang negara. Sebagai gantinya, South Sea Company dijanjikan hak monopoli perdagangan dengan wilayah Amerika Selatan yang kala itu diyakini kaya sumber daya alam.

Janji tersebut membuat banyak orang percaya perusahaan ini akan berkembang pesat dan menghasilkan keuntungan besar. Kepercayaan publik semakin kuat setelah pemerintah turut memberi legitimasi. Saham perusahaan pun dibeli oleh berbagai kalangan, mulai dari masyarakat umum, anggota parlemen, kaum bangsawan, hingga Raja Inggris George I. Namun, manajemen perusahaan tidak mengungkap fakta penting bahwa wilayah Amerika Selatan berada di bawah kekuasaan Spanyol, bukan Inggris, sehingga secara nyata ruang bisnis perusahaan sangat terbatas.

Kenyataan tersebut tertutup oleh propaganda agresif. Catatan Historic menunjukkan harga saham yang awalnya berada di kisaran 100 pound sterling melonjak tajam dalam waktu singkat hingga menembus lebih dari 1.000 pound.

Euforia pun menyebar ke seluruh lapisan masyarakat. Banyak orang berbondong-bondong membeli saham karena takut kehilangan peluang. Kenaikan harga saham tidak didorong oleh laba atau kinerja perusahaan, melainkan oleh keyakinan bahwa akan selalu ada pembeli berikutnya. Inilah bentuk paling awal dari praktik pom-pom saham.

Tanpa diketahui publik, para petinggi South Sea Company justru mulai menjual saham mereka secara diam-diam. Mereka memahami bahwa fondasi bisnis perusahaan rapuh dan janji keuntungan sulit direalisasikan.

Baca: Saham Gorengan Bakal Sepi Dalam 6 Bulan ke Depan, Ini Alasannya

Ketika sebagian investor mulai mempertanyakan sumber keuntungan yang sebenarnya, kepercayaan pasar runtuh. Kepanikan menyebar dengan cepat, harga saham jatuh bebas, dan pasar ambruk hampir seketika.

Mengutip Royal Society Publishing, kejatuhan tersebut menyebabkan ribuan orang kehilangan seluruh tabungan hidupnya. Banyak bangsawan dan pengusaha jatuh miskin dan bangkrut dalam semalam.

Salah satu korban terkenalnya adalah Isaac Newton. Ia sempat meraih keuntungan, tetapi kembali masuk ke pasar saat harga sudah terlalu tinggi dan akhirnya mengalami kerugian besar. Dari pengalaman itu, Newton menyimpulkan bahwa ia mampu menghitung pergerakan benda langit, tetapi tidak kegilaan manusia.

Penyelidikan pemerintah kemudian mengungkap skandal besar di balik peristiwa tersebut. Terbongkar praktik suap, konflik kepentingan, dan manipulasi pasar yang melibatkan elite politik. Sejumlah pejabat dijatuhi hukuman, sementara kepercayaan publik terhadap negara dan pasar keuangan runtuh.

Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai praktik penggorengan saham pertama dalam sejarah dunia. Sayangnya, pola serupa tidak pernah benar-benar hilang dan terus berulang dalam berbagai bentuk hingga saat ini.

Baca: Ini Penggoreng Saham Pertama yang Sukses Bikin Banyak Orang Bangkrut

(dce)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Bareskrim Polri Turun Tangan Berantas Saham Gorengan

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jadi Takjil Favorit Sejuta Umat, Ini 3 Jenis Kurma Berdasarkan Teksturnya Sekaligus Aturan Makan yang Pas
• 9 jam lalugrid.id
thumb
Kapolri Respons Kasus Brimob Penganiaya Pelajar MTs di Tual, Jamin Proses Hukum Transparan
• 3 jam lalukompas.tv
thumb
BRI Region 6/Jakarta 1 Hadir dan Berpartisipasi dalam Peringatan HUT Kodam Jaya ke-76
• 23 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Proyek Energi Surya Nasional Bisa Ciptakan 120.000 Lapangan Kerja
• 9 jam lalumetrotvnews.com
thumb
BMKG Prediksi Cuaca Hari Ini Sabtu 21 Februari 2026, Cuaca Jabodetabek Hujan Malam Nanti
• 20 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.