Perjuangan Andaru Melawan Komplikasi Penyakit Kronis di Tengah Keterbatasan Biaya

metrotvnews.com
2 jam lalu
Cover Berita

Di usianya yang baru menginjak lima tahun, Andaru Yasa Alsaki seharusnya tengah asyik bermain dan mengenal dunia. Namun, bocah malang ini justru harus bertaruh nyawa melawan kepungan komplikasi penyakit kronis yang menyerang tubuh kecilnya sejak dilahirkan.

Andaru terus berjuang melawan rasa sakit yang seakan tidak ada kata usai. Mulai dari batu empedu, peradangan dinding lambung, asma, hingga gangguan saraf menjadi beban yang harus dipikulnya. Saat ini, Andaru tengah menjalani pengobatan intensif di RSAB Harapan Kita dengan diagnosa yang melibatkan lima poliklinik sekaligus.

Penderitaan Andaru dimulai sejak bayi ketika ia lahir dengan kondisi kuning dan demam tinggi. Pada usia 18 bulan, ia harus menjalani operasi fimosis, yang kemudian menjadi awal dari derita yang lebih besar.

"Umur 2 tahun 3 bulan mengalami batu empedu, umur 3 tahun mengalami gastritis berat dan esofagitis grade A. Tahun 2024 dia mengalami TB klinis, dan sekarang asma dengan rinosinusitis," ungkap sang ibu, Tanti Oktaalia.

Kondisi Andaru seringkali merosot (drop), yang ditandai dengan muntah hebat dan gangguan pernapasan. Dalam kondisi tersebut, Andaru sangat bergantung pada tabung oksigen, alat nebulizer, serta antibiotik untuk melawan infeksi berulang.
  Baca juga: Mari Bantu Amar Berjuang Lawan Autoimun HSP Purpura
Di balik perjuangan medis yang berat, Tanty Oktabalia berdiri tegar sendirian tanpa dukungan sang suami. Demi menyambung napas buah hatinya, Tanti rela bekerja keras sebagai buruh gudang di pelabuhan. Setiap hari, ia memeras keringat menempelkan pita cukai rokok dengan harapan upah yang tak seberapa itu dapat memperpanjang harapan hidup anaknya.

Meskipun telah menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan, Tanty menghadapi tembok besar dalam upaya kesembuhan Andaru. Beberapa tindakan medis krusial dan obat-obatan tertentu tidak ditanggung oleh jaminan kesehatan tersebut.

Dokter saat ini mencurigai adanya diagnosa yang belum terdeteksi, antara autoimun atau fibrosis kistik. Untuk memastikannya, Andaru memerlukan pemeriksaan kelenjar keringat yang sampel darahnya harus dikirim ke Singapura, pemeriksaan Anti-Nuclear Antibody (ANA) untuk deteksi autoimun, serta pemeriksaan fecal calprotectin untuk mengetahui tingkat peradangan usus.

"Semua itu belum saya lakukan karena saya tidak punya biaya. Dokter menyarankan tiga laboratorium itu dilakukan secepatnya, karena jika tidak, infeksi akan terus berulang dan menyerang organ-organ lainnya," keluh Tanty.

Setiap bulan, Andaru harus merasakan dinginnya jarum suntik dan menjalani rawat inap di rumah sakit. Kini, harapan Tanty tertumpu pada uluran tangan para 'Teman Baik' agar Andaru dapat pulih dan tumbuh seperti anak-anak lainnya. Donasi dapat disampaikan melalui Rekening atas nama Yayasan Benih Baik Indonesia 

BCA: 867-0323-456
Mandiri: 164-00111-02227


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Selebgram Awbimax Panas Lihat Tingkah Penerima LPDP Dwi Sasetyaningtyas, Aib Arya Iwantoro Suami Tyas Dikuliti
• 16 jam lalutvonenews.com
thumb
Istri Anggota DPRD Sulsel Tewas usai Mobil Tabrak Pembatas Tol Makassar
• 6 jam laludetik.com
thumb
Jadwal Liga Italia Malam Ini: Persaingan Ketat Juventus vs Como, Ujian Berat Lecce vs Inter Milan
• 4 jam lalumedcom.id
thumb
BMKG Keluarkan Warning: Makassar dan 5 Wilayah di Sulsel Terancam Banjir dan Longsor Hari Ini
• 14 jam laluharianfajar
thumb
6 Fakta Pernikahan Ayushita dan Gerald Situmorang: Menikah Tanpa MUA, Diwarnai Isu Beda Agama
• 12 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.