Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) mencatat, saat ini ada sebanyak 160 prodi Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) baru di Indonesia.
Khairul Munadi, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kemendiktidaintek mengatakan bahwa capaian itu merupakan lompatan penting dalam memperkuat sistem layanan kesehatan Indonesia.
“Secara nasional, kita juga mensyukuri capaian akselerasi yang sudah ditunjukkan. Sudah dibuka 160 prodi baru PPDS sampai dengan hari ini,” katanya dalam peluncuran PPDS di Surabaya yang terpusat di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) pada Sabtu (21/2/2026).
Dari jumlah tersebut, sebanyak 128 prodi merupakan spesialis dan 32 sub spesialis. Dengan penambahan itu, total prodi spesialis nasional meningkat signifikan dari 366 menjadi 526 program studi.
Khairul mengatakan bahwa pembukaan prodi baru itu tidak berdiri sendiri, tapi juga didukung oleh sekitar 350 rumah sakit yang mayoritas merupakan milik pemerintah daerah yang terlibat sebagai mitra penyelenggara pendidikan.
“Sehingga ini bukan hanya sekadar angka, tapi juga investasi strategis untuk masa depan sistem kesehatan Indonesia,” ujarnya.
Ia menjelaskan, melalui satgas akselerasi PPDS, pemerintah menjalankan tiga strategi utama. Pertama, penambahan prodi dan peningkatan kuota mahasiswa melalui kemitraan antara perguruan tinggi dan rumah sakit. Kedua, penempatan atau deployment residen tingkat mandiri ke rumah sakit prioritas di berbagai wilayah untuk meningkatkan kelayakan layanan kesehatan. Ketiga, penguatan kemitraan multipihak, termasuk dengan pemerintah daerah, asosiasi rumah sakit, dan sektor swasta.
Pendekatan itu, lanjut dia, sekaligus menandai perubahan paradigma dalam pendidikan dokter spesialis.
“Pendidikan dokter spesialis tidak lagi berjalan sendiri, tidak lagi monopoli, tidak lagi hanya perguruan tinggi negeri saja, tetapi menjadi bagian dari ekosistem layanan kesehatan nasional,” ucapnya.
Meski akselerasi terus didorong, ia menegaskan bahwa aspek kualitas tidak boleh diabaikan karena berkaitan langsung dengan keselamatan pasien.
“Akselerasi ini tidak boleh mengabaikan kualitas, karena ini menyangkut human safety, nyawa manusia. Oleh karena itu, penyelenggaraan prodi harus didasari penjaminan mutu yang kuat, kepatuhan pada regulasi, serta evaluasi berkala,” tegasnya.
Seperti diketahui, pada Sabtu (21/2/2026) Dirjen Dikti Kemendiktisaintek juga meresmikan total sembilan PPDS dari tiga kampus di Surabaya, yakni Unusa, Universitas Ciputra (UC) Surabaya dan Universitas Hang Tuah (UHT) Surabaya.
Untuk FK Unusa membuka dua PPDS, yakni Spesialis Obstetri dan Ginekologi, Serta Spesialis Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi. Kemudian FK UC Surabaya membuka dua PPDS yakni Spesialis Obstetri Dan Ginekologi, dan Spesialis Bedah. Serta FK UHT membuka lima PPDS, yakni Spesialis Obstetri dan Ginekologi, Spesialis Bedah, Spesialis Ilmu Kesehatan Anak, Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif. (ris/saf/faz)




