Di Balik Transformasi Digital Kampus: Ketika Makroergonomi Menjadi Kunci Menjaga Kesejahteraan Emosional Dosen

harianfajar
5 jam lalu
Cover Berita

Oleh: Rezki Amelia Aminuddin A.P.

Notifikasi masuk tanpa henti. Grup kelas aktif sampai malam. Permintaan revisi artikel jurnal datang bersamaan dengan tenggat pelaporan beban kerja. Di sela-sela itu, dosen tetap harus menyiapkan materi kuliah, membimbing mahasiswa, menjalankan penelitian, dan terlibat pengabdian. Transformasi digital memang menjanjikan efisiensi, tetapi juga menciptakan “mode kerja selalu terhubung” yang perlahan mengikis batas antara pekerjaan dan waktu pemulihan.

Gambaran ini bukan sekadar cerita personal. Di berbagai negara, digitalisasi pendidikan tinggi dinilai membawa konsekuensi baru berupa perubahan relasi kerja, tekanan temporal (kecepatan dan simultanitas tugas), serta potensi “lock-in” pada sistem digital yang terus menambah lapisan pekerjaan administratif. Sebuah artikel ilmiah tentang digitalisasi pendidikan tinggi menyoroti bahwa dampak agregat digitalisasi pada sektor pendidikan tinggi masih menyimpan risiko dan potensi harm yang perlu dicermati, termasuk pada aspek kerja dan relasi institusional.

Berangkat dari realitas tersebut, saya sebagai mahasiswa Program Doktor Rekayasa Industri Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (UII), mengembangkan sebuah gagasan yang kuat: persoalan kesejahteraan emosional dosen tidak cukup dipahami sebagai masalah individu semata. Ini harus dibaca sebagai persoalan desain sistem kerja—dan karena itu, solusinya juga harus berupa model kebijakan yang dirancang melalui perspektif Rekayasa Industri dan Makroergonomi.

Menggeser Cara Pandang: dari “Masalah Individu” menjadi “Masalah Sistem”

Selama ini stres dan burnout dosen sering dipahami sebagai persoalan personal. Sebuah systematic review yang menelaah artikel 2020–2025 menegaskan burnout dosen sebagai isu yang makin mengemuka pada pendidikan tinggi dan terkait dengan determinan sosiodemografis serta psikososial serta berbagai studi internasional menunjukkan bahwa burnout berkaitan erat dengan beban kerja, tuntutan administratif, dukungan organisasi, dan tekanan evaluasi kinerja. Riset lintas negara dan meta-analisis terbaru juga menegaskan bahwa hubungan antara job stress dan burnout pada dosen merupakan pola yang konsisten, bukan kasus sporadis.

Di sinilah makroergonomi menjadi relevan. Pendekatan ini melihat interaksi manusia–teknologi–organisasi sebagai satu sistem. Jika sistem kerja digital mempercepat ritme kerja dan memperluas jam kerja, maka yang perlu ditata bukan hanya ketahanan individu, tetapi desain sistem kerja dan kebijakan institusi secara menyeluruh.

Konteks Indonesia: Tridharma, BKD, dan Beban Kerja yang Terukur (Namun Tidak Selalu Terasa Ringan)

Di Indonesia, dosen memiliki mandat tridharma, dan beban kerja diformalkan melalui BKD. Pedoman BKD menyebut beban kerja dosen per semester minimal setara 12 SKS dan maksimal 16 SKS (sebagai acuan pemenuhan kewajiban tridharma). Di atas kertas terlihat “terukur”, tetapi di lapangan beban kerja sering terasa meluas karena pekerjaan yang tidak selalu terhitung SKS seperti administrasi pelaporan, akreditasi, rapat, koordinasi lintas platform, hingga komunikasi intensif berbasis digital.

Di level riset Indonesia, mulai terlihat perhatian pada isu work-life integration dan burnout pada dosen. Salah satu penelitian di repository UII membahas korelasi work-life integration dengan burnout pada dosen perguruan tinggi di Indonesia, menandai bahwa pembauran batas kerja–hidup dapat menjadi faktor risiko terhadap burnout.
Ini sejalan dengan fenomena global bahwa digitalisasi dapat mendorong “work intensification” serta jam kerja yang meluas termasuk pada kelompok akademisi Perempuan sebagaimana dikaji dalam riset tentang digitalisasi dan work-life balance pada akademisi.

Mengapa Rekayasa Industri? Karena Persoalannya Ada pada Rancangan Sistem Kerja

Di sejumlah negara, beban administratif disebut sebagai salah satu pemicu utama kelelahan dosen. Sebuah survei di Karnataka (India) misalnya, menunjukkan bahwa tugas non-akademik seperti paperwork dan administrasi menjadi faktor dominan stres kerja dosen. Fenomena ini terasa dekat dengan pengalaman banyak perguruan tinggi: ketika target akademik meningkat, pekerjaan administratif berbasis sistem digital juga bertambah, sehingga dosen berperan sebagai “operator”, “pengajar”, sekaligus “peneliti” dalam waktu yang sama.
Karena itu, penelitian Rezki bergerak ke ranah Rekayasa Industri: merancang kebijakan berbasis bukti untuk menata ulang sistem kerja dosen secara lebih ergonomis dan berkelanjutan.

Pendekatan Berbasis Bukti dan Makroergonomi

Penelitian ini mengombinasikan analisis SEM, pengukuran psikofisiologis (EEG, denyut jantung, tekanan darah, dan saturasi oksigen), serta validasi stakeholder melalui wawancara dan kuesioner pre–post. Hasilnya adalah model kebijakan berbasis makroergonomi yang menekankan penataan beban tridharma, penguatan dukungan institusi, serta perancangan sistem kerja digital yang lebih manusiawi.

Dengan pendekatan ini, kesejahteraan emosional dosen diposisikan sebagai hasil dari kebijakan dan desain sistem kerja, bukan sekadar ketahanan individu. (*/)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
OpenAI Gandeng Kampus Top India, Bidik 100 Ribu Mahasiswa - Dosen Integrasi AI
• 16 jam lalukumparan.com
thumb
Cicilan KPR Naik? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya dengan Take Over
• 8 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Gol Dramatis Burnley Paksa 10 Pemain Chelsea Berbagi Angka
• 1 jam lalumedcom.id
thumb
Bansos PKH dan Sembako Sudah Cair di Bulan Ramadan
• 12 jam lalusuara.com
thumb
Hasil Liga Italia: Como Jungkalkan Juventus, Papan Atas Masih Panas
• 3 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.