Di banyak kampung Jawa, menjelang Ramadan atau pada bulan Ruwah dalam penanggalan Jawa, warga berduyun-duyun menuju makam leluhur. Mereka membersihkan rumput liar, menata ulang batu nisan, menabur bunga, lalu duduk bersila memanjatkan doa. Setelah itu, digelar kenduri sederhana: tumpeng, ingkung, dan aneka panganan dibagikan sebagai tanda syukur dan kebersamaan. Tradisi itu kita kenal sebagai nyadran.
Sebagian orang mungkin memandangnya sekadar ritual turun-temurun. Namun jika dibaca lebih dalam, nyadran adalah cermin cara pandang orang Jawa tentang hidup, mati, dan relasi antargenerasi. Nyadran bukan sekadar ziarah kubur, melainkan ruang refleksi eksistensial sekaligus ruang sosial yang sarat makna teologis dan etis.
Ingatan sebagai IdentitasSecara etimologis, nyadran kerap dikaitkan dengan kata sraddha yang berarti penghormatan atau keyakinan. Namun dalam praktiknya, yang paling kentara adalah dimensi ingatan. Nyadran adalah perayaan ingatan kolektif: kita mengingat mereka yang telah mendahului kita, menyadari bahwa hidup kita berdiri di atas jerih payah generasi sebelumnya.
Di tengah budaya digital yang serba cepat dan cenderung melupakan sejarah, nyadran menjadi tindakan kontra-kultural. Kita diajak berhenti sejenak, menatap batu nisan, dan bertanya: dari mana aku berasal? Apa yang diwariskan kepadaku? Nilai apa yang harus kuteruskan?
Pemikiran Ki Hadjar Dewantara relevan di sini, yang menegaskan bahwa pendidikan harus berakar pada kebudayaan sendiri. Tanpa akar budaya, manusia mudah tercerabut dari identitasnya. Nyadran, dalam konteks itu, adalah pendidikan karakter berbasis tradisi: menanamkan hormat kepada orang tua, kesadaran sejarah, dan tanggung jawab moral untuk meneruskan kebaikan.
Manusia sebagai Makhluk RelasionalFilsuf Driyarkara pernah menekankan bahwa manusia menjadi manusia melalui relasi. Manusia tidak pernah “ada” sendirian; ia selalu “ada-bersama”. Relasi itu meliputi keluarga, masyarakat, bahkan sejarah.
Nyadran menghidupkan dimensi relasional tersebut. Dalam ziarah dan doa bersama, manusia mengakui bahwa dirinya tidak otonom secara mutlak. Ia terikat pada jaringan relasi—dengan leluhur, dengan komunitas, dan dengan Yang Ilahi. Dengan membersihkan makam, orang sebenarnya sedang membersihkan ingatan dan memperbarui komitmen sosialnya.
Dalam konteks modern yang semakin individualistis, praktik kolektif seperti nyadran menjadi penting. Nyadran merawat solidaritas sosial yang oleh Soekarno dirumuskan sebagai semangat gotong royong—jiwa dari Pancasila. Nyadran bukan ritual pribadi, melainkan peristiwa komunal. Nyadran menyatukan warga dalam kerja bersama dan makan bersama. Gotong royong di sini bukan slogan politik, melainkan pengalaman konkret kebersamaan.
Dimensi Teologis: Memori, Doa, dan HarapanDari perspektif teologis, nyadran dapat dibaca sebagai ekspresi memoria. Dalam banyak tradisi keagamaan, mengingat orang yang telah wafat bukan sekadar nostalgia, melainkan tindakan iman. Mengingat berarti mengakui bahwa hidup manusia tidak berhenti pada kematian dan bahwa relasi tidak terputus oleh liang lahat.
Mendoakan arwah adalah bagian dari iman akan Tuhan yang hidup —sebuah keyakinan bahwa iman melampaui batas ruang dan waktu. Nyadran, bila dimaknai secara tepat, dapat menjadi ruang inkulturasi nilai tersebut: mengenang dengan hormat, berdoa dengan pengharapan, dan menyerahkan yang wafat pada belas kasih Tuhan.
Namun refleksi teologis juga menuntut kejernihan. Tradisi budaya tidak boleh direduksi menjadi praktik magis atau takhayul. Nyadran tidak dimaksudkan untuk “memberi makan” arwah atau menjalin transaksi spiritual. Nyadran adalah simbol syukur dan solidaritas, bukan ritual manipulatif. Di sinilah peran pendidikan agama menjadi penting: memurnikan makna tanpa mematikan tradisi.
Pandangan Nurcholish Madjid tentang pentingnya dialog antara agama dan budaya memberi cahaya. Baginya, agama di Indonesia tumbuh melalui proses kultural, bukan dengan meniadakan tradisi. Agama memberi arah etis dan teologis; budaya memberi bentuk konkret. Ketika terjadi dialog yang sehat antara agama dan budya, lahirlah ekspresi religius yang membumi sekaligus otentik.
Moderasi Beragama dalam PraktikIndonesia hari ini menghadapi tantangan polarisasi identitas dan kecurigaan antar kelompok. Dalam situasi itu, nyadran bisa menjadi laboratorium moderasi beragama.
Pertama, nyadran menunjukkan bahwa identitas keagamaan tidak harus memutus hubungan dengan budaya lokal. Nyadran membuktikan bahwa religiusitas bisa berakar dalam tradisi tanpa kehilangan orientasi teologisnya. Sikap ini selaras dengan prinsip moderasi: teguh pada iman, namun terbuka pada konteks.
Kedua, nyadran sering kali melibatkan partisipasi lintas latar belakang. Warga dengan tingkat religiositas berbeda duduk bersama dalam doa dan kenduri. Di sana, perbedaan tidak dihapus, tetapi ditempatkan dalam kerangka kebersamaan sosial. Moderasi bukanlah relativisme, melainkan kemampuan hidup rukun dalam keberagaman.
Ketiga, nyadran mengandung etika kerendahan hati. Menghadapi makam, semua status sosial runtuh. Kaya dan miskin, pejabat dan rakyat, akhirnya kembali menjadi tanah. Kesadaran ini meruntuhkan arogansi identitas dan membuka ruang empati.
Dalam bahasa kebijaksanaan Jawa, hidup yang baik adalah hidup yang eling lan waspada—ingat dan waspada. Nyadran membantu manusia “eling”: ingat asal-usul, ingat kefanaan, ingat tanggung jawab. Kesadaran ini menjadi fondasi moderasi, karena orang yang sadar akan keterbatasannya tidak mudah menghakimi orang lain.
Tantangan ZamanTentu, nyadran tidak kebal terhadap tantangan. Generasi muda urban mungkin menganggapnya kuno. Sebagian kelompok keagamaan mungkin memandangnya sebagai praktik yang perlu dicurigai. Di sisi lain, komersialisasi budaya bisa mengubahnya menjadi sekadar festival tanpa kedalaman spiritual.
Karena itu, yang perlu dirawat bukan hanya bentuk luar, melainkan makna terdalamnya. Jika nyadran dipahami sebagai pendidikan karakter, ruang refleksi teologis, dan praktik solidaritas sosial, nyadran akan tetap relevan. Bentuknya boleh menyesuaikan zaman, tetapi nilai dasarnya—syukur, hormat, kebersamaan, dan pengharapan—harus tetap dijaga.
Di tengah krisis ekologis, nyadran bahkan dapat diperluas sebagai refleksi tentang relasi manusia dengan tanah. Kita kembali ke tanah, dan tanah itulah yang kita injak setiap hari. Menghormati leluhur sekaligus berarti menghormati bumi sebagai rahim kehidupan.
Tradisi sebagai Jalan Masa DepanSering kali modernitas dipahami sebagai pemutusan dengan masa lalu. Namun pengalaman bangsa-bangsa besar menunjukkan bahwa kemajuan justru tumbuh dari akar yang kuat. Nyadran mengingatkan kita bahwa masa depan tidak dibangun dengan melupakan sejarah, melainkan dengan mengolahnya secara kritis dan kreatif.
Tradisi ini mengajarkan bahwa hidup bukan sekadar proyek individual, melainkan kisah bersama lintas generasi. Nyadran menegaskan bahwa iman tidak harus terasing dari budaya, dan bahwa moderasi beragama bukan teori abstrak, melainkan praktik sehari-hari dalam kebersamaan.
Pada akhirnya, nyadran adalah sekolah kemanusiaan. Di sana kita belajar rendah hati di hadapan kematian, bersyukur atas kehidupan, dan berkomitmen pada persaudaraan. Dalam dunia yang bising oleh klaim kebenaran dan persaingan identitas, nyadran berbicara dengan bahasa sederhana: ingatlah asalmu, hormatilah sesamamu, dan hiduplah dengan kasih.
Barangkali justru di tengah pusaran modernitas itulah kita semakin membutuhkan kebijaksanaan lama ini—bukan untuk kembali ke masa lalu, tetapi untuk melangkah ke masa depan dengan akar yang kokoh dan hati yang teduh.





