Jakarta, VIVA - Di tengah tekanan pasar otomotif nasional, segmen pembeli mobil pertama atau first car buyer disebut masih bertahan. Namun, profil konsumennya mulai berubah. Jika sebelumnya didominasi pembeli entry level, kini pertumbuhannya justru datang dari kelompok dengan daya beli lebih tinggi.
Direktur Pemasaran dan Komunikasi Korporasi PT Astra Daihatsu Motor (ADM) Sri Agung Handayani mengatakan, berdasarkan survei internal perusahaan, first car buyer tetap ada di pasar. Hanya saja, segmen yang bergerak bukan lagi kelompok paling bawah.
“Apakah ada first car buyer? Ada. Tapi first car buyernya adalah high-end first car buyer,” ujar Sri Agung di Jakarta belum lama ini.
Menurut dia, kondisi ekonomi membuat struktur kelas menengah mengalami tekanan. Beberapa sektor industri seperti tekstil, sepatu, hingga rokok disebut mengalami perlambatan sejak semester kedua tahun lalu. Dampaknya terasa pada kelompok masyarakat yang sebelumnya memiliki pendapatan tetap, namun kini masuk kategori rentan.
Situasi tersebut memengaruhi dua hal utama dalam pembelian kendaraan, yakni daya beli dan daya bayar. Bukan hanya keputusan membeli mobil baru yang tertunda, tetapi juga kemampuan mencicil bagi konsumen yang sudah memiliki kendaraan.
Kondisi ini membuat segmen entry level menjadi yang paling terdampak. Penjualan di kelas harga bawah, termasuk MPV low dan sebagian SUV medium, disebut mengalami tekanan dibandingkan tahun sebelumnya.
Meski demikian, ADM menyebut pasar tetap menunjukkan pergerakan di kelompok yang lebih mapan. Konsumen yang baru membeli mobil pertama dari kalangan menengah atas dinilai masih memiliki kepercayaan diri untuk melakukan pembelian.
Daihatsu sendiri selama ini dikenal kuat di segmen mobil terjangkau dan pembeli pertama, termasuk konsumen yang naik kelas dari sepeda motor ke mobil. Sri Agung menegaskan, perusahaan tetap berkomitmen mendukung motorisasi nasional dengan menyediakan produk yang sesuai kebutuhan berbagai lapisan masyarakat.
Namun ia mengakui, dinamika ekonomi saat ini membuat pasar entry tidak sekuat sebelumnya. Karena itu, strategi perusahaan diarahkan untuk menjaga keseimbangan antara penetrasi pasar baru dan mempertahankan konsumen yang sudah ada.





