BRIN Sebut Fenomena Longsoran di Aceh Bukan Sinkhole, Ungkap Faktor Penyebabnya

viva.co.id
15 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Adrin Tohari mengungkapkan penyebab sebenarnya dari peristiwa tanah amblas atau sinkhole yang terjadi di Ketol, Aceh Tengah beberapa waktu belakangan.

"Yang terjadi di Aceh Tengah itu sebenarnya fenomena longsoran, bukan sinkhole. Lapisan tufanya tidak padat dan kekuatannya rendah, sehingga mudah sekali tergerus dan runtuh," katanya melalui keterangan di Jakarta, Sabtu

Baca Juga :
BRIN Soroti Kelemahan Konsep Kalender Hijriah Global Tunggal dalam Menentukan Awal Ramadan
Terungkap! Peneliti Temukan Indikasi Sungai Bawah Tanah di Balik Sinkhole Situjuah Sumbar

Adrin melanjutkan, citra satelit Google Earth sejak 2010 di kawasan tersebut sebenarnya telah menunjukkan adanya lembah atau ngarai kecil. Seiring waktu, proses erosi dan longsoran terus berlangsung sehingga lembah itu semakin melebar dan memanjang hingga membentuk lubang besar yang terlihat saat ini.

Ia juga menduga faktor gempa bumi berkontribusi mempercepat proses tersebut. Gempa berkekuatan 6,2 magnitudo yang terjadi di Aceh Tengah pada 2013 kemungkinan memperlemah struktur lereng sehingga memicu ketidakstabilan yang semakin besar.

Selain faktor geologi dan gempa, hujan lebat menjadi pemicu utama. Batuan tufa yang rapuh mudah jenuh oleh air, sehingga kehilangan daya ikat dan akhirnya runtuh. Kemiringan lereng yang curam akibat proses longsoran sebelumnya juga memperparah kondisi.

Adrin menjelaskan bahwa air permukaan dari saluran irigasi perkebunan turut berkontribusi terhadap percepatan longsor. Air yang mengalir deras dan meresap ke dalam tanah meningkatkan kelembaban lapisan tufa, sehingga memperbesar risiko runtuhan.

"Jika saluran irigasi terbuka dan air terus masuk ke dalam tanah, maka lapisan yang sudah rapuh itu menjadi semakin tidak stabil," ujarnya.

Adrin juga mengemukakan hipotesis adanya aliran air tanah di batas antara lapisan aliran lahar di dasar tebing yang lebih padat dan batu tufa di atasnya yang rapuh. Penggerusan di bagian kaki lereng oleh air tanah dapat menyebabkan bagian atas tebing kehilangan penyangga dan runtuh secara bertahap.

Menurut dia, fenomena ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan merupakan proses yang berlangsung puluhan hingga ratusan tahun. Gempa dan hujan hanya berperan mempercepat proses alami pembentukan lembah atau ngarai tersebut.

Adrin menyebut bahwa kondisi serupa dapat ditemukan di wilayah lain yang memiliki karakter geologi batuan gunung api muda. Ia mencontohkan Ngarai Sianok di Sumatera Barat yang terbentuk melalui proses geologi panjang terkait dengan aktivitas tektonik Sesar Besar Sumatera dengan karakter batuan serupa.

Baca Juga :
Komunitas Cek Bocek Tidak Dapat Diakui sebagai Masyarakat Adat, Ini Alasannya
Apa itu Gempa Megathrust yang Terjadi di Pacitan? Seberapa Besar Ancaman Bahayanya?
Awal Ramadhan Tahun Ini Berpotensi Beda Tanggal? Ini Penetapan Versi Pemerintah, BRIN, Muhammadiyah, dan NU

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jadwal Buka Puasa Wilayah Semarang Hari Ini 22 Februari
• 1 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Tragis! Bocah 12 Tahun di Sukabumi Tewas Diduga Dianiaya Ibu Tiri
• 18 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kemenperin Dorong IKM Komponen Otomotif Masuk Rantai Pasok Kendaraan Bermotor
• 4 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Ahli Gizi: Takjil Bukan Ajang Makan Besar, Ini Menu Buka Puasa Sehat
• 23 jam lalumediaindonesia.com
thumb
BRI Super League: Keluhan Milomir Seslija Setelah Kemenangan Persis Digagalkan PSBS, Sepak Bola Memang Kejam
• 13 jam lalubola.com
Berhasil disimpan.