jpnn.com, JAKARTA - Pertamina Patra Niaga berkomitmen untuk terus mendorong pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan di berbagai wilayah operasional perusahaan di seluruh Indonesia.
Melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), inisiatif pengelolaan sampah Pertamina Patra Niaga telah dijalankan di 58 lokasi di seluruh Indonesia.
BACA JUGA: Pesawat Air Tractor Jatuh, Duka Menyelimuti Keluarga Besar Pertamina
Dari pelaksanaan tersebut, sebanyak 4,7 ribu ton sampah per tahun berhasil dikumpulkan, dengan 2,3 ribu ton per tahun di antaranya telah dikelola dan dimanfaatkan kembali melalui proses daur ulang serta pengolahan organik.
Program ini melibatkan 2.470 masyarakat dan menghasilkan total nilai pendapatan masyarakat mencapai Rp 3,2 miliar dari akumulasi seluruh program.
BACA JUGA: 2 Cara Sederhana Ini Bisa Mendulang Berkah dan Pahala di Bulan Ramadan
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M. V. Dumatubun, menyampaikan Hari Sampah Nasional menjadi momentum refleksi sekaligus penguatan kolaborasi multipihak dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
“Pengelolaan sampah membutuhkan komitmen jangka panjang dan keterlibatan aktif masyarakat. Melalui program TJSL, Pertamina Patra Niaga mendorong terciptanya ekosistem pengelolaan sampah yang terstruktur, bernilai ekonomi, dan memberi dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujar Roberth.
BACA JUGA: Amankan Pasokan BBM & LPG Sepanjang 2026, Pertamina Patra Niaga Perkuat Kerja Sama Global
Salah satu implementasi pengelolaan terpadu dijalankan oleh Pertamina Patra Niaga melalui unit Fuel Terminal Boyolali dengan program TPS 3R Resik di Desa Butuh.
Fasilitas ini mampu mengelola 480 ton sampah per tahun yang berasal dari 310 Kepala Keluarga dan 115 pelaku usaha di sekitar desa. Sistem pengelolaan yang konsisten dan partisipatif tersebut menghasilkan nilai ekonomi hingga Rp 36 juta per tahun sekaligus memperkuat kualitas kebersihan dan kesehatan lingkungan desa.
Selain itu, Pertamina Patra Niaga juga membina 15 Bank Sampah yang mengembangkan budidaya maggot sebagai solusi pengolahan sampah organik.
Inisiatif ini membentuk rantai pasok pengolahan sampah organik yang berkelanjutan dengan produk turunan berupa pupuk kompos, eco-enzyme, dan pakan ternak.
Program ini berkontribusi dalam mengurangi volume sampah organik, menghasilkan produk ramah lingkungan, membuka peluang usaha lokal, serta memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat.
Dampak pemberdayaan tersebut turut dirasakan oleh program Kampung Pesisir Berdaya yang dijalankan oleh unit Fuel Terminal Medan di mana masyarakat berkomitmen menjaga dan melestarikan wilayah pesisir dengan mengelola Bank Sampah Horas Bah.
Kegiatan Bank Sampah Horas Bah ini mampu mengumpulkan hingga 10 ton sampah per tahun dan menghasilkan dampak ekonomi sebesar Rp 1,925 juta per bulan.
Melalui berbagai inisiatif tersebut, Pertamina Patra Niaga berkomitmen untuk terus memperluas dampak program pengelolaan sampah sebagai bagian dari kontribusi perusahaan dalam memperkuat ketahanan lingkungan dan mendorong kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan di berbagai wilayah Indonesia.(chi/jpnn)
Redaktur & Reporter : Yessy Artada



