Bisnis.com, JAKARTA — Harga emas yang menembus level tinggi kerap memicu dua respons investor, takut ketinggalan momentum atau justru ragu karena khawatir membeli di puncak harga.
Namun, saat harga emas hampir menyentuh Rp3 juta per gram, apakah masih menjadi investasi yang menguntungkan? Anda bisa membaca beberapa tips di bawah ini, agar tetap memahami kondisi investasi.
Simak tips investasi emas agar tetap berpeluang untung ketika harga sedang naik: 1. Perhatikan Faktor MakroekonomiDilansir analisis CBS, Sabtu (21/2/2026), sebelum memutuskan membeli emas, investor perlu melihat kondisi makro terlebih dahulu. Dua indikator utama yang biasanya memengaruhi harga emas adalah suku bunga dan pergerakan dolar AS.
Emas cenderung bergerak berlawanan arah dengan imbal hasil obligasi dan suku bunga. Ketika suku bunga turun atau stabil, emas biasanya lebih menarik. Demikian pula saat dolar AS melemah, harga emas umumnya menguat. Dengan memahami latar belakang makro, investor dapat menghindari keputusan yang melawan arah tren pasar.
2. Ikuti Tren, Jangan Lawan Momentum
Dilansir dari Investing, saat harga emas mencetak rekor, banyak investor tergoda untuk menunggu koreksi tajam. Namun, strategi melawan tren justru sering berujung kerugian.
Investor disarankan fokus pada struktur tren jangka menengah hingga panjang. Koreksi kecil atau konsolidasi sering kali menjadi momentum masuk yang lebih sehat dibanding membeli saat harga melonjak tajam dalam waktu singkat.
3. Gunakan Strategi Cicil (Dollar Cost Averaging)
Ketika harga sudah tinggi, menginvestasikan dana sekaligus dalam jumlah besar berisiko. Strategi pembelian bertahap atau Dollar Cost Averaging (DCA) dapat membantu meredam volatilitas.
Dengan membeli emas secara rutin dalam nominal tetap, investor memperoleh harga rata-rata yang lebih stabil. Pendekatan ini dinilai lebih aman dibandingkan melakukan pembelian besar dalam satu waktu. Strategi ini juga relevan bagi investor ritel yang ingin tetap masuk pasar tanpa harus menebak titik harga terbaik.
4. Pilih Instrumen yang Efisien
Penasihat keuangan lebih menyarankan eksposur emas melalui exchange-traded fund (ETF) berbasis emas fisik dibandingkan membeli emas batangan secara langsung.
ETF emas dinilai lebih likuid, efisien dari sisi biaya, dan tidak memerlukan biaya penyimpanan seperti emas fisik. Dua ETF emas terbesar secara global antara lain SPDR Gold Shares (GLD) dan iShares Gold Trust (IAU).
Meski demikian, investor di Indonesia juga dapat mempertimbangkan kombinasi emas fisik untuk simpanan jangka panjang dan emas digital melalui platform yang diawasi regulator untuk kebutuhan likuiditas.
5. Batasi Porsi dalam Portofolio
Emas memang dikenal sebagai aset lindung nilai (safe haven). Namun, bukan berarti porsinya harus dominan dalam portofolio.
Dilansir dari Hargreaves Lansdown (HL), penasihat keuangan menyarankan alokasi emas tidak lebih dari 3% dari total portofolio investasi. Emas berfungsi sebagai penyeimbang ketika pasar saham bergejolak, bukan sebagai sumber pertumbuhan utama.
Diversifikasi tetap menjadi prinsip utama agar risiko tidak terkonsentrasi pada satu instrumen.
6. Waspadai Kalender Ekonomi
Harga emas sangat sensitif terhadap rilis data ekonomi seperti inflasi, data tenaga kerja, serta kebijakan bank sentral. Pergerakan harga bisa sangat volatil dalam waktu singkat.
Karena itu, investor perlu memperhatikan jadwal rilis data penting dan menghindari keputusan impulsif saat terjadi lonjakan harga akibat sentimen sesaat.
7. Fokus Jangka Panjang
Secara historis, emas cenderung berkinerja baik saat ketidakpastian global meningkat, seperti tensi geopolitik atau perlambatan ekonomi. Emas sering kali menjadi pelindung nilai ketika pasar keuangan bergejolak.
Namun, emas bukan instrumen untuk keuntungan cepat. Selisih harga beli dan jual (spread) perlu diperhitungkan, terutama pada emas fisik. Investor yang ingin memperoleh hasil optimal sebaiknya menempatkan emas sebagai bagian dari strategi jangka menengah hingga panjang.





