Minggu sebelum Ramadan pertama anak perantauan ini dimulai, saya memutuskan untuk kembali pulang demi perbaikan gizi. Rupanya, untuk mendapat makanan bergizi pun tak bisa didapat secara percuma.
Saya perlu mengeluarkan ongkos transport. Di era yang sangat dimudahkan dengan teknologi ini, kita bisa memanfaatkan berbagai hal yang tersedia hanya dengan menggenggam sebuah benda ramping berbentuk persegi panjang.
Saya memutuskan memesan ojek online untuk menuju ke Stasiun Tandes. Selama perjalanan, hati saya bernapas lega setelah menyelesaikan dua minggu pertama di semester genap.
Namun, tidak dengan bau menyeruak dari tumpukan sampah yang berada tepat di depan sebuah kos yang baru saja dibangun. Sebenarnya, saya tak terlalu kaget karena saya melewatinya setiap kali akan pergi ke kampus, meskipun pemandangan dan wanginya selalu menarik perhatian saya.
Pukul 10.50 WIB, Commuter Line Jenggala menuju Stasiun Indro akan diberangkatkan. Saya memilih berangkat lebih awal agar tidak terburu-buru, mengingat jalanan Surabaya yang selalu ramai kendaraan berlalu-lalang.
Pemandangan yang senantiasa melewati mata setiap kali pulang-pergi. Gedung-gedung tinggi bak pencakar langit, rumah-rumah besar di perumahan mewah, mal terbesar se-Indonesia, sambil mencuci mata menatap taman-taman nan berbunga di tengah jalanan kota.
Hiruk-pikuk kota terasa syahdu dengan tata ruang teratur yang mencerminkan kualitas hidup masyarakat sekitarnya. Aktivitas konstan yang tak lain berupa penampakan orang dewasa berjas hendak bekerja, pelajar dan mahasiswa dengan berbagai kesibukannya.
Surabaya Bus, motor matic, dan mobil mewah hingga berdaya listrik yang berjalan konsisten dan tak terlalu bising terasa menenangkan bagi saya. Dalam studi psikologi lingkungan, kondisi ini disebut sebagai arousal optimum theory—kondisi lingkungan berada di tingkat arousal sedang, sehingga membuat seseorang merasa nyaman dan fokus.
Perjalanan tak berhenti di sana. Kami melaju menuju titik tujuan pemberhentian. Namun, hal tak biasa saya alami. Bapak ojol itu mengarahkan motornya menuju sebuah perkampungan yang belum pernah saya lewati sebelumnya.
Saya berpikir bahwa mungkin akan lebih cepat lewat jika saya melewati jalan ini. Memasuki pemukiman warga, saya melihat barang-barang rongsokan tergeletak begitu saja di depan rumah mereka. Entah apa alasannya, saya hanya cukup terkejut karena pertama kali melihatnya.
Semakin memasuki perkampungan, jalanan sudah tidak lagi beraspal, tetapi penuh pasir dan bebatuan. Saya mengamati setiap hal di sekeliling. Bau tak sedap menyeruak, dan benar saja, mata saya terbelalak melihat gunungan sampah tepat di samping kiri jalan.
Tak jauh dari sana, nampak ibu-ibu yang asyik bercengkrama di sebuah warung kopi. Di satu sisi, saya mendapat bahan untuk tugas case study lingkungan. Namun, di sisi lain, terlalu banyak rangsangan yang membuat saya sulit berkonsentrasi. Hal ini dapat dijelaskan melalui attention-load theory.
Keluar dari perkampungan warga, kami kembali ke jalan raya dengan berbagai toko dan rumah-rumah modern memadati sisi jalan. Saya kembali berpikir bahwa di satu wilayah yang masih sama, kita bisa menemukan ketimpangan sosial yang sering luput akan perhatian.
Berdasarkan environmental stress theory, lingkungan tertentu bisa menjadi sumber stres jika dianggap mengancam atau melebihi kemampuan individu untuk mengatasinya. Sumber stres lingkungan bisa berasal dari polusi, kepadatan, kebisingan, dan hal lain yang kita maknai sebagai suatu tantangan.
Sesampainya di Stasiun Tandes, saya memiliki waktu sekitar 10 menit sebelum kereta tiba. Saya memutuskan membeli minuman di warung dekat rel. Sambil menunggu, saya melihat kereta kargo bersuara menggelegar dengan cepat melintas.
Tak terbayang bagi saya, bagaimana masyarakat yang tinggal di sekitar rel itu harus merasakan degup jantung akibat lalu lalang kereta api setiap harinya. Saya teringat sebuah teori tingkat adaptasi, yang menyadarkan saya bahwa masyarakat yang tinggal dekat rel kereta mungkin tidak lagi terganggu dengan suara keras kereta karena telah beradaptasi dan terbiasa dengan kondisi tersebut.
Sepuluh menit berlalu, kereta lokal pun tiba. Hanya dengan membayar Rp4000, saya bisa menikmati pemandangan sawah yang memanjakan mata, jauh dari pusat keramaian kota. Memandangi sekumpulan kendaraan yang menunggu palang kereta dibuka dari balik jendela.
Dari dalam kereta, suasana cenderung sepi dan santai, dengan mayoritas orang dewasa memakai masker sambil memandangi gawainya—ada yang memakai headset, bahkan terlelap tidur.
Beberapa suara hanya terdengar dari anak kecil yang menonton YouTube. Ini tercipta berdasarkan behavior constraint theory, yakni seseorang akan membuat batasan imajiner sebagai mekanisme perlawanan akibat lingkungan yang membatasi kebebasan individu.
Saya pun melalui perjalanan sambil memutar lagu Di Akhir Perang karya Nadin Amizah. Seorang petugas kebersihan berkeliling menawarkan sampah yang hendak dibuang. Meski termasuk fasilitas publik yang ekonomis, setiap gerbong kereta dirawat bersih dan memastikan kenyamanan penumpang.
Saya menyadari perbedaan karakteristik masyarakat di tiap tempat yang saya temui. Saya mengamati bahwa lingkungan secara diam-diam membentuk kecenderungan perilaku manusia. Hal ini sesuai dengan teori ekologi Hawley (Himmam dan Faturochman, 1994).
Waktu menunjukkan pukul 11.15 WIB. Tibalah saya di kota tercinta, kota industri padat pabrik dan truk-truk besar yang kerap kali melintasi pusat kota. Di lain kesempatan, saya akan mengajak Anda mencicipi martabak usus, otak-otak bandeng, sego roomo, dan masih banyak lainnya.





