Siang itu, pukul 12.47, matahari berdiri tegak di atas kota. Aspal memantulkan panas dan udara terasa begitu menyengat. Di sebuah ruang kerja sederhana, seorang pria duduk termenung.
Tak ada siapa pun di ruangan itu. Tangannya diam. Tenggorokannya kering. Di depannya tergeletak segelas air. Tak ada kamera, tak ada saksi, dan tak ada seorang pun yang akan tahu bila ia meminum air itu. Namun ia diam saja, sama sekali tidak menyentuh gelas itu. Ternyata ia sedang berpuasa.
Itulah salah satu fenomena berpuasa, yang sejatinya bukan sekadar tentang menahan lapar dan haus. Puasa adalah tentang kesadaran bahwa ada Yang Melihat, meski tak ada seorang pun manusia yang melihatnya.
Dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Nabi Muhammad dan dicatat dalam Shahih al-Bukhari serta Shahih Muslim, Allah SWT berfirman, "Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya."
Kalimat ini turun lebih dari empat belas abad lalu, tetapi gaungnya masih terasa hingga hari ini—di kantor-kantor, di jalanan, di tempat ibadah, dan di beragam tempat lainnya.
Puasa memang berbeda dengan ibadah lain. Puasa tidak meninggalkan jejak fisik yang jelas. Salat memiliki riwayat gerakan. Sedekah memiliki riwayat transaksi. Haji memiliki riwayat perjalanan. Puasa justru tidak memiliki jejak dan tidak terlihat. Dan di situlah letak kekuatan puasa, lantaran sesuatu yang tidak terlihat tidak mudah untuk dipalsukan.
Pertanyaannya: Mengapa di antara semua ibadah itu, hanya puasa yang secara langsung disebut sebagai urusan Tuhan?
Untuk memahami itu, kita harus melihat apa yang sebenarnya terjadi pada saat manusia sedang berpuasa.
Secara alamiah, tubuh manusia adalah rezim yang terbiasa berkuasa. Ia memerintah tanpa perlawanan. Ketika lapar, tubuh harus diberi makan. Ketika haus, tubuh harus diberi minum. Ketika tubuh menginginkan sesuatu, ia harus dipenuhi. Namun saat Ramadan tiba, sebuah revolusi diam-diam berlangsung.
Tiba-tiba, tubuh tidak lagi berdaulat. Ia meminta, tetapi tidak selalu diberi. Ia memohon, tetapi harus menunggu. Dalam perspektif psikologi kontemporer, fenomena pengendalian impuls ini adalah inti dari kematangan mental seseorang.
Penelitian yang dikenal sebagai "Stanford Marshmallow Experiment" menunjukkan bahwa kemampuan menunda kepuasan berkorelasi dengan stabilitas emosional dan keberhasilan hidup seseorang dalam jangka panjang.
Pada titik ini, puasa melampaui sekadar pengendalian diri. Puasa bukan hanya latihan psikologis. Ia adalah latihan teologis—lantaran yang menahan manusia saat berpuasa bukan sekadar kehendaknya, melainkan juga kesadaran akan hadirnya Tuhan.
Data kriminalitas di banyak negara mayoritas Muslim menunjukkan pola yang menarik selama Ramadan berlangsung, di mana tingkat kejahatan tertentu menurun. Alasannya bukan lantaran aparat penegak hukum bertambah. Itu terjadi lantaran kesadaran religius bertambah baik.
Meski tak ada polisi di dalam dada manusia, ada sesuatu yang lebih kuat dari polisi yang mengawasi seseorang saat bulan Ramadan berlangsung. Ada kesadaran bahwa Tuhan sedang melihat mereka yang sedang berpuasa. Inilah dimensi terdalam berpuasa: bahwa puasa itu membangun pengawasan internal.
Al-Ghazali—dalam Ihya Ulum al-Din—menyebut puasa sebagai ibadah yang menghancurkan dominasi syahwat. Ibadah puasa menghancurkan kekuatan impulsif yang sering menjadi akar penyimpangan manusia. Puasa menahan manusia dari kemungkinan berbuat sesuatu yang lebih rendah dari kemanusiaannya sendiri.
Dalam pandangan Ibnu Arabi, ibadah sejati adalah ibadah yang terjadi di ruang di mana identitas sosial manusia tidak lagi relevan. Ruang di mana tidak ada status, tidak ada gelar, dan tidak ada reputasi.
Puasa membawa manusia menuju ruang itu. Ruang di mana satu-satunya hubungan yang tersisa adalah hubungan antara makhluk hidup dan Penciptanya.
Meski semua amal memiliki ukuran, memiliki angka, dan bisa ditimbang, puasa berbeda. Allah SWT tidak menyebutkan ukuran pahalanya, tidak menyebut pahalanya sepuluh kali lipat, dan tidak menyebut pahalanya tujuh ratus kali lipat.
Allah SWT hanya berkata bahwa "Puasa itu untuk-Ku." Para ulama memahami ini sebagai isyarat bahwa puasa bukan sekadar amal, melainkan juga peristiwa eksistensial di mana manusia melepaskan ilusi kekuasaan atas dirinya sendiri.
Puasa mengajarkan pada seseorang bahwa makan bukan karena ia bisa, tapi karena ia diizinkan. Ia minum bukan karena ia mampu, tapi karena ia diberi waktu. Karena itu, Ramadan menjadi pengingat bahwa hal paling sederhana—meski itu hanya seteguk air—adalah anugerah Tuhan.
Seyyed Hossein Nasr menyebut praktik spiritual seperti puasa adalah cara manusia mengingat kembali posisi ontologisnya—bahwa manusia bukan pusat realitas.
Manusia tidak lain adalah bagian dari realitas yang lebih besar. Dan puasa dilakukan dengan cara paling sederhana. Puasa membuat manusia lapar dan haus. Dan dalam kondisi itu, manusia belajar sesuatu yang tidak bisa diajarkan oleh buku mana pun: bahwa manusia tidak berkuasa atas apa pun, bergantung hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta diawasi dan dilihat, meski tak ada seorang pun disekitarnya.
Menjelang maghrib, pria di ruangan itu masih duduk di tempat yang sama. Gelas air itu masih ada di depannya. Tenggorokannya masih kering. Namun, ada sesuatu yang berubah. Ia tak lagi melihat air di gelas itu sebagai benda. Ia melihatnya sebagai izin.
Dan ketika azan maghrib akhirnya terdengar, ia meneguk air itu perlahan. Seteguk demi seteguk, seperti orang yang sedang khidmat menerima limpahan rahmat dan karunia Tuhan.
Di momen itulah puasa mencapai tujuannya yang paling hakiki. Bahwa puasa bukan sekadar menahan haus dan lapar. Puasa mengajarkan manusia bahwa hidup ini penuh dengan anugerah Tuhan yang puspa warna.
Dan mungkin, itulah sebabnya Allah berfirman, "Puasa itu untuk-Ku." Karena hanya Tuhan yang tahu siapa yang benar-benar menahan diri ketika tidak ada seorang pun yang melihatnya. Dan hanya Tuhan yang tahu, siapa yang dalam lapar dan hausnya akhirnya menemukanNya.




