Ramadan dan Renungan Perjalanan (2)

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Menjelang sahur, kawasan Pasar Minggu diguyur hujan cukup deras, sementara saya harus melakukan perjalanan ke Bandung sesaat setelah subuh. Hujan yang lumayan deras menjadi tantangan karena saya harus memesan ojek online menuju travel pool.

Subuh ini, saya berharap hujan tidak turun, tetapi semesta berjalan sesuai ceritanya: tetap mengirimkan hujan tidak telat sedikit pun. Pilihan saya hanya dua: menerima dengan tetap berpikir solusi atau mengumpat dalam hati menyalahkan kondisi. Sering kali, apa yang kita harapkan tidak sejalan dengan realitas yang dihadapi.

Ketidakmampuan saya mengubah kejadian-kejadian alam menyadarkan saya bahwa kehendak bebas manusia tidak absolut—manusia pasti memiliki keterbatasan dalam banyak hal. Ada begitu banyak momen dalam hidup yang membuat kita sadar bahwa kita hanyalah bagian kecil dari kehidupan ini.

Malam sebelum berangkat ke Bandung, saya bertanya secara retoris kepada istri: Sampai kapan rutinitas LDM akan dijalani? Esok, bulan depan, tahun depan, atau selamanya?

Tidak ada jawaban pasti dan yang ada hanyalah keteguhan hati untuk tetap melanjutkan perjalanan—setapak kehidupan yang kita hanya miliki punya sangat sedikit kendali di dalamnya.

Pada akhirnya, kita tidak butuh jawaban atas pertanyaan-pertanyaan eksistensial yang kerap kali muncul di kepala, tetapi yang kita butuhkan hanyalah bergerak setapak demi setapak untuk mencapai tujuan akhir.

Saya dan mungkin sebagian dari pembaca minimal pernah menjumpai pengalaman hidup ketika kita dengan begitu keras berusaha mendapatkan sesuatu tetapi tidak jua berhasil. Saat semua usaha telah dilakukan dan merasa tak berdaya lagi, tiba-tiba saja ada jalan keluar yang tak disangka-sangka.

Maka, ketidaktahuan kita pada hasil akhir menyadarkan kita bahwa tugas manusia hanyalah bergerak dan berusaha semaksimal mungkin karena sering kali hasil akhir tidak seperti yang dibayangkan.

Ketika kita terus bergerak, akan ada dua kemungkinan yang akan terjadi dalam hidup kita, yaitu berhasil atau gagal. Sementara itu, ketika kita berhenti bergerak, tentu opsinya hanya satu, yaitu gagal.

Setiap kali saya melakukan perjalanan, saya selalu membayangkan bahwa hidup adalah perjalanan yang harus dituntaskan. Demikian pula dengan bulan Ramadan yang selalu kita temui setiap tahun. Bulan Ramadan merupakan refleksi perjalanan kita selama hidup.

Perjalanan serupa dengan refleksi kehidupan yang kita jalani. Berbagai dinamika terjadi di dalamnya: bahagia, sedih, lelah, tertawa, ataupun menangis. Namun yang terpenting adalah bagaimana sikap kita menyelesaikan perjalanan yang sedang ditempuh.

Satu hal yang pasti bahwa tidak ada yang abadi dalam perjalanan, semua akan silih berganti. Maka ketika sedih, kita tidak terpuruk, sementara ketika sedang bahagia, kita tidak merasa besar kepala—karena sejatinya apa yang terjadi dalam perjalanan hidup, selalu silih berganti.

Dua hari lalu ketika menghabiskan waktu rebahan di rumah, saya scroll media sosial tentang euforia menyambut bulan Ramadan. Saya menikmati suasana dan musik yang membangkitkan kembali serpihan ingatan saya pada Ramadan masa kecil dulu.

Pada kolom komentar, saya membaca beberapa pengakuan jujur dengan apa juga saya rasakan.

"Ramadan sudah tidak seperti dulu lagi, rasanya begitu sangat berbeda."

"Ramadan tidak lagi seru seperti dulu."

Dan begitu banyak komentar senada yang menyisakan rasa pilu mengenai euforia Ramadan yang tidak lagi mereka rasakan dan suasana yang sudah sangat berbeda seperti saat masih remaja.

Saya pun demikian, euforia Ramadan sudah sangat berbeda ketika saya sudah merantau. Tidak ada lagi bayangan kehangatan sahur bersama keluarga, buka puasa dengan aneka makanan olahan ibu, dan memori indah lainnya tentang Ramadan.

Namun, apakah kita lantas tidak antusias menyambut Ramadan?

Seharusnya, pemaknaan terhadap momen bulan Ramadan layaknya perjalanan panjang dan setiap fase Ramadan yang kita jumpai dimaknai lebih filosofis, tidak lagi membayangkan keceriaan layaknya anak-anak.

Jika pada masa kecil kita bergembira menyambut Ramadan karena kehangatannya, makanan melimpah, baju baru menjelang lebaran, bermain di masjid bersama teman saat tarawih, dan momen-momen lain yang selalu dirindukan, ketika kita beranjak dewasa, pemaknaan terhadap Ramadan bukan lagi secara fisik dan romantisme masa kecil, melainkan seharusnya dimaknai lebih mendalam sebagai perjalanan spiritual. Ramadan menghadirkan ruang bagi kita untuk mengkalibrasi perjalanan hidup kita selama sebelas bulan yang lalu.

Ramadan selalu sama, tetapi perjalanan hidup kita yang semakin bergerak maju. Mustahil untuk menghadirkan suasana Ramadan sebagaimana yang kita rasakan saat remaja.

Dalam kehidupan ini, manusia merupakan "homo viator," makhluk yang sedang dalam perjalanan. Makna perjalanan bisa diamplifikasi dalam banyak hal, termasuk proses pencarian makna diri, menemukan jawaban atas teka-teki kehidupan, mencari solusi atas masalah yang dihadapi, dan berbagai dinamika kehidupan lainnya.

Kita harus menyadari bahwa setiap detik, kita selalu berubah, bergerak, dan bertumbuh. Saya yang beberapa menit lalu mengetik kalimat pembuka bukan lagi saya yang sedang mengetik kalimat penutup—karena sejatinya detik demi detik yang dilalui adalah perubahan.

Maka demikianlah adanya Ramadan yang merupakan fase demi fase perjalanan kita sebagai manusia yang bertumbuh. Jika kita menginginkan nuansa Ramadan—sebagaimana yang kita rasakan dulu—itu artinya kita tidak sedang bertumbuh.

Apakah ada manusia yang tidak bergerak dan bertumbuh? Banyak. Mereka adalah orang-orang yang menolak perubahan dan terpenjara oleh masa lalu karena tidak mampu menyadari bahwa kehidupan adalah garis perjalanan panjang yang harus dilewati.

Sesekali kita perlu berhenti di persimpangan untuk meregangkan kaki, tetapi jangan sampai terlena karena persimpangan bukan tujuan akhir. Selama kita menyadari eksistensi kita di dunia, pada dasarnya kita belum tiba pada titik akhir.

Kesadaran akan diri sendiri merupakan pembeda paling konkret antara manusia dengan makhluk lainnya. Manusia menyadari keberadaannya, mencemaskan seperti apa masa depannya, serta merasa sedih pada masa lalunya. Kesadaran diri itulah yang pada akhirnya membawa manusia pada dua jenis kondisi: kebahagiaan atau kesengsaraan.

Namun ada satu kesadaran yang sangat dibutuhkan saat ini: kesadaran sosial, yaitu menyadari bahwa kemanusiaan sedang tercabik di belahan dunia lain. Ramadan seharusnya menjadi momentum bagaimana seorang Muslim mengedepankan kesadaran sosial sebagai manifestasi konkret dari nilai-nilai yang terkandung dalam Ramadan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Paris Saint-Germain rebut puncak klasemen setelah tundukkan Metz 3-0
• 7 jam laluantaranews.com
thumb
Kenyang Santap Takjil Saat Berbuka Berisiko Kekurangan Protein, Ini Penjelasan Pakar Gizi
• 6 jam lalurepublika.co.id
thumb
Puasa Hari ke-4, Harga Emas UBS Rp3,061 Juta/gr dan Galeri24 Rp3,047 Juta/gr
• 4 jam lalutvonenews.com
thumb
Jadwal Imsak dan Buka Puasa Papua dan Sekitarnya pada 22 Februari 2026
• 12 jam lalubisnis.com
thumb
Asido Hutabarat: Wajib Ada Mediasi Sebelum Perkara Perdata Masuk Pengadilan
• 22 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.