Jakarta, VIVA – Pemerintah mengaku bakal segera berkoordinasi dengan pengusaha hingga asosiasi terkait menyusul temuan harga cabai rawit merah hingga Rp140 ribu per kilogram di Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Sehingga dalam waktu dekat bisa segera kembali stabil.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani sebelumnya telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) di Pasar Minggu, pada Jumat (20/2). Dalam sidak itu, Rizal bersama jajaran melakukan pengecek stok dan harga komoditas seperti beras, minyak goreng subsidi merek MinyaKita, termasuk gula pasir.
"Jadi ini akan kami koordinasikan dengan pengusaha-pengusaha cabai, asosiasi cabai, agar harganya diturunkan, mudah-mudahan kembali standar menghadapi Lebaran nanti," kata Rizal dikonfirmasi di Jakarta, dikutip Minggu, 22 Februari 2026.
Dalam peninjauannya, Rizal turut mengecek harga pangan strategis lainnya seperti bawang merah, bawang putih, daging ayam, daging sapi, termasuk cabai merah keriting hingga cabai rawit merah.
"Memang (hasil sidak) ada beberapa yang menjadi koreksi kami adalah yang pertama adalah cabai. mohon maaf. Cabai ini agak naik karena musim penghujan yang biasanya (cabai merah keriting) hanya Rp50.000 per kilo, ini naik menjadi Rp60.000 per kg," ujarnya.
Rizal menilai kenaikan harga cabai masih wajar, karena hujan terus mengguyur sepekan terakhir sehingga pasokan terganggu, distributor kesulitan menyiapkan barang, sehingga harga komoditas pangan itu naik sekitar Rp10.000.
"Sedangkan untuk cabai rawit yang merah, juga mengalami kenaikan sekitar Rp20.000," tuturnya.
Menghadapi kondisi itu, pihaknya segera berkoordinasi dengan para pengusaha dan asosiasi cabai agar harga dapat ditekan kembali ke level normal menjelang Lebaran.
Harga cabai rawit merah di Pasar Minggu menembus Rp140.000 per kilogram dalam dua hari terakhir, naik dari kisaran normal Rp90.000 hingga Rp100.000 per kilogram sebelum Ramadhan.
Sarjono, salah satu pedagang, mengatakan lonjakan terjadi sejak awal puasa. Cabai rawit merah kualitas petikan bersih tanpa gagang dijual Rp140.000, sedangkan sebelumnya tertinggi hanya sekitar Rp90.000.
Ia menjelaskan kenaikan dipicu faktor cuaca. Musim hujan membuat petani enggan memanen karena risiko kerusakan, sehingga pasokan berkurang sementara permintaan pasar tetap tinggi.




