Penelitian terbaru menunjukkan bahwa penargetan protein epigenetik tertentu dapat menonaktifkan gen pemicu kanker secara permanen, bahkan setelah pengobatan dihentikan. Selama ini, terapi leukemia berlangsung lama karena mekanisme biologis tertentu, namun para peneliti kini menemukan cara untuk memutus siklus tersebut. Cara nonaktifkan gen kanker secara permanen Lantas, bagaimana caranya gen kanker bisa dinonaktifkan secara permanen? Simak selengkapnya.
Para ilmuwan di Monash University yang bekerja sama dengan Harvard University melaporkan bahwa mereka berhasil menemukan cara untuk menonaktifkan gen-gen yang membantu sel kanker bertahan hidup secara permanen. Jika pendekatan ini terbukti efektif dalam pengujian lanjutan, temuan tersebut berpotensi menjadi model pengobatan baru yang berlangsung lebih singkat dengan efek samping yang jauh lebih ringan.
Fokus penelitian ini adalah terapi epigenetik. Epigenetik sendiri dapat dianalogikan sebagai “instruksi operasional sel” yang menentukan kapan suatu gen harus aktif dan kapan harus diam.
Ketika mutasi kanker terjadi, instruksi ini bisa rusak dan mengunci program pertumbuhan berbahaya dalam posisi "aktif" sepanjang waktu, terutama pada beberapa bentuk leukemia akut yang agresif. Dalam penelitian yang berjudul DOT1L provides transcriptional memory through PRC1.1 antagonism yang diterbitkan di jurnal Nature Cell Biology pada 3 Februari 2026, dijelaskan bahwa para peneliti mengidentifikasi peran penting dua protein epigenetik bernama DOT1L dan Menin.
Menin dan DOT1L adalah bagian dari perangkat molekuler yang digunakan sel untuk mengatur aktivitas gen, termasuk sinyal kimia yang membantu mempertahankan program gen dari waktu ke waktu. Melansir dari laman Nature Cell Biology, peneliti menemukan bahwa ketika Menin dihambat dalam waktu yang cukup lama, pelindung yang dihasilkan DOT1L ini perlahan melemah.
Kondisi ini memungkinkan sistem penekan kanker alami tubuh yang disebut kompleks Polycomb atau PRC1.1 untuk bekerja dan mengunci gen-gen berbahaya secara permanen. Lebih mengejutkan lagi, penekanan gen tersebut tetap berlangsung bahkan setelah obat dihentikan, karena sistem Polycomb sudah meninggalkan tanda penekan yang bersifat stabil dan dapat diwariskan ke sel-sel berikutnya.
“Kami berpotensi mengidentifikasi cara baru untuk mengeksploitasi kelemahan kanker,” kata Peneliti Senior dari Monash University's School of Translational Medicine, Omer Gilan, dikutip dari laman Scitech Daily, Jumat, 20 Februari 2026.
Gilan menyebut temuan ini membuka cara baru untuk mengeksploitasi kelemahan kanker. Ia juga menekankan bahwa para dokter kini berpeluang memanfaatkan hasil penelitian ini untuk meningkatkan respons pengobatan sekaligus mengurangi efek samping bagi pasien.
Menurutnya, menyaksikan orang terdekat menjalani pengobatan kanker adalah pengalaman yang sangat berat. Karena itu, upaya membuat terapi lebih mudah dijalani sekaligus lebih efektif menjadi hal yang sangat penting.
Penulis utama studi di Nature Cell Biology sekaligus kandidat PhD dari Monash University, Daniel Neville, menjelaskan bahwa temuan ini berangkat dari konsep “memori” seluler yang berkaitan dengan protein epigenetik DOT1L pada sel kanker. Obat yang digunakan untuk menargetkan Menin mampu menghapus memori tersebut, sehingga sel kanker tetap tertekan dan terus mati meski pengobatan telah dihentikan.
Penemuan ini rencananya akan diuji dalam uji klinis yang dijalankan oleh Universitas Monash dan The Alfred, pada akhir tahun ini. “Ini adalah langkah maju yang besar untuk terapi epigenetik, dan kami berharap ini akan mengubah cara pengobatan kanker secara lebih umum,” jelas Neville
Ahli Hematologi Klinis dan Laboratorium dari The Alfred, Shaun Fleming, mengatakan pemahaman yang lebih baik tentang cara kerja terapi baru ini akan memungkinkan penggunaannya secara lebih efektif dan aman di masa mendatang. “Seiring dengan berlanjutnya uji klinis inhibitor Menin, dan khususnya memasuki studi kombinasi, pemahaman yang lebih baik tentang cara kerja terapi baru ini dapat memungkinkan kita untuk memanfaatkannya secara lebih efektif dan dengan tingkat keamanan yang lebih tinggi di masa mendatang,” kata Fleming.
Meskipun ini baru langkah awal menuju uji klinis, temuan ini dianggap sebagai lompatan besar dalam dunia terapi epigenetik. Para peneliti berharap pendekatan ini tidak hanya mengubah cara pengobatan leukemia, tetapi juga membuka jalan bagi penanganan berbagai jenis kanker lainnya secara lebih luas.
Baca Juga :
Lestari Moerdijat: Tingkatkan Pemahaman Masyarakat terkait Penanganan Kanker yang TepatCek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(CEU)





