Ramadhan 2026, Ketakwaan Mendalam dan Pola Keseharian yang Berubah

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

Apa makna Ramadhan 2026 bagi masyarakat di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Turki, Indonesia, dan Malaysia? Lembaga riset pasar dunia YouGov melakukan survei dengan total responden 6.308 di lima negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam tersebut.

Survei yang dilakukan pada Desember 2025 ini menemukan, bulan puasa Ramadhan menjadi momentum untuk meningkatkan ketakwaan dan refleksi nilai-nilai keagamaan. Makna ini paling banyak diungkapkan oleh responden di kelima negara, dengan rincian 78 persen responden di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab atau UEA (78 persen), diikuti oleh responden di Turki (68 persen), Indonesia (62 persen), dan Malaysia (56 persen).

Riset ini menemukan substansi utama yang sama dalam memaknai datangnya bulan Ramadhan oleh bagian besar publik di lima negara tersebut. Hal ini tidak terlepas dari pemaknaan mendalam umat Islam terhadap tujuan utama puasa, yakni ketakwaan dan bulan penuh ampunan. Refeleksi makna Ramadhan ini sejalan dengan aktivitas yang akan mereka lakukan sepanjang bulan puasa, yakni dengan memperdalam rutinitas keagamaan.

Tujuh dari 10 responden di Indonesia, Arab Saudi, UEA, dan Turki menyatakan akan meningkatkan aktivitas keagamaan dan spritualitas iman pada bulan Ramadhan.  Khusus di Indonesia, terdapat 73 persen responden yang mengungkapkan bakal meningkatkan ketakwaan di bulan Ramadhan.

Di Indonesia, beragam kegiatan untuk meningkatkan ketakwaan dilakukan masyarakat dalam bulan puasa Ramadhan, mulai dari melakukan kajian religi, kultum harian, tadarus dan pengajian menjelang berbuka puasa, shalat Tarawih, hingga pesantren kilat.

Pesantren kilat, misalnya, dilakukan di sekolah-sekolah madrasah. Direktorat Jenderal Pendidikan Islam menerbitkan Petunjuk Teknis Pembelajaran pada Bulan Ramadhan Tahun 2026. Pedoman yang tertuang melalui Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 1290 Tahun 2026 ini antara lain mengatur tipe model pembelajaran bagi siswa Madrasah Aliyah dengan model pesantren kilat minimal tiga hari dua malam.

Selain ketakwaan, makna terbanyak berikutnya terkait nilai penting Ramadhan ialah kebersamaan dan kehangatan keluarga. Kebersamaan dalam momentum Ramadhan ini paling banyak diungkapkan oleh responden di Indonesia (51 persen), disusul oleh responden di Arab Saudi (49 persen), dan UEA (49 persen).

Lebih dari separuh responden di lima negara tersebut juga mengungkapkan akan menyediakan waktu lebih banyak bersama keluarga selama bulan puasa, termasuk 56 persen responden di Indonesia.

Nuansa kebersamaan saat Ramadhan di Tanah Air ini antara lain terlihat dari menyatunya waktu di meja makan saat sahur ataupun berbuka puasa. Kegiatan buka bersama ini biasanya dilakukan bersama keluarga, kerabat, atau teman. Banyak warga meluangkan waktu untuk berkumpul bersama keluarga atau teman untuk ngabuburit menanti waktu berbuka puasa.  Aktivitas bersama ini juga menjadi ajang mempererat kebersamaan yang terkadang sulit dilakukan di tengah rutinitas keseharian.

Tak hanya dalam lingkup keluarga ini, kebersamaan ini juga melebar dalam lingkungan tempat tinggalnya dengan saling berbagi makanan dan bingkisan atau hamper. Aktivitas berbagi ini juga menjadi kegiatan yang banyak dilakukan publik saat momentum Ramadhan. Hasil survei YouGov menemukan, Ramadhan sebagai momentum untuk berbagi dan melakukan amalan dengan penuh kemurahan hati ini banyak diungkapkan oleh responden di Turki (49 persen), Indonesia (39, persen), Arab Saudi (34 persen), UEA (34 persen), dan Malaysia (26 persen).

 

Berbagi berkah Ramadhan

Makna Ramadhan yang kental dengan nuansa kerukunan menguatkan kebersamaan dan saling berbagi, terutama dalam konteks Indonesia ini, senada dengan temuan jajak pendapat Litbang Kompas pada masa-masa puasa. Pada jajak pendapat Ramadhan 2024, misalnya, bagian terbesar responden (36,3 persen) mengungkapkan nuansa kebersamaan dan kekeluargaan lebih terasa selama bulan puasa.

Terdapat 12,6 persen responden lainnya menyebutkan, hal positif lainnya yang dirasakan saat Ramadhan ialah orang-orang lebih sering berbagi dengan warga lain di tempat tinggalnya. Kepedulian untuk berbagi dengan sesamanya ini dinyatakan oleh 79 persen responden dengan membagikan makanan dan minuman atau takjil menjelang berbuka puasa. Bentuk kepedulian lain ialah menyumbang sejumlah uang melalui masjid, yayasan sosial, dan lembaga sosial.

Fenomena kepedulian untuk berbagi ini juga terlihat dari data pengumpulan dana dari umat Islam, baik berupa zakat, infak, sedekah, ataupun dana sosial yang terus meningkat. Publikasi Indonesia Zakat Outlook 2025 yang dibuat Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) memperlihatkan, pada 2021, penghimpunan zakat mencapai Rp 17,9 triliun. Jumlah tersebut meningkat menjadi Rp 22,4 triliun pada 2022, kemudian Rp 32,7 triliun (2023), dan Rp 41 triliun (2024).

Spiritualitas kebersamaan dan saling berbagi dalam bulan puasa Ramadhan ini memiliki tradisi panjang di Indonesia. Salah satunya ialah tradisi kolak ayam di Gresik, Jawa Timur, yang sudah ada sejak tahun 1540. Hingga saat ini, warga Desa Gumeno di Gresik masih memasak kolak ayam untuk dibagikan saat buka puasa bersama jemaah dan warga sekitar di Masjid Jami Sunan Dalem.

Hampir senada, di Masjid Al-Mahmudiyah di Palembang juga membagikan bubur sup daging sapi atau bubur suro untuk jemaah dan warga sekitar sebagai menu berbuka puasa. Tradisi berbagi itu terus dipertahankan sejak Masjid Al-Mahmudiyah didirikan pada tahun 1889.

 

Pola keseharian saat Ramadhan

Datangnya bulan Ramadhan membawa dampak perubahan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Tak hanya ketakwaan dan kerukunan, sejumlah rutinitas publik juga berubah pada masa bulan puasa Ramadhan. Pola rutinitas yang bisanya penuh dengan aktivitas mulai dari belajar, bekerja, menjalankan usaha, berolahraga, bepergian, atau menonton acara televisi turut berdinamika seiring datangnya bulan puasa.

Dalam hal bepergian, misalnya, bagian terbesar responden di lima negara ini menyatakan akan mengurangi perjalanan selama bulan puasa dibandingkan bulan-bulan lain di luar Ramadhan. Keinginan mengurangi perjalanan selama bulan puasa Ramadhan ini dinyatakan oleh 48 persen responden di Arab Saudi, Turki (43 persen), dan 37 persen responden masing-masing di UEA, Indonesia, serta Malaysia. Meski demikian, masih ada 16-21 persen responden di kelima negara tersebut yang berkeinginan meningkatkan rencana bepergian selama Ramadhan.

Disrupsi pola keseharian juga tampak dalam aktivitas menonton tayangan televisi. Sebagian besar responden di lima negara ini mengaku lebih banyak menonton acara TV pada malam hari (19.00-22.00), larut malam (22.00-02.00), dan sore hari (14.00-18.00). Perubahan pola menonton tayangan TV ini menyesuaikan dengan pola keseharian yang beradaptasi dengan waktu mempersiapkan sahur dan buka puasa.

Dalam hal preferensi iklan, publik di lima negara juga memiliki orientasi khusus dengan momentum Ramadhan. Konten-konten iklan yang banyak menceritakan kisah keluarga yang menyentuh hati, menampilkan budaya lokal, orang atau komunitas keseharian, dan mempromosikan kegiatan amal cukup mendapat antusias responden. Meski demikian, publik juga antusias mengikuti iklan yang menawarkan promosi atau diskon khusus selama Ramadhan.

Responden di Indonesia mengaku lebih tertarik dengan konten iklan yang banyak menceritakan kisah keluarga yang menyentuh hati (37 persen) dan kegiatan amal atau berbagi (charity). Bisa jadi, daya tarik konten iklan yang menumbuhkan spiritualitas dapat semakin mempertebal ketakwaan publik di bulan Ramadhan.

Meski dalam sejumlah kegiatan keseharian ada perubahan pola aktivitas, hal serupa cenderung tidak tecermin dalam hal rutinitas olahraga. Separuh responden di lima negara mengaku akan tetap melakukan rutinitas olahraga untuk menjaga kebugaran.

Komitmen melakukan olahraga rutin disampaikan oleh 55 responden di Malaysia, diikuti Turki (53 persen), Arab Saudi (50 persen), Indonesia (49 persen), dan UEA (48 persen). Bahkan, 22-34 persen responden di kelima negara menyatakan akan menambah porsi kebugaran.

Meski demikian, ada pula 18-28 persen responden yang mengaku akan mengurangi aktivitas olahraga. Responden yang menyatakan bakal menurunkan kadar kuantitas olahraga ini paling banyak datang dari Indonesia (28 persen).

Aktivitas olahraga dapat mendukung kebugaran badan saat berpuasa. Salah satu cara agar tubuh tetap bugar saat menjalakan ibadah puasa Ramadhan adalah dengan berolahraga (Kompas, 253/2023). Waktu yang disarankan untuk berolahraga saat puasa ialah satu jam sebelum berbuka puasa, setelah shalat Tarawih, dan sebelum sahur.

Serial Artikel

Mengapa Berpuasa Itu Perlu?

Dalam sejarah peradaban manusia, tradisi puasa senantiasa dijalani. Di zaman modern, praktik puasa menawarkan paradoks yang terus relevan.

Baca Artikel

Adapun jenis olahraga yang dapat dilakukan meliputi aktivitas kelenturan (pilates, yoga), latihan kekuatan (push up, shit up), hingga latihan kardio untuk memperkuat otot jantung dengan jalan cepat atau bersepeda.

Tidak berubahnya keinginan publik untuk mengurangi porsi olahraga di bulan puasa menggambarkan tekad agar kebugaran tubuh tetap terjaga dalam menjalani masa Ramadhan. Tubuh yang bugar diperlukan sebagai stamina untuk meningkatkan ketakwaan iman dan menunjang relasi sosial.

Dengan demikian, Ramadhan dapat dimaknai utuh untuk menghadirkan insan manusia yang sehat jiwa raganya, bugar jasmani dan rohaninya. Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan. (LITBANG KOMPAS)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mendagri: Jembatan Krueng di Tingkeum Bireuen rampung Juli 2026
• 8 jam laluantaranews.com
thumb
Warga Pulomas Siap Temui Pramono, Desak Padel di Perumahan Ditutup
• 22 jam lalukompas.com
thumb
Remaja Tewas Dianiaya Brimob Maluku, Koalisi Sipil: Ini Penyiksaan, Bukan Sekadar Pelanggaran Etik
• 2 jam lalujpnn.com
thumb
Viral Remaja Sukabumi Meninggal Diduga Dianiaya Ibu Tiri, Ini Fakta-Faktanya
• 5 jam lalurepublika.co.id
thumb
3 Juta Penerima Baru PKH dan BPNT 2026 Belum Cair, Ini Cara Cek Status Bansos Terbaru
• 9 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.