JAKARTA, KOMPAS.com - Lebih dari setahun warga RT 05/RW 13, Pulomas, Kayu Putih, Pulogadung, Jakarta Timur, menyuarakan penolakan terhadap operasional lapangan padel di lingkungan mereka.
Kini, setelah menang di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN), warga ingin mengadu langsung kepada Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung.
Mereka menilai keberadaan lapangan padel komersial di tengah perumahan telah mengganggu ketenangan warga, mulai dari kebisingan hingga lalu lalang kendaraan.
Baca juga: Warga Tolak Lapangan Padel di Perumahan Pulomas, Belasan Spanduk Dibentangkan
Thohir (63), salah satu warga, berharap pemerintah bertindak tegas terhadap pengelola.
"Kalau saya pinginnya ditindak, kita maunya juga ketemu langsung sama Pak Pramono-nya biar bisa jelasin duduk perkaranya. Kan kenapa pemerintah juga enggak menjalankan tugasnya. Pengen ngadu itu sih," ujar Thohir saat ditemui di Jalan Pulomas Barat 2, Sabtu (21/2/2026).
"Sekarang itu kan sudah banyak lapangan padel. Yang bermasalah itu ya ditindak, ditutup. Yang warga di tipu, di zholimi, enggak ada empati, itu yang kayak gini wajib ditutup," tegasnya.
Lapangan padel itu beroperasi sejak Oktober 2024. Warga mengaku terganggu karena aktivitas berlangsung dari pagi hingga malam.
Selain itu, ratusan mobil disebut keluar-masuk kawasan setiap hari.
Mutia (45), warga lainnya, mengatakan lalu lintas kendaraan membuat suasana perumahan yang sebelumnya tenang menjadi ramai.
Baca juga: Warga Pulomas: Lapangan Padel Sudah Diberi SP3 hingga Perintah Pembongkaran
"Operasional padel kan pagi sampai malam. Waktu itu pernah saya hitung sampai sore saja sudah ada lebih dari 70 mobil yang datang. Kalau ada turnamen padel lebih banyak lagi," tutur Mutia.
Warga merasa tertipuMenurut Thohir, awalnya dua kavling rumah di ujung Jalan Pulomas Barat 2 dirobohkan untuk pembangunan. Saat ditanya, pekerja menyebut lokasi itu akan dijadikan lapangan tenis pribadi.
"Ini sewaktu dibangun, tujuan dibangun itu enggak untuk padel loh. Jadi kita warga ini tertipu sebetulnya. Saya sering jalan pagi, lalu nanya sama tukang yang membangun," ungkap Thohir.
"Saat ditanya mau dibikin apa, tukang bilang kau dibikin lapangan tenis pribadi. Saya pikir, oh mungkin pemilik punya uang, kan biasa kan rumah gede punya kolam renang di dalam, punya lapangan tenis, ya mungkin buat olahraga sendiri kan," jelasnya.
Belakangan warga baru mengetahui bahwa yang dibangun adalah lapangan padel komersial. Mereka memprotes karena merasa tidak pernah ada izin dari RT/RW maupun sosialisasi kepada warga.
Baca juga: Warga Duga Pengelola Lapangan Padel di Pulomas Manipulasi Tanda Tangan untuk Dapat Izin
Warga sudah tiga kali melakukan mediasi. Mereka meminta jam operasional dikurangi, lapangan dibuat indoor, dan parkir tidak masuk ke kawasan perumahan.





