Sumur Baru Salawati di Papua Produksi Minyak 350 Barel/Hari, Dukung Target APBN

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

SKK Migas dan PT Pertamina (Persero) menambah produksi minyak nasional sebesar 350 barel per hari (BOPD) dari pengeboran sumur pengembangan baru di Lapangan Salawati, Papua Barat. Tambahan ini diharapkan membantu mengejar target lifting minyak dalam APBN 2026 sebesar 610 kilo barel per hari (kbd).

Tambahan produksi tersebut berasal dari sumur pengembangan SLW-E006 di Cluster E Field Salawati yang dikelola PT Pertamina EP Asset 4 Region 4 Zona 14 Papua Barat. Pengeboran sumur ini dimulai pada akhir Desember 2025 dan dinyatakan berhasil menemukan minyak pada Februari 2026.

“Alhamdulilah PT. Pertamina EP Asset 4; Region 4 Zona 14 Papua Barat telah melakukan tajak/ mulai pengeboran sumur Pengembangan pada Cluster E Field Salawati yaitu sumur pengembangan SLW-E006 pada tanggal 31 Desember 2025,” tulis keterangan bersama SKK Migas dan Pertamina, Minggu (22/2).

Sumur tersebut dibor hingga kedalaman 2.165 meter measured depth (mMD) dengan target lapisan Kais Carbonate. Setelah mencapai kedalaman akhir, dilakukan pekerjaan komplesi untuk mengoptimalkan produksi dari reservoir.

Hasil uji produksi awal menunjukkan capaian yang cukup solid untuk sumur pengembangan di lapangan eksisting. “Pengeboran sumur dilakukan hingga kedalaman 2,165 mMD (meter Measure Dept) untuk mencapai lapisan Kais Carbonate dan kemudian dilakukan pekerjaan komplesi dengan hasil uji produksi sementara mencapai 350 BOPD,” ungkapnya.

Secara keseluruhan, ini merupakan sumur kedua yang berhasil dari total empat sumur dalam rangkaian program pengeboran di Lapangan Salawati. Keberhasilan tersebut menjadi bagian dari strategi menjaga tingkat produksi di tengah tantangan penurunan alami produksi sumur-sumur lama.

Sumur SLW-E006 dibor secara miring berarah (Directional J-type) menggunakan Rig PDSI #11.2-1000 HP. Total waktu pengerjaan, mulai dari pengeboran hingga uji produksi, mencapai 43 hari. Sumur ini kemudian dinyatakan berhasil menemukan minyak pada 16 Februari 2026.

Dari sisi teknis, pengeboran juga memanfaatkan sejumlah peningkatan teknologi. Salah satunya metode Casing While Drilling (CWD), yaitu pemasangan casing sambil melakukan pengeboran pada level 13-3/8 inci. Metode ini dinilai efektif meningkatkan keberhasilan pengeboran di trayek 17-1/2 inci.

Selain itu, strategi pengeboran di zona batuan rapuh (rumble zone) pada trayek 12-1/4 inci dilakukan dengan teknik wellbore strengthening untuk memperkuat dinding sumur. Pendekatan ini mencegah terjadinya gangguan besar yang dapat menghambat operasi dan menambah waktu pengeboran.

Dari sisi biaya, proyek ini juga disebut masih dalam koridor anggaran yang disetujui. Realisasi biaya yang mencapai 94 persen dari Authorization for Expenditure (AFE) menunjukkan efisiensi tetap dijaga dalam pelaksanaan proyek.

“Estimasi biaya (based on field estimate) yang sudah dikeluarkan adalah sebesar 9,774,829.7 USD (94 persen dari AFE yang disetujui),” tutur manajemen.

Manajemen berharap dua sumur berikutnya dalam rangkaian pengeboran ini juga memberikan hasil produksi yang optimal agar kontribusi terhadap target nasional semakin besar.

“Mohon doa 2 sumur berikutnya juga dapat menghasilkan minyak yang sama bahkan lebih besar, sehingga dapat mengejar ketinggalan untuk mencapai target APBN 2026 sebesar 610 kbd,” kata manajemen.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tensi Panas dengan Iran! Deret Pesawat Militer AS Siaga di Bulgaria
• 32 menit lalukompas.tv
thumb
Dubes RI Junimart Girsang Serahkan Surat Kepercayaan kepada Presiden Malta
• 21 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kapolri Pastikan Penanganan Dugaan Penganiayaan Anggota Brimob di Maluku Dilakukan secara Transparan
• 9 jam lalukompas.tv
thumb
Viva Yoga Dorong Kawasan Transmigrasi sebagai Sentra Pertumbuhan UMKM
• 20 jam lalueranasional.com
thumb
Ancaman Banjir di Jalur KA Jateng saat Mudik, Kemenhub Siagakan Patroli 24 Jam
• 21 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.