Bisnis.com, JAKARTA — SKK Migas menyatakan PT Pertamina EP Asset 4 Region 4 Zona 14 Papua Barat telah berhasil melakukan pengeboran (tajak) sumur pengembangan baru SLW-E006 di Lapangan Salawati, tepatnya di Cluster E.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengatakan sumur pengembangan tersebut mencatatkan hasil uji produksi sementara mencapai 350 barel minyak per hari (BOPD). Capaian ini menjadi tambahan amunisi untuk mengejar target lifting minyak dalam APBN 2026 sebesar 610.000 barel per hari.
“Pengeboran sumur dilakukan hingga kedalaman 2.165 mMD [meter Measure Depth] untuk mencapai lapisan kais carbonate dan kemudian dilakukan pekerjaan komplesi dengan hasil uji produksi sementara mencapai 350 BOPD,” kata Djoko dalam keterangan tertulis, Minggu (22/2/2026).
Secara operasional, sumur tersebut menjadi keberhasilan kedua dari total empat sumur dalam rangkaian program pengeboran di Lapangan Salawati. Tajak sumur baru sendiri dilakukan sejak akhir tahun lalu.
Dia menjelaskan, sumur dibor secara miring terarah (directional/J-type) menggunakan Rig PDSI #11.2-1000 HP hingga mencapai kedalaman akhir 2.165 meter measured depth (mMD) atau 2.101 meter true vertical depth (mTVD).
Adapun, seluruh tahapan pengeboran hingga uji produksi diselesaikan dalam waktu 43 hari dan dinyatakan berhasil menemukan minyak (rilis) sejak pekan lalu, 16 Februari 2026.
Baca Juga
- Jagung Hingga Daging Sapi AS Siap Banjiri Indonesia Usai Prabowo Teken Kesepakatan Dagang
- Konglomerasi Mochtar Riady (Lippo) Jual Gedung Pencakar Langit di Singapura
- Purbaya Kucurkan Rp809 Triliun untuk THR ASN hingga Insentif Idulfitri, Indef: Dampaknya Terbatas
Dalam pelaksanaannya, diterapkan sejumlah peningkatan teknologi, antara lain metode Casing While Drilling (CWD) atau teknik pemasangan casing yang dilakukan bersamaan dengan proses pengeboran pada level 2 berukuran 13-3/8 inci. “Yang terbukti efektif memberikan added value kepada keberhasilan pengeboran di trayek 17-1/2 inci,” lanjutnya.
Selain itu, strategi teknis pengeboran di area rumble zone pada trayek 12-1/4 inci dilakukan dengan pengaplikasian wellbore strengthening sehingga tidak terjadi kendala besar yang dapat menghambat maupun memperpanjang waktu operasi pengeboran.
Sementara itu, estimasi biaya yang telah dikeluarkan untuk pengeboran sumur mencapai US$9,77 juta atau sekitar 94% dari total Authorization for Expenditure (AFE) yang telah disetujui. Angka ini berdasarkan perhitungan lapangan (field estimate).
“Mohon doa, 2 sumur berikutnya juga dapat menghasilkan minyak yang sama bahkan lebih besar, sehingga dapat mengejar ketinggalan untuk mencapai target APBN 2026 sebesar 610 kbd,” pungkasnya.





