Bisnis.com, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada hari ini, Minggu (22/2/2026) menunjukkan pelemahan di sejumlah kanal transaksi perbankan.
Data pembaruan hingga pukul 11.05 WIB mencatat kurs beli dan jual di Bank Negara Indonesia (BNI) tembus Rp17.045. Perinciannya, kurs Special Rates BNI mencatat dolar AS dibeli pada level Rp16.799 dan dijual Rp16.899. Adapun pada kanal TT Counter, dolar AS dibeli Rp16.745 dan dijual Rp17.045. Nilai yang sama juga berlaku untuk transaksi Bank Notes, dengan kurs beli Rp16.745 dan kurs jual Rp17.045 per dolar AS.
Baca Juga
- Harga Emas Perhiasan Hari Ini 22 Februari Melonjak Jadi Rp2,56 Juta per Gram
- Harga Emas Antam di Pegadaian Hari Ini Minggu (22/2) Naik, LM Batangan 1 Kg Tembus Rp3,24 Miliar
- Jagung Hingga Daging Sapi AS Siap Banjiri Indonesia Usai Prabowo Teken Kesepakatan Dagang
Sementara Bank Rakyat Indonesia (BRI) dalam pemperbaharuan kurs pukul 11.11 WIB. menetapkan untuk layanan E-rate transaksi kurang dari ekuivalen US$2.500, kurs beli dolar AS di Rp16.828 dan kurs jual Rp16.970.
Selain itu, BRI juga mencantumkan kurs lain dengan nilai beli Rp16.730 dan jual Rp17.030 per dolar AS.
Ibrahim menerangkan, dalam perjanjian itu, tertuang sejumlah komitmen kerja sama antara kedua negara yang melingkupi 11 nota kesepahaman (MoU), pembentukan dewan ekonomi permanen, penurunan tarif ribuan pos produk, hingga komitmen pembelian energi dan pesawat.
Penandatanganan kesepakatan ini disebut menandai babak baru hubungan ekonomi Indonesia dan AS.
"Perjanjian ini akan menjadi tonggak bersejarah dalam kemitraan RI-AS, memperkuat keamanan ekonomi, mendorong pertumbuhan ekonomi, serta secara berkelanjutan berkontribusi terhadap kemakmuran global," kata Ibrahim, dalam keterangan resminya, Jumat (20/2/2026).
Sementara itu, dari luar negeri, hasil rapat The Fed bulan lalu, menunjukkan kehati-hatian tetapi secara bersamaan cenderung hawkish. Ibrahim menerangkan, risalah tersebut memperkuat pandangan bahwa pemotongan suku bunga jangka pendek tidak mungkin terjadi. Hal itu membuat Dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah tetap stabil, menekan logam mulia yang tidak menghasilkan imbal hasil.
Sementara itu, data makroekonomi AS yang positif telah menambah penguatan bagi dolar AS dan mendorong tekanan harga emas.
"Fokus pasar hari ini adalah pembacaan awal PDB AS untuk kuartal keempat, Pengeluaran Konsumsi Pribadi, dan data Indeks Manajer Pembelian Global S&P, yang akan dirilis malam nanti," kata Ibrahim.
Sementara pada perdagangan besok Senin (23/2/2026), dia meramal rupiah bergerak fluktuatif dan cenderung ditutup melemah pada level Rp16.880–Rp16.910.





