Penulis: Fityan
TVRINews-New York
Evolusi liga Amerika Serikat dari sekadar kompetisi domestik menjadi pemasok talenta kelas dunia di panggung FIFA.
Sejak pertama kali digulirkan tiga dekade lalu, Major League Soccer (MLS) telah bertransformasi dari sekadar liga domestik baru menjadi kontributor tetap dalam peta kekuatan sepak bola global.
Memasuki musim 2026 yang dimulai sejak Sabtu 21 Februari, liga Amerika Utara ini kini membawa beban sejarah sekaligus ambisi besar menjelang kembalinya Piala Dunia FIFA ke tanah Amerika.
Lahir dua tahun setelah kesuksesan Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat, MLS awalnya menjadi wadah bagi bintang-bintang nasional seperti Eric Wynalda, Tab Ramos, dan Alexi Lalas untuk merintis kompetisi profesional di tanah air mereka.
Namun, dalam perkembangannya, MLS melampaui batas negara dan menjadi rumah bagi pemain dari berbagai belahan dunia.
Data FIFA mencatat bahwa sejak edisi Prancis 1998 hingga Qatar 2022, pemain-pemain yang merumput di MLS dari 25 negara berbeda telah terpilih untuk memperkuat skuad nasional mereka di putaran final Piala Dunia.
Dari Dominasi Lokal ke Panggung Global
Pada Piala Dunia 1998 di Prancis, kontribusi MLS masih didominasi oleh Tim Nasional AS dengan 16 pemain.
Namun, kehadiran bintang internasional seperti penjaga gawang legendaris Meksiko, Jorge Campos, dan maestro lini tengah Kolombia, Carlos Valderrama, mulai memberikan kredibilitas internasional bagi liga ini.
Titik balik kualitas talenta muda MLS terlihat pada edisi Korea/Jepang 2002. Saat itu, duo pemain berusia 20 tahun, Landon Donovan (San Jose Earthquakes) dan DaMarcus Beasley (Chicago Fire), menjadi motor penggerak saat Amerika Serikat menumbangkan Portugal dan Meksiko untuk mencapai babak perempat final.
"MLS bukan lagi sekadar tempat bagi pemain nasional AS, tetapi telah menjadi sumber kompetisi penting bagi negara-negara di wilayah Concacaf dan seluruh dunia," tulis tinjauan resmi FIFA mengenai sejarah liga tersebut.
Ekspansi Internasional dan Pencapaian Puncak
Seiring waktu, representasi MLS di Piala Dunia terus meluas. Pada Brasil 2014, untuk pertama kalinya seorang pemain MLS memperkuat tim nasional Brasil saat penjaga gawang Julio Cesar mengenakan seragam Selecao dalam status pinjaman di Toronto FC.
Di edisi yang sama, Tim Cahill dari New York Red Bulls mencatatkan salah satu gol terbaik turnamen saat membela Australia.
Puncaknya terjadi pada Qatar 2022, di mana jumlah pemain MLS melonjak drastis menjadi 35 orang. Keberhasilan ini tidak hanya diukur dari kuantitas, tetapi juga prestasi tertinggi.
Gelandang Atlanta United, Thiago Almada, mencatatkan sejarah sebagai pemain aktif MLS pertama yang mengangkat trofi Piala Dunia setelah Argentina keluar sebagai juara.
Selain Argentina, negara-negara seperti Ekuador, Wales, Polandia, Swiss, hingga Uruguay mulai rutin memanggil pemain yang berbasis di liga Amerika Utara ini.
Hal ini membuktikan bahwa intensitas kompetisi di MLS kini diakui mampu menjaga level performa pemain untuk bersaing di level tertinggi sepak bola internasional.
Kini, dengan menyongsong Piala Dunia 2026, MLS tidak hanya merayakan hari jadinya, tetapi juga mengukuhkan posisinya sebagai elemen yang tak terpisahkan dari ekosistem sepak bola dunia.
Editor: Redaksi TVRINews





