Langit masih gelap ketika Maul (40) membuka lapaknya di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur. Sisa dingin subuh belum sepenuhnya hilang. Pedagang lain baru menata barang, sementara Maul sudah lebih dulu bersiap dengan baskom besar berisi kolang-kaling bening mengilap.
Di bulan Ramadan, ritme hidupnya berubah. Ia membuka lapak lebih pagi dari biasanya, tepat setelah sahur.
“Saya jam empat seperempat udah buka. Subuh di sini lah. Habis sahur jalan,” kata Maul saat ditemui kumparan, Minggu (22/2).
Rutinitas sepagi itu hanya ia jalani selama Ramadan. Di luar bulan puasa, Maul tak perlu bergegas sebelum fajar.
Tangannya cekatan menyendok kolang-kaling dengan serokan berlubang. Ia meniriskannya sebentar, memindahkannya ke baskom kecil, lalu menimbangnya dengan cermat. Jarum timbangan bergerak pelan. Setelah pas, plastik diikat rapi dan diserahkan ke pembeli yang datang satu per satu.
“(Jualan) Harian. Jual kolang-kaling,” tuturnya singkat.
Harga Naik, Strategi BerubahRamadan biasanya membawa rezeki lebih. Namun tahun ini, Maul menghadapi tantangan: harga kolang-kaling melonjak.
“Nih tahun sekarang harganya tinggi. Nggak kayak tahun-tahun sebelumnya. Lebih mahal. Biasanya kalau tahun-tahun sebelumnya tuh harga di bawah sepuluh ribuan untuk yang lokal,” jelas Maul.
Kolang-kaling dari Medan, yang dulu modalnya di bawah Rp 15 ribu, kini sudah melewati angka itu.
“Untuk yang Medan itu harga biasanya di bawah lima belas ribuan. Itu sekarang tuh di atas lima belas ribu yang Medan modalnya, udah tinggi,” tutur Maul.
“Yang ini udah di atas dua belas ribu. Makanya agak berat juga buat jualnya. Sedangkan ibu-ibu kan tahunya murah-murah aja,” lanjutnya.
Dulu, ia masih bisa menjual ukuran kecil seharga Rp 15 ribu. Sekarang, harga itu tak lagi memungkinkan.
“(Dulu) Lima belas ribu. Saya yang kecil, yang ini tuh bisa jual lima belas ribu. Tahun-tahun sebelumnya. Sekarang udah nggak bisa,” ungkap dia.
Agar pembeli tetap datang, Maul membuat variasi harga.
“Ini dua puluh lima (ribu), dua puluh tiga (ribu), dua puluh dua (ribu), sama delapan belas (ribu) sama dua puluh (ribu). Saya bikin beragam jadi nggak terlalu ini juga, menyesuaikan kantong lah,” jelas dia.
Pasokan dagangannya berasal dari Medan dan Tasikmalaya.
“Saya pakai dari Medan sama dari Tasik,” katanya.
Ramadan Tetap Lebih RamaiMeski harga naik, Maul tetap merasakan berkah Ramadan dibanding hari biasa.
“Ya, sesepi-sepinya Ramadan ya Alhamdulillah daripada hari biasa mah. Namanya kan Ramadan kan bulan penuh berkah, orang pada makan semua,” tuturnya.
Ia sudah tiga tahun berjualan di lapak tersebut, meneruskan usaha orang tuanya. Dari pengalamannya, Ramadan tahun lalu menjadi yang paling terasa peningkatannya.
“Saya tahun kemarin Alhamdulillah. Saya kan di sini baru tiga tahun karena nerusin punya orang tua. Tahun kemarin sih lumayan Alhamdulillah juga dari tahun-tahun sebelumnya saya dagang,” jelas Maul.
Lonjakan pembeli biasanya terjadi menjelang Lebaran. “Seminggu. Seminggu mau lebaran,” kata dia.





