Tarawih di Washington DS, AS: Ikhtiar Menjaga Iman di Negeri Paman Sam

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Di sela padatnya agenda meliput kunjungan Presiden Prabowo Subianto di Washington DC pada Sabtu (21/2), langkah kaki berbelok sejenak dari ruang diplomasi menuju ruang sujud. Ramadan tiba bersamaan dengan lawatan kenegaraan. Di antara ruang konferensi dan protokoler diplomasi, kumparan berkesempatan menunaikan Tarawih di jantung ibu kota Amerika Serikat.

kumparan berkesempatan melaksanakan shalat Tarawih di Islamic Center of Washington DC, yang berdiri anggun di Embassy Row, 2551 Massachusetts Ave NW.

Dari kejauhan, menaranya menjulang tegas menembus langit malam yang beku. Saat memasuki kawasan masjid, terdapat dua pintu, satu di sisi samping, satu lagi pintu utama di halaman depan.

Di gerbang depan, terpahat kutipan Surat An-Nur ayat 36 yang artinya "(Bercahaya) di rumah-rumah yang Allah telah perintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya." Kalimat itu seperti menjadi pengantar sebelum kaki benar-benar melangkah masuk.

Pintu utama membawa jemaah ke area tengah. Tempat wudhu pria berada di sebelah kanan, terhubung dengan aula luas di lantai bawah yang tampak lapang dan kosong.

Sementara jemaah perempuan berjalan lebih jauh ke sisi kiri masjid untuk mengambil air wudhu sebelum naik ke ruang shalat. Masjid dua lantai ini menempatkan ruang shalat utama di lantai atas, sementara lantai bawah merupakan aula.

Begitu memasuki ruang salat, mata seakan diajak mendongak. Ornamen khas Maghribi dan Turki Utsmani membingkai setiap sudut, lengkung-lengkung mihrab berlapis motif geometris biru, hijau, dan emas, kaligrafi Arab dengan gaya kufi dan tsulutsi melingkar menghiasi dinding dan kubah, serta lampu gantung besar berdesain klasik yang menjuntai dengan tabung-tabung cahaya lembut.

Pilar-pilar kokoh dilapisi ukiran detail, seakan menghubungkan lantai dengan langit-langit yang dipenuhi pola bintang bersudut delapan. Di sisi kanan ruang utama, terdapat satir atau sekat sederhana bagi jemaah perempuan.

Malam itu, puluhan jemaah memenuhi lima hingga enam saf. Jaket tebal dan mantel musim dingin masih tersampir di pundak sebagian dari mereka. Di luar, suhu menyentuh 37 derajat Fahrenheit atau sekitar 3 derajat Celsius. Namun di dalam, kehangatan terasa dari rapatnya barisan dan napas yang bergerak serempak.

Tarawih dimulai pukul 19.30 dan berakhir pukul 20.55. Delapan rakaat ditunaikan, disempurnakan tiga rakaat witir.

Saat kumparan bergabung dalam saf, imam tengah membacakan juz kelima. Dalam satu rangkaian Tarawih malam itu, satu juz dibaca penuh dengan skema dibagi sekitar dua setengah halaman setiap rakaat. Lantunannya menggunakan qira’at Imam ‘Ashim al-Kufi dengan riwayat Hafsh, bacaan yang akrab di telinga umat Islam Indonesia.

Ayat-ayat suci mengalir dengan tartil yang terjaga. Beberapa jemaah berdiri tegap sejak takbir pertama, sebagian lain memilih duduk sejenak sebelum bangkit ketika imam hendak ruku. Di tengah keberagaman wajah kulit hitam, putih, Asia, Arab semuanya larut dalam satu arah kiblat yang sama. Tidak ada sekat bangsa, tidak ada sekat bahasa. Hanya ayat yang menggema dan amin yang bersahut.

Usai salam terakhir, langkah kaki beranjak ke sisi kiri pintu masuk, tempat sebuah toko suvenir kecil berdiri. Rak-raknya memajang sajadah, tasbih, mukena, hingga mushaf Al-Quran.

Di sudut Washington yang dipenuhi kantor kedutaan dan simbol-simbol diplomasi global, toko kecil itu seperti pengingat bahwa di balik hiruk-pikuk politik dunia, selalu ada ruang hening tempat manusia kembali menjadi hamba.

Malam itu, di bawah kubah berhias kaligrafi dan lampu gantung yang berpendar lembut, Tarawih terasa bukan sekadar ritual. Ia menjadi pertemuan antara perjalanan liputan dan perjalanan batin, antara dinginnya musim dingin dan hangatnya ayat-ayat Tuhan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Warga Pulomas Jaktim Keluhkan Lapangan Padel Bising, Berujung Gugat ke PTUN
• 21 jam laludetik.com
thumb
Stadium Generale UMSURA, Menbud Ungkap Kekayaan Kebudayaan Nusantara
• 47 menit laludetik.com
thumb
TMMD 127 Kembangkan 1.000 Benih Lele di Cipelah
• 14 jam lalutvrinews.com
thumb
NASA Rampungkan Gladi Bersih Artemis II, Pengisian 700 Ribu Galon Bahan Bakar Berjalan Lancar
• 19 jam lalupantau.com
thumb
Produk AS Disepakati Masuk RI Tak Perlu Pakai Sertifikasi Halal, DPR: Bisa Timbulkan Kekhawatiran
• 17 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.