Apindo : Tarif 0 Persen ART Perkuat Kepastian Pasar dan Daya Saing Ekspor

mediaindonesia.com
3 jam lalu
Cover Berita

DUNIA usaha mengapresiasi kolaborasi erat antara pemerintah dan pelaku usaha dalam tercapainya kesepakatan The Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang memberikan pembebasan tarif 0% bagi sekitar 1.819 pos tarif produk Indonesia. Kebijakan tersebut dinilai menjadi sinyal kuat bahwa perjanjian turut mengakomodasi kepentingan nasional, khususnya dalam memperluas akses pasar ekspor.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Widjaja Kamdani, menilai setidaknya terdapat tiga dimensi utama dampak positif kebijakan tersebut terhadap kinerja ekspor nasional.

“Pertama adalah dimensi kepastian pasar. Exemption ini secara langsung menurunkan trade uncertainty bagi pelaku usaha yang memiliki eksposur tinggi terhadap pasar Amerika Serikat,” ucap Shinta saat dihubungi, Minggu (22/2).

Baca juga : 2026 Penuh Tantangan, Target Pertumbuhan Ekonomi 5,4 Persen Dinilai Sulit Dicapai

Ia mencontohkan, sekitar 61% ekspor pakaian dan aksesori rajutan Indonesia ditujukan ke pasar AS. Dengan tarif 0%, risiko kontraksi permintaan akibat kenaikan biaya dapat ditekan sehingga utilisasi kapasitas produksi dan perencanaan investasi menjadi lebih terjaga.

Dimensi kedua, lanjut Shinta, adalah daya saing relatif dibanding negara pesaing. Dengan tarif resiprokal 19%, posisi Indonesia saat ini setara dengan Thailand, Malaysia, Filipina, dan Bangladesh, sedikit di atas India yang berada di kisaran 18%, serta di bawah Vietnam dan Sri Lanka sekitar 20%. Sementara itu, Tiongkok masih menghadapi tarif efektif 30% atau lebih pada banyak kategori.

“Dengan adanya tarif 0% untuk produk-produk unggulan Indonesia, posisi strategis ini semakin menguat,” katanya.

Baca juga : Jelang Ramadan-Idulfitri, Aprindo Perkuat Belanja Masyarakat

Pada sektor pakaian dan aksesori rajutan, misalnya, pangsa impor AS saat ini masih didominasi Tiongkok sekitar 22%, diikuti Vietnam 18%, Kamboja 5,9%, Bangladesh 5,5%, India 5,1%, dan Indonesia 4,9%. Menurut dia, tarif 0% menjadi faktor pembeda signifikan, meski persaingan tetap ditentukan oleh efisiensi biaya berusaha dan faktor domestik lainnya.

Dimensi ketiga adalah ketahanan rantai pasok. Skema tarif 0% berbasis tarif rate quota untuk produk garmen yang menggunakan kapas AS dinilai memperkuat stabilitas supply chain. Industri tekstil dan garmen Indonesia masih mengimpor kapas lebih dari US$1,5 miliar per tahun, dengan sekitar US$150 juta atau 10% berasal dari AS.

“Kepastian pasokan bahan baku ini penting untuk menjaga struktur biaya industri dan meningkatkan daya saing ekspor secara berkelanjutan,” jelasnya.

Secara sektoral, Shinta menyebut sektor yang telah memiliki basis ekspor kuat ke AS dan memiliki keunggulan biaya berpeluang memanfaatkan kesepakatan ini secara optimal. Sektor tersebut meliputi tekstil dan produk tekstil, alas kaki, komponen elektronik termasuk semikonduktor, serta komoditas unggulan seperti minyak sawit, kakao, rempah-rempah, dan karet.

Di sisi lain, sektor yang lebih berorientasi domestik dan berhadapan langsung dengan produk AS tentu akan mengalami penyesuaian. Namun, untuk komoditas yang belum dapat dipenuhi dari dalam negeri seperti kapas, kedelai, dan gandum, impor justru berfungsi sebagai input intermediate yang menopang industri nasional.

“Dalam konteks ini, pembebasan tarif justru dapat meningkatkan efisiensi dan menurunkan biaya produksi domestik,” ujarnya.

Apindo juga menilai kesepakatan ini tetap menyediakan ruang perbaikan melalui pembentukan Council of Trade and Investment sebagai mekanisme dialog kelembagaan jika terjadi lonjakan impor yang tidak wajar. Selain itu, Indonesia tetap memiliki instrumen trade remedies sesuai ketentuan WTO seperti anti-dumping, countervailing measures, dan safeguards.

Shinta menegaskan, agar manfaat perjanjian dapat optimal, momentum ini perlu diikuti agenda pembenahan domestik secara terstruktur.

“Dunia usaha masih menghadapi tantangan biaya berusaha yang tinggi, perizinan yang kompleks, ketidakpastian regulasi, hingga hambatan penyediaan bahan baku. Tanpa pembenahan faktor domestik tersebut, ruang yang terbuka dari sisi eksternal berisiko tidak termanfaatkan secara optimal,” pungkasnya. (H-2)

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Populer Ekonomi: Lokasi ATM Mandiri yang Sediakan Pecahan Rp10 Ribu dan Rp20 Ribu
• 6 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Prabowo Teken Perpres Sekolah Unggul Garuda, Siapkan SDM Jago Sains dan Teknologi
• 1 jam lalurctiplus.com
thumb
Kepergok! Pencuri Warung di Palembang Ditangkap Warga saat Aksi Ketiga Kalinya | BORGOL
• 10 menit lalukompas.tv
thumb
5 Berita Terpopuler: Jungkir Balik Mengabdi, Sebegini Gaji Guru PPPK Paruh Waktu, Bikin Rawan Masalah Baru
• 8 jam lalujpnn.com
thumb
KAI Ungkap 1,58 Juta Tiket Lebaran 2026 Ludes Terjual
• 17 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.