Testimoni Orang Tua Terhadap Siswa Sekolah Rakyat: Banyak Perubahan

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Pelataran Sekolah Rakyat menjadi saksi ketika tatapan mata orangtua dan anak saling bertemu. Perbincangan ringan ditemani bekal makanan mengurai rindu yang terpendam dari orangtua kepada anak.

Momen tadi tergambar saat kunjungan rutin orangtua siswa ke Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 2 Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara, beberapa waktu lalu. Kunjungan sebulan sekali ini menjadi ruang bagi orangtua atau wali untuk melihat perkembangan anak-anaknya yang sedang menempuh pendidikan berasrama di Sekolah Rakyat.

Pengalaman itulah yang dirasakan pasangan Srikatun Suroso (53) dan istrinya, Gustaria (46), warga Kelurahan Gedung Johor, Kecamatan Medan Johor, Kota Medan. Sejak pagi, keduanya datang menjenguk putri mereka, Kinanti (13), siswa kelas 1 SRMP 2 Kota Medan.

“Perkembangannya banyak, kalau enggak ada SR (Sekolah Rakyat) ini kan, enggak bisa sekolah anak kami,” ujar Suroso dengan suara bergetar.

Kekhawatiran atas kondisi sang putri berkurang karena ia melihat langsung sistem asrama di Sekolah Rakyat sudah berjalan dengan baik. “Di sini termasuk bagus. Dari makanannya, dari kesehatannya, semua dipantau sama wali asrama,” imbuh Suroso.

Sebelum masuk Sekolah Rakyat, Kinanti tumbuh di lingkungan dengan keterbatasan ekonomi keluarga. Kini, Kinanti terlihat lebih disiplin, teratur, dan memiliki sikap yang jauh lebih baik.

“Anak SR itu kebersamaannya ada, kalau lingkungan masing-masing kan ibaratnya, bandelnya saja yang ada. Jadinya masuk SR berguna sekali, disiplin dia, sikap dia berubah semua,” kata Suroso yang bekerja serabutan sebagai buruh bangunan.

Sedangkan ibu Kinanti yang sehari-hari berjualan sayur keliling dan ikan teri, dengan penghasilan sekitar Rp50 ribu per hari juga merasa terbantu dengan kehadiran Sekolah Rakyat.

“Jualannya pun enggak terlalu banyak, pas-pasan kami, makanya ini adiknya Kinanti pun masih sekolah, kakaknya juga. Makanya berat kalau enggak ada Sekolah Rakyat. Takut enggak sekolah, karena enggak mampu lah,” ungkap Gustaria.

Memiliki empat orang anak yang sudah memasuki usia sekolah dengan kondisi ekonomi yang terbatas, serta biaya pendidikan menjadi beban tersendiri bagi para orangtua siswa Sekolah Rakyat. Tak ayal, ketika tawaran bersekolah datang dari PKH Kementerian Sosial datang, Suroso dan Gustaria bersyukur. Lantaran seluruh kebutuhan Kinanti terpenuhi dengan baik, mulai dari makan, seragam, hingga asrama.

“Kita ini makan ya, asal aja udah rebus bayam, sambel, tempe sudah. Kalau di sini (Sekolah Rakyat) memang (pemenuhan) gizinya bagus, ada ikan, makannya cepat besar, cepat gemuk. Waktu pulang, (Kinanti) naik lima kilo, enggak pernah turun, naik berat badannya,” tutur Suroso lagi.

Suroso pun mengucapkan terima kasih. Baginya, Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat belajar, melainkan harapan untuk memutus rantai kemiskinan dan membuka masa depan yang lebih baik bagi anaknya.

“Sekolah Rakyat ini merupakan sekolah untuk orang-orang yang enggak mampu. Ke depannya itu anak-anak jadi bangkit. Umpamanya enggak bisa sekolah, jadi bisa sekolah. Keinginan dia kerja pun ada. Hobi dia, di sini disalurkan. Kalau dia mau cita-cita apa, terjadilah impian-impian anak-anak itu. Terima kasih Pak Prabowo dan Menteri Sosial,” pungkas Suroso.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sempat Disegel, Begini Kondisi TPS Ilegal di Bekasi
• 11 jam laludetik.com
thumb
Hasil Lengkap Tadi Malam dan Klasemen BRI Super League: Zona Merah Panas usai Persijap Kalahkan Persebaya dan PSBS Biak Ditahan Persis
• 14 jam lalubola.com
thumb
Sultan DPD: Diplomasi Dagang Prabowo Perkuat Pengembangan Koperasi Merah Putih
• 37 menit laluviva.co.id
thumb
Sekjen Golkar: LPDP Jangan Hanya untuk Orang Kaya, Harus Ada Afirmasi yang Jelas
• 6 jam laluviva.co.id
thumb
Pelabuhan Ketapang Terapkan Delaying System saat Mudik, Cegah Antrean Parah Penyeberangan Jawa-Bali
• 11 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.