Penulis: Christhoper Natanael Raja
TVRINews, Pidie Jaya
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian selaku Ketua Satuan Tugas Percepatan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (Satgas PRR) Pascabencana Wilayah Sumatera meminta kebijaksanaan Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni terkait penanganan tumpukan kayu yang masih berserakan akibat banjir bandang dan tanah longsor di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh.
Saat meninjau lokasi di Kecamatan Meurah Dua, Tito melihat langsung tumpukan kayu dari tepi sungai. Ia menilai material tersebut berpotensi dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat.
“Kita lihat tumpukan kayu yang tadi jauh lebih banyak. Sekarang masih ada. Persoalannya, ini mau diapakan kayu-kayu ini. Ada kayu-kayu gelondongan, yang mungkin bisa dimanfaatkan untuk perumahan ataupun untuk jembatan, atau yang lain-lain untuk masyarakat jadikan papan,” ujar Tito dalam keterangan tertulis yang diterima oleh tvrinews.com, Minggu, 22 Februari 2026.
Selain kayu gelondongan, Tito juga menyoroti serpihan kayu berukuran kecil yang tidak memungkinkan untuk dijadikan papan. Ia mempertanyakan alternatif pemanfaatan material tersebut agar tidak terbuang sia-sia.
Berdasarkan pengalaman di Sumatera Utara, kata Tito, serpihan kayu pernah dimanfaatkan dengan menjualnya kepada industri batu bata yang membutuhkan kayu bakar dalam jumlah besar.
“Ada yang berminat, yaitu industri batu bata di sana, kan banyak. Itu untuk kayu bakar. Dan itu uangnya nanti dijual, dipakai untuk masukkan PAD (Pendapatan Asli Daerah),” kata Tito.
Tito juga menjelaskan terdapat pohon-pohon yang tercabut hingga ke akar akibat derasnya arus banjir.
Ia menilai kondisi tersebut belum tentu disebabkan oleh praktik pembalakan liar, melainkan bisa terjadi karena struktur tanah yang tergerus air, baik berupa pasir maupun tanah lempung, seperti yang pernah terjadi di wilayah Tapanuli Utara dan Gayo Lues.
“Kalau di Gayo Lues, rata-rata pasir. Jadi mudah sekali terbawa sampai longsor, kemudian kayu-kayunya, pohon-pohonnya tercabut semua,” ujar Tito.
Ia menegaskan persoalan kayu di Aceh masih memerlukan keputusan yang komprehensif. Pendataan satu per satu di lapangan dinilai memiliki keterbatasan sehingga dibutuhkan pendekatan yang lebih efektif dan efisien.
“Mungkin Menteri Kehutanan, Pak Raja Juli Antoni, perlu turun tangan menyelesaikan permasalahan ini. Karena ini bukan hanya di titik ini. Pak Raja Juli Antoni juga sudah banyak membersihkan, saya tahu,” tutur Tito.
Editor: Redaksi TVRINews





