Jakarta (ANTARA) - Microsoft mengumumkan perubahan besar di jajaran pimpinannya di divisi gim, dengan CEO Microsoft Gaming Phil Spencer meninggalkan perusahaan, bersama Presiden Xbox Sarah Bond.
Spencer akan digantikan oleh Asha Sharma, mantan eksekutif Instacart dan Meta. Posisi terakhir Sharma adalah Presiden produk CoreAI di Microsoft. Laman Techcrunch, Sabtu (21/2) melaporkan, pergantian ini mengisyaratkan bahwa Microsoft kemungkinan akan semakin fokus menghadirkan kecerdasan artifisial (AI) dalam industri game.
Sebelumnya, Microsoft memang sudah bereksperimen menggabungkan AI dan gim. Beberapa contohnya adalah pengembangan asisten gim berbasis AI serta peluncuran level “Quake II” yang dibuat dengan AI, meski saat itu hasilnya masih bermasalah.
Baca juga: Microsoft tarik chatbot AI Copilot dari WhatsApp pada 15 Januari 2026
Dalam memo internal yang dipublikasikan oleh The Verge, Sharma menulis bahwa Microsoft “akan menciptakan model bisnis baru dan cara bermain yang baru”. Ia juga menyebut bahwa “monetisasi dan AI” akan terus berkembang dan memengaruhi masa depan industri ini.
Meski demikian, Sharma menegaskan perusahaan tidak akan mengejar efisiensi jangka pendek atau “membanjiri ekosistem dengan konten AI tanpa jiwa”.
“Game adalah dan akan selalu menjadi karya seni, dibuat oleh manusia, dan diciptakan dengan teknologi paling inovatif yang kami sediakan,” tambah Sharma.
Pernyataan tersebut merupakan satu dari tiga “komitmen” yang ia sampaikan dalam memo itu. Dua komitmen lainnya adalah membangun “game hebat yang dicintai para pemain” serta memprioritaskan Xbox.
Baca juga: Microsoft Elevate kembali hadir, siap cetak 500.000 talenta AI
Baca juga: Microsoft hentikan dukungan untuk Windows 10, ini opsi alternatifnya
Spencer akan digantikan oleh Asha Sharma, mantan eksekutif Instacart dan Meta. Posisi terakhir Sharma adalah Presiden produk CoreAI di Microsoft. Laman Techcrunch, Sabtu (21/2) melaporkan, pergantian ini mengisyaratkan bahwa Microsoft kemungkinan akan semakin fokus menghadirkan kecerdasan artifisial (AI) dalam industri game.
Sebelumnya, Microsoft memang sudah bereksperimen menggabungkan AI dan gim. Beberapa contohnya adalah pengembangan asisten gim berbasis AI serta peluncuran level “Quake II” yang dibuat dengan AI, meski saat itu hasilnya masih bermasalah.
Baca juga: Microsoft tarik chatbot AI Copilot dari WhatsApp pada 15 Januari 2026
Dalam memo internal yang dipublikasikan oleh The Verge, Sharma menulis bahwa Microsoft “akan menciptakan model bisnis baru dan cara bermain yang baru”. Ia juga menyebut bahwa “monetisasi dan AI” akan terus berkembang dan memengaruhi masa depan industri ini.
Meski demikian, Sharma menegaskan perusahaan tidak akan mengejar efisiensi jangka pendek atau “membanjiri ekosistem dengan konten AI tanpa jiwa”.
“Game adalah dan akan selalu menjadi karya seni, dibuat oleh manusia, dan diciptakan dengan teknologi paling inovatif yang kami sediakan,” tambah Sharma.
Pernyataan tersebut merupakan satu dari tiga “komitmen” yang ia sampaikan dalam memo itu. Dua komitmen lainnya adalah membangun “game hebat yang dicintai para pemain” serta memprioritaskan Xbox.
Baca juga: Microsoft Elevate kembali hadir, siap cetak 500.000 talenta AI
Baca juga: Microsoft hentikan dukungan untuk Windows 10, ini opsi alternatifnya





