JENEWA, KOMPAS.com - Di tengah dinginnya udara Swiss, waktu berbuka puasa agaknya menjadi momen hangat bagi warga negara Indonesia yang tinggal di negara tersebut.
Kompas.com berkesempatan mengikuti secara langsung acara buka puasa bersama para warga negara Indonesia (WNI) berbuka puasa bersama di Perutusan Tetap Republik Indonesia (PTRI) Jenewa, Sabtu (21/2/2026).
Ratusan WNI di Swiss berkumpul merayakan berbuka puasa, bercengkrama dan saling bertegur sapa dalam acara yang diselenggarakan oleh PTRI, di Rue de Saint-Jean 16, Jenewa.
Pemandangan memukau Sungai Rhone menambah kenikmatan berbuka saat di PTRI, membawa udara dingin dari gletser Pegunungan Alpen.
Baca juga: Manfaat Jalan Kaki Setelah Sahur dan Buka Puasa bagi Kesehatan
Menu-menu berbuka puasa khas Indonesia seperti kolak, es buah, dan jajanan tradisional membuat suasana berbuka puasa di PTRI tak ubahnya seperti di tanah air sendiri, meski terentang jarak belasan ribu kilometer.
Suasana dingin 6 derajat Celcius tak membuat kehangatan dan keramah tamahan sesama WNI menjadi anyep.
Saat azan maghrib tiba, para WNI pun segera berbaris rapi dan membentuk saf untuk mendirikan shalat maghrib.
Setelah shalat maghrib, para WNI melanjutkan berbuka puasa dengan hidangan utama, yakni nasi, sate ayam, dan sate daging sapi.
Baca juga: Jangan Sembarangan Berhenti Saat Buka Puasa di Jalan
PTRI tak ubahnya menjadi sepotong mozaik Indonesia yang bisa mereka nikmati di Swiss.
Ini yang dirasakan Indrajid Nurmukti selama tiga tahun berkarier di Swiss.
Indrajid mengatakan, PTRI menjadi rumah keduanya di Jenewa, sekaligus menjadi tempat mengobati rasa rindu akan tanah air.
"Karena PTRI Jenewa ini betul-betul merupakan rumah kedua kami di Jenewa, tanah air kami di Jenewa, di Swiss, dan sangat-sangat hangat, terbuka, dan sering sekali mengadakan kegiatan (berkumpul berbuka puasa) seperti ini," ucapnya kepada Kompas.com.
Baca juga: Ekspor RI Ke Swiss Naik 225 Persen, Dipicu Harga Emas Melejit
Kehidupan muslim di Jenewa
Ketua Kelompok Pengajian Nurul Iman Jenewa, Pragusdiniyanto Soemantri mengatakan, acara buka puasa bersama ini sebagai bentuk keguyuban WNI di Jenewa.
Dari 300 WNI yang terdaftar di Jenewa, hampir setengahnya mengikuti acara tersebut.