Aroma mentega dan gula halus langsung menyergap begitu menuruni tangga menuju sentra kue kering di basement Pasar Jatinegara, Jakarta Timur. Di ruang bawah tanah itu, Ramadan baru saja dimulai, dan pasar belum sepenuhnya ramai. Tapi para pedagang sudah bersiap menyambut musim panen tahunan: Lebaran.
Deretan toples bening berisi nastar kuning mengilap, kastengel keemasan, hingga cookies berhias almond tersusun rapi di etalase. Cahaya lampu memantul di permukaan kue, membuatnya tampak menggoda.
Di beberapa toko, pembeli yang datang masih didominasi kalangan yang membeli dalam jumlah banyak untuk dijual kembali atau dijadikan hampers.
Narti (38), salah satu penjual di sentra tersebut, mengakui suasana awal puasa kali ini belum terlalu ramai.
“Kalau rame sih nggak, cuma sekarang yang belanja itu buat orang bikin-bikin hampers, buat orang berdagang lagi, buat usaha lagi, apa buat hadiah THR kantor-kantor," ujar Narti saat ditemui di tokonya, Minggu (22/2/2026).
Menurutnya, meski tren cookies modern terus bermunculan, kue klasik Lebaran tetap tak tergoyahkan. Ada tiga jenis yang hampir selalu jadi primadona.
“Kalau Lebaran kan nastar, kastengel, terus kue semprit itu khas banget kue semprit.”
Bahkan dua nama disebutnya tanpa ragu sebagai juara yang paling cepat habis.
“Pasti nastar sama kastengel, udah pasti.”
Di toko lain, pola yang sama terlihat. Di Toko Kue Sinar Jaya, Eni (26) menyebut kue klasik masih sulit digeser.
“Oh masih juara, sama putri salju.”
Namun, pembeli mulai melirik variasi yang lebih modern untuk kebutuhan hampers.
“Biasanya ada Cherry Almond, ada Cherry Keju, Nastar, Almond Special,” ujar Eni.
Ia menambahkan, bentuk dan topping yang unik menjadi daya tarik tersendiri.
"Cookies macam-macam ya bentuknya modelnya aneka ragam biasanya berbagai rasa, berbagai bentuk dan model semuanya ada,” kata Eni.
Tak hanya kue kering, tren camilan pun ikut berubah. Narti melihat lonjakan minat pada camilan pedas dalam beberapa tahun terakhir.
“Kayak cemilan-cemilan biasa yang bukan cookies tuh sekarang yang lagi booming kayak dari tahun-tahun saya basreng, seblak-seblak tuh, seblak-seblak banyak macemnya sekarang,” kata dia.
Meski bukan sajian utama di meja tamu saat Lebaran, camilan seperti ini kerap masuk ke dalam hampers atau jadi pelengkap suguhan.
Harga pun menjadi pertimbangan penting bagi pembeli. Narti menyebut harga kue di tokonya masih berada di kisaran awal Ramadan.
“Dari Rp. 180.000 sampai Rp. 200.000,” ucap Narti.
Namun menjelang hari raya, harga hampir pasti naik. "Tapi kalau h-10 hari kita di atas Rp. 200.000,” kata Narti.
Ia mengaku tak ingin menaikkan harga, tetapi kenaikan bahan baku membuatnya tak punya banyak pilihan.
Di Wins Snack, Nana (50) juga merasakan suasana yang masih relatif sepi di awal puasa.
“Awal-awal puasa sih belum, masih lengang ya, yang paling pembelinya ya penjual-penjual aja.”
Menurutnya, lonjakan pembeli biasanya baru terasa ketika tunjangan hari raya mulai cair.
“Sekitar dua minggu sebelum Lebaran baru, karena kan nunggu THR turun.”
Meski model cookies terus berkembang, suguhan inti Lebaran menurutnya tetap sama.
“Sajian di meja itu ya berupa nastar, kastengel, putri salju, itu kan mereka udah sama, yang itu-itu aja yang mereka cari.”
Menjelang sore, beberapa pembeli mulai berdatangan. Ada yang sekadar bertanya harga, mencatat nomor kontak, atau memesan untuk hampers. Suasana memang belum padat, tetapi denyutnya terasa.
Bagi para pedagang di basement Pasar Jatinegara, momen sesungguhnya masih menunggu waktu. Sekitar dua minggu lagi, ketika THR turun dan pasar penuh suara tawar-menawar, toples-toples bening itu akan kosong satu per satu—dan musim panen pun benar-benar dimulai.




