REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Menteri Luar Negeri Sugiono menegaskan prajurit TNI yang dikerahkan dalam misi perdamaian bersama Pasukan Stabilisasi Internasional (International Stabilization Force/ISF) di Gaza, Palestina, tidak akan melakukan operasi militer, termasuk pelucutan senjata.
Menlu mengatakan mandat pelaksanaan dari ISF adalah mengizinkan negara peserta ISF, dalam hal ini Indonesia yang juga menjadi Wakil Komandan ISF, memiliki kesempatan untuk menyampaikan batasan pengerahan pasukan atau national caveat.
Baca Juga
Bakom RI Ajak Masyarakat Awasi Program Makan Bergizi Gratis
Sahabat Misterius yang Dicari Umar, Disebut Nabi, Plus Dicintai Langit
"National caveat kita juga sudah kita sampaikan ke ISF bahwa kita tidak melakukan operasi militer. Kemudian kita tidak melakukan pelucutan senjata, kita tidak melakukan apa yang disebut demiliterisasi," kata Sugiono saat memberikan keterangan pers di Washington DC, Jumat (20/2) malam waktu setempat.
Ia menjelaskan pasukan Indonesia tidak melakukan pelucutan senjata dan kegiatan lainnya yang bersifat demiliterisasi di Gaza. Ribuan pasukan Indonesia yang dikerahkan secara bertahap itu hanya menjalankan tugas kemanusiaan, melindungi masyarakat sipil dan mempertahankan diri jika terdapat serangan.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto berjalan untuk melakukan pemeriksaan pasukan pada upacara Pelepasan Satgas TNI Kontingen Garuda UNIFIL 2025 di Lapangan Prima, Mabes TNI, Jakarta, Rabu (9/4/2025). - (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)
"Yang kita lakukan adalah menjaga masyarakat sipil di kedua belah pihak, kemudian terlibat dalam upaya-upaya kemanusiaan yang ada di sana dan tentu saja ada hal-hal yang sifatnya merupakan rule of engagement (aturan keterlibatan) yang bisa kita lakukan sebagai pasukan apabila kita diserang dalam rangka mempertahankan diri," kata Sugiono.
Ia juga mengatakan bahwa dalam struktur ISF, Amerika Serikat (AS) berperan sebagai force commander yang didukung oleh tiga deputy commander, salah satunya Indonesia di bidang operasi.
Penunjukan Indonesia sebagai Wakil Komandan ISF bidang Operasi itu dinilai Sugiono sebagai sebuah penghormatan dan penghargaan atas reputasi prajurit Indonesia dalam berbagai misi perdamaian di dunia.
"Karena pasukan Indonesia juga merupakan yang terbanyak di sana, maka deputy commander operasi ini juga merupakan sesuatu penghormatan dan penghargaan terhadap track record Indonesia. Kemudian, reputasi prajurit-prajurit Indonesia di berbagai medan penjagaan perdamaian," kata Sugiono.
View this post on Instagram
A post shared by Republika Online (@republikaonline)